
Tira yang teringat bagaimana bisa kunci mobilnya berada di tangan Ernest, berkata dalam hati dan langsung meraih kunci dari tangan Ernest dengan cepat, namun gerakan Tira sedikit terhenti begitu dirasakan ujung jarinya yang menyentuh telapak tangan Ernest membuatnya terasa tersengat aliran listrik, dan hampir saja membuat kunci yang sudah diraihnya kembali terjatuh di atas telapak tangan Ernest yang masih terbuka di depannya.
Aist… memalukan sekali. Bagaimana aku bisa segugup ini dan terlihat ceroboh di depan Ernest? Dia benar-benar sudah membuat aku kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diriku dari rasa gugup dan kikuk.
Tira kembali berkata dalam hati dengan canggung.
“Ah, ya…. Terimakasih… Ernest….” Dengan kembali terbata Tira mengucapkan kata-katanya.
Entah kenapa, untung sekarang ini setiap kali bibirnya menyebutkan nama Ernest, hati Tira selalu berdebar-debar tanpa terkendali.
“Sama-sama.” Dengan jawaban singkst Ernest membalas ucapan terimakasih dari Tira yang tidak berani memandang ke arah Ernest.
“Sam… pai bertemu besok di kampus.” Sebelum pergi, Tira berkata kepada yang lain dan buru-buru masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat parkir itu.
Hah… untung saja setelah ini aku tidak harus bertemu dengan Ernest lagi. Kalau tidak, bisa-bisa aku pingsan karena semua tindakan romantisnya hari ini membuatku jantungan.
Tira berkata dalam hati sambil melajukan mobilnya ke arah apartemennya, untuk beristirahat, dan tidak berencana untuk keluar lagi sepanjang sisa hari ini.
Sekilas Tira melirik ke arah kaca spion miliknya, dimana tampak mobil Ernest yang sedang mengikutinya di belakang, membuat Tira tersenyum lega.
__ADS_1
Tira harus mengakui bahwa sejak kehadiran Ernest sebagai pengawal pribadinya, dia merasa lebih tenang dan aman, padahal sebelum-sebelumnya dia paling tidak suka hidup dalam bayang-bayang para pengawal yang selalu mengikutinya, dan membuatnya merasa tidak bebas.
# # # # # # #
“Tuan Ernest, nona Janetta sepertinya diam-diam melakukan pertemuan dengan nona Angel.” Laporan dari Edi melalui telepon membuat Ernest sedikit menahan nafasnyam, meskipun sikap dan gerakan Janetta beelum ada yang dinilai bisa dianggap sebagai orang yang mencurigakan sebagai peneror itu, tapi sejak awal bertemu Janetta, insting Ernest langsung membuatnya bersikap waspada terhadap Janetta, bahkan dibandingkan dengan Angel.
“Sekarang mereka terlihat memasuki sebuah café….”
“Kamu ikuti mereka sampai ke café itu, dan lihat apa yang akan dilakukan oleh mereka.” Ernest langsung memberikan perintah kepada Edi untuk ikut masuk ke dalam café itu dan terus mengamati pergerakan dari Janetta dan Angel.
“Baik Tuan Ernest.” Dengan sikap hormat, Edi langsung menjawab perintah dari Ernest, dan keluar dari mobil, setelah dia meraih topi yang ada di tasnya, dan memasangnya di atas kepalanya cukup dalam sehingga menutupi sebagian wajahnya bagian atas.
“Tuan Ernest, sepertinya mereka tidak berniat lama di sini, karena mereka hanya memesan minuman saja, bukan makanan.” Edi terus memberikan laporannya kepada Ernest.
“Tetap awasi mereka dengan baik…”
“Tuan Ernest, sepertinya barusan terlihat nona Angel menyodorkan sebuah amplop kepada nona Janetta.Setelah beberapa menit berlalu, Edi kembali memberikan laporan kepada Ernest.
“Amplop?” Ernest bertanya dengan keneing berkerut.
__ADS_1
“Benar, sebuah amplop. Sepertinya mereka akan segera pergi. Saya akan coba berpura-pura mendekat ke arah mereka dan mendengar sedikit apa yang sedang mereka bicarakan.” Edi berkata sambil bangkit berdiri, lebih menengggelamkan topi di kepalanya sehingga wajahnya semakin tertutup di balik topinya.
Janetta maupun Anna sendiri tampak bersiap-siap menggantungkan tasnya kembali ke bahunya, dan seperti kata Edi, bersiap untuk peregi meninggalkan café itu.
Setelah itu, dengan berpura-pura berjalan ke arah kursi kosong yang harus melewari posisi mereka duduk, Edi berjalan sambil menajamkan telinganya.
Ketika mulai mendekati meja yang digunakan oleh Anna dan Janetta, Edi sengaja memperlambat pergerakan kakinya.
“Terimakasih sudah berbisnis denganku.” Janetta berkata sambil tersenyum lebar sambil memasukkan amplop yang baru saja diterimanya dari Anna ke dalam tasnya.
“Jaga bubungan baikmu dengan Tira, agar kamu bisa menjadi informan yang berguna seperti sekarang ini. Aku tidak ingin mengeluarkan uang dengan sia-sia.” Perkataan Angel membuat Janetta langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Jangan khawatir Angel, aku akan selalu menjadi pendukung setiamu, dan berharap sampai akhir, kamu bisa mempertahankan posisimu sebagai idola kampus yang tidak tergantikan.” Kata-kata Janetta yang bagi Angele cukup untuk sedikit menghiburnya karena merasa kesal setelaha melihat bagaimana Tira sudah membuat kepopuleran Angel berkurang, langsung tersenyum.
“Lebih bagus lagi kalau kamu bisa mendekati Ernets dan membereiku info tentang kegiatannya sehari-hari.” Janetta sedikit termenung begitu mendengar permintaan Angel.
“Ah… aku akan berusaha sebisa mungkin. Hanya saja… meskipun terlihat ramah dan baik hati, Ernest bukan orang yang mudah untuk didekati. Kamu juga tahu sendiri kan?” Anna berkata dengan ragu.
“Aku akan berikan dua kali lipat bonus untuk setiap info penting tentang Errnest.” Mata Janetta langsung membulat sempurna begitu mendengar penawaran Angel yang terlihat mulai bertindak aneh dengan ingin mengeteahu jadwal Ernest, agar dia memiliki kesempatan untuk mendekati Ernest, dan yang pasti saat Tira tidak berada di dekat mereka.
__ADS_1