
“Kalau begitu aku akan menunggu sampai kamu siap mengatakan semuanya padaku.” Deanda yang sebenarnya masih merasa begitu penasaran, tapi dengan bijaksana dia segera membatalkan niatnya untuk lebih mengorek keterangan dari Tira, setelah dilihatnya wajah gadis cantik itu tampak tidak tenang, menunjukkan ketidaksiapan mentalnya untuk mengatakan hal yang sejujurnya, membuat Deanda tidak tega untuk memaksanya.
“Kak…” Bibir Tira mengeluarkan suara desisan pelan.
“Aku serius, semua orang punya privasinya sendiri, dan meski aku sebagai kakak iparmu, tidak berhak mencampuri itu sampai kamu sendiri yang meminta aku untuk turun tangan. Saat itu tiba, jangan ragu untuk datang padaku dan menceritakan semuanya padaku. Sebisa mungkin, aku akan selalu siap untuk membantumu menemukan jalan keluar.” Deanda berkata sambil tersenyum dan mengelus rambut Tira dengan lembut, menunjukkan bahwa dia begitu menyayangi Tira dan juga mendukung putri cantik itu.
Bagi Deanda tidak ada gunanya memaksa seseorang yang belum siap untuk mengatakan isi hatinya, dan dia hanya bisa berharap kalau Tira bisa mendapatkan jalan untuk menyelesaikan masalah hatinya yang entaah terkait dengan siapa.
“Terimakasih Kak….” Tira mengucapkan terimakasihnya dengan sikap tulus, merasa beruntung kakaknya Alvero yang selama ini dikenal dingin, keras kepala dan tidak terlalu perduli dengan orang-orang di sekitarnya, meskipun sebenarnya Alvero adalah orang yang baik, akhirnya dipertemukan dengan Deanda yang sedikit banyak sudah membuat Alvero berubah sedikit demi sedikit.
Jika dulu Alvero begitu sulit untuk menunjukkan keperdulian dan rasa sayangnya pada orang-orang di sekitarnya, sejak kehadiran Deanda di sampingnya, Alvero mulai terlihat perduli dan banyak membantu saudara-saudaranya yang mengalami kesulitan, seperti Tira yang waktu itu tidak diijinkan oleh kedua orangtuanya untuk kuliah di jurusan musik.
Jika bukan karena bantuan Alvero, Tira yakin kedua orangtuanya sampai saat ini tidak akan mengijinkannya untuk mengambil jurusan musik, dan mungkin dia harus menahan diri berkutat dengan semua buku-buku tentang managemen yang tidak dia sukai, dan pastinya akan membuatnya tersiksa jika dia harus hidup dengan cara seperti itu.
Sebenarnya siapa yang laki-laki yang disukai oleh Tira? Kenapa dia wajahnya terlihat susah karena itu? Teman kuliahnya? Atau salah satu pangeran Gracetian? Kalau iya itu adalah hal yang normal dan tidak perlu untuk disembunyikan. Atau mungkin laki-laki itu adalah…. Ernest?
__ADS_1
Deanda mencoba menebak-nebak dalam hatinya meskipun tidak berani mengungkapkan lewat bibirnya.
Kalau benar laki-laki itu adalah Ernest… sepertinya Tira akan mengalami banyak kesulitan untuk membuat cinta mereka bisa bersatu. Alu hanya bisa melihat semuanya terlebih dahulu sebelum ikut bertindak. Tapi yang terpenting… apa Ernest juga memiliki perasaan yang sama dengan Tira? Laki-laki satu itu, mana pernah terlihat menunjukkan emosinya secara mencolok seperti my Al yang tidak bisa menutupi emosinya? Dengan statusnya sebagai knight, apa dia berani jujur pada perasaannya sendiri? Sedangkan Ernest adaalah knight dengan dedikasi yang begitu tinggi terhadap kerajaan Gracetian. Dia bukan orang yang akan dengan mundah melanggar aturan yang ada.
Berbagai pertanyaan dalam hati Deanda membuat dia terdiam, sedang yang lain, ternyata juga seperti Deandas berkutat dengan pikiran apa yang sedang sebenarnya dialami Tira, dan siapa laki-laki yang sudah berhasil mencuri hati putri cantik itu.
“Eh, kenapa suasana jadi sedikit muram dan terlihat tegang? Ayo kita bahas hal menyenangkan lainnya saja.” Laurel yang melihat semuanya jadi terdiam dengan wajah seriusnya setelah pembicaraan antara Deanda dan Tira, akhirnya berkata sambil memberikan tanda lewat jenitkan jarinya kepada salah satu pelayan di kediaman mansion keluarga Shaw agar mendekat ke arah mereka.
“Tolong suguhkan lagi buah-buahan dan jus segar untuk kami.” Begitu pelayan itu mendekat, Laurel segera memberikan perintahnya.
“Baik Nyonya Shaw….” Dengan sikap hormat, pelayan itu segera menjawab perintah dari Laurel dan berlalu pergi untuk mengambil apa yang tadi diminta oleh Laurel.
“Amore mio, apa yang sedang kamu pikirkan sampai keningmu mengernyit seperti itu?” Ornado bertanya kepada Cladia sambil tangannya dengan lembut menyentuh kening Cladia dan memijatnya lembut agar kerutan disana menghilang dari wajah cantik istrinya.
Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya yang sebelumnya, Ornado langsung mengambil posisi duduk di samping Cladia, setelah dengan lembut dia meminta Cladia menggeser duduknya, agar dia bisa duduk dalam satu kursi santai yang diduduki Cladia.
__ADS_1
“Ad… masih ada banyak kursi kosong yang lain itu….” Laurel yang melihat tindakan Ornado berkata sambil menunjuk kursi lain yang ada di sana, dimana para pria yang lain masing-masing menempati kursi kosong itu, yang letaknya sedikit jauh dari kursi berjajar yang ditempati oleh para wanita yang tadi sedang asyik mengobrol sebelum kehadiran para pria itu.
“Apa enaknya duduk terpisah dari istriku?” Tanpa perduli teguran dari Laurel, Ornado berkata sambil meraih pinggang Cladia, sedikit menariknya agar tubuh mereka benar-benar menempel tanpa adanya jarak sama sekali, juga agar Cladia tidak jatuh dari tempat duduknya yang sebagian baru saja direbut oleh Ornado.
Dengan erat lengan kokoh Ornado terus melingkar di pinggang Cladia yang tampak tersenyum tipis sambil melirik ke arah Ornado yang selalu memperlakukannya dengan begitu mesra dan bahkan terkesan begitu over protektif.
Jawaban Ornado dengan sikap tidak perdulinya hanya bisa membuat yang lain menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum geli di bibir mereka.
“Apa aku terlalu lama meninggalkanmu sendirian?” Dengan suara lembut Ornado bertanya kepada Cladia sambil tangannya yang melingkar di pinggang Cladia mengelus lembut perut berisi calon bayi mereka itu.
“Disini begitu banyak orang, bagaimana bisa kamu bilang kamu meninggalkanku sendirian?” Cladia berkata sambil menepuk pelan paha Ornado yang duduk dengan sikap bersandar dengan santai, sebuah sentuhan yang membuat hati Ornado begitu bahagia mengingat bagaimana dulunya Cladia begitu sulitnya untuk dia dekati dan begitu menghindari sentuhan fisik dengannya.
“Aku tahu, tapi mereka kan bukan aku?” Perkataan Ornado membuat reflek tangan Laurel mencubit lengan Ornado.
“Kamu ini....” Dengan sikap gemas Laurel berkata sambil melepaskan cubitannya yang sempat membuat Ornado sedikit meringis, berpura-pura kesakitan karena cubitan Laurel, sengaja tidak menghindar meskipun tahu Laurel mencubit lengannya dengan cukup keras.
__ADS_1
“Aduh Dave… istrimu benar-benar galak ya? Apa karena pawangnya tidak berada didekatnya?” Teriakan Ornado pada Dave yang duduk cukup jauh dari Laurel membuat yang lain langsung tertawa kecil, termasuk Dave yang langsung menoleh, memandang ke arah Laurel dengan tatapan lembut oleh mata birunya.
‘”Ad….!” Teriakan Ornado pada Dave membuat Laurel terpekik pelan dan berencana menggerakkan tangannnya kembali untuk mencubit lengan Ornado, tapi sayangnya kali ini Ornado langsung menghindar dengan cepat sambil tertawa kecil dengan sikap mengejek Laurel.