MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
BENAR-BENAR TERPANCING


__ADS_3

Belum lagi para mahasiswa yang memiliki keterbatasan baik dalam hal fisik atau materi, meski mereka tidak tahu status Tira sebagai putri di Gracetian, tapi dari penampilan anggun Tira, dan juga tempat tinggalnya di salah satu apartemen mewah, membuat nyali mereka semakin menciut. dan semakin takut untuk mencoba menyatakan perasaannya kepada Tira.


Sehingga meskipun mereka memandang iri terhadap kebaranian Ernest, di sisi lain mereka juga menatap Ernest dengan kagum karena berani menyatakan perasaannya secara terbuka kepada Tira, di depan banyak orang, apalagi dengan cara yang begitu romantis.


"Kamu benar-benar membuatku bunga cintaku layu sebelum berkembang Ernest." Janetta yang tadi juga merasa kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ernest untuk Tira, ikut mengungkapkan perasaannya.


"Maaf Janetta...." Ernest berkata dengan suara pelan dan senyum di wajahnya, yang tentu saja membuat Janetta tidak bisa berkata-kata lagi.


Meskipun tadi jelas-jelas Ernest sudah menyatakan cintanya pada Tira, tapi tetap saja saat berhadapan dengan Erenst dan melihat senyum manisnya, Janetta tetap terpesona, dan menatap Ernest dengan tatapan kagum.


"Ayo pergi Janetta, jangan mengharapkan Ernest lagi." Salah seorang teman Janetta berkata sambil berlalu dan menyungingkan senyum geli melihat mata Janetta yang sedang menatap Ernest tanpa berkedip.


"Jangan lupa berkedip Janetta, dan jaga matamu agar tidak melompat keluar karena menatap Ernest." Satu lagi teman Janetta yang langsung menggodanya karena melihat Janetta mematung di hadapan Ernest.


"Aku pergi dulu Janetta, ada kelas yang harus aku hadiri lagi setelah ini." Ernest berkata sambil berjalan menjauh, agar yang lain tidak lagi menggodanya.


Akhirnya Janetta hanya bisa meringis begitu mendengar kata-kata Ernest yang langsung menjauh darinya.

__ADS_1


"Tira sungguh sangat beruntung. Tapi apakah sampai akhir dia akan tetap mendapatkan keberuntungannya?" Janetta bergumam pelan sambil melangkah pergi mengikuti teman-temannya yang lain keluar dari kelas itu.


# # # # # # #


"Cih, berlagak bersikap lemah lembut dan anggun, ternyata Tira adalah seorang gadis yang benar-benar licik." Angel berkata sambil mengepalkan tangannya di atas meja kantin dimana dia menghabiskan waktu makan siangnya dengan beberapa orang temannya, yang tadinya sedang heboh menceritakan apa yang sudah terjadi di kelas antara Ernest dan Tira.


"Tapi bukannya sebelum Ernest datang dia memang seorang gadis yang anggun dan lemah lembut? Karena itu juga yang membuat banyak mahasiswa terpesona padanya. Aku dengar dia juga ringan tangan, selalu mudah untuk menolong teman-temannya." Salah satu teman Angel yang makan siang dengannya menanggapi perkataan Angel sambil menyeruput minuman di depannya melalui sedotan.


Komentar temannya yang terkesan mengatakan hal yang baik-baik saja tentang Tira, membuat Angel mendengus kesal.


"Hah, itu hanya tampilan luar dia saja. Sebenarnya sejak awal aku sudah meminta bantuan padanya untuk menghubungkan aku dengan Ernest. Dan waktu itu dia menyanggupinya, sehingga membuat aku percaya aku memang memiliki kesempatan untuk mendekati Ernest.” Angel berusaha mengatakan hal yang diharapkannya bisa membuat pandangan teman-temannya terhadap Tira berubah.


“Masa sih Tira seperti itu? Mungkin kamu sudah salah paham pada Tira.” Tanggapan temannya yang lain membuat wajah Angel terlihat bertambah kesal.


Kenapa sih mereka tampaknya terlihat ikut mengidolakan Tira? Jelas-jelas aku yang lebih senior, lebih populer dibandingkan dengan Tira. Tapi kenapa semua orang sepertinya terhipnotis oleh sosok Tira? Sungguh menyebalkan.


Angel menggerutu dalam hati begitu melihat teman-temannya tampak tidak terpengaruh oleh kata-katanya tentang kejelekan Tira barusan.

__ADS_1


“Angel, aku rasa wajar sekali kalau Ernest sampai menyukai Tira dan memutuskan untuk mengejarnya. Bukankah mereka sama-sama berasal dari Gracetian dan sudah saling mengenal sebelumnya?” Teman Angel bertanya sambil mengingat waktu itu Ernest memang semapat mengatakan kalau dia dan Tira memang sudah saling mengenal karena sempat berada dalam satu sekolah yang sama.


“Betul, aku rasa sudah sejak dulu Ernest menyukai Tira, kalau tidak, mana mungkin dia berani melakukan hal seperti tadi pada gadis yang baru dikenalnya.” Yang lain memberikan pendapatnya sambil menepuk paha Angel pelan, berusaha menghibur Angel yang dari wajahnya terlihat begitu kesal, merasa dikhianati oleh Tira masalah Ernest.


Lihat saja nanti, aku pasti akan membalas Tira. Aku tidak akan tinggal diam melihat Tira yang dengan mudahnya sudah mempermainkan aku. Dia belum tahu siapa aku sebenarnya. Aku pastikan dia kan menyesal sudah berani memberikan harapan palsu padaku, dan merebut perhatian Ernest dariku!


Angel masih saja mengomel dalam hati dan sibuk memaki-maki Tira.


# # # # # # #


Eh, kenapa letak saxsofonku berubah posisi dari yang terakhir aku ingat ya?


Ernest langsung bertanya-tanya dalam hati ketika membuka loker mahasiswanya dan melihat saxsofonnya tergeletak dengan posisi yang berbeda dengan terakhir kalinya dia meletakkan itu di dalam loker, dan itu membuat rasa penasaran yang begitu besar dalam hati Ernest, sehingga dengan gerakan cepat, Ernest membuka tas berisi saxsofonnya, dan langsung mengecek kondisi saxsofon miliknya.


Astaga… apa yang terjadi dengan saxsofonku?


Begitu Ernest melihat salah satu bagian saxsofonnya yang tampat tidak normal Ernest langsung menahan nafasnya, dan mulai bisa menebak apa yang sebenarnya sudah terjadi pada saxsofonnya.

__ADS_1


Untung saja ini hanya saxsofon cadanganku, bukan saxsofon kesayanganku.


Ernest kembali berkata dalam hati sambil menyentuh bagian saxsofonnya yang tampak rusak.


__ADS_2