
“Jangan meminta maaf padaku. Aku senang kamu dan Erich kembali dengan selamat. Ke depannya, kalian berdua juga harus selalu bisa kembali dengan selamat dan membawa hasil terbaik saat kalian mendapatkan misi atau tugas dari kak Alvero. Kalian tahu sebagai pengawal pribadi kak Alvero, yang merupakan seorang raja Gracetian yang hebat, kalian juga harus bisa bersikap waspada di setiap waktu dan kesempatan. Jangan pernah lengah apapun yang terjadi. Meskipun kak Alvero seorang raja yang hebat dan sudah membuat Gracetian begitu maju, tapi kamu tahu bahwa tidak semua orang menyukai kak Alvero. Ada saja orang yang dengan alasan tidak masuk akal, ingin mencelakakan kak Alvero dan itu bisa membuat kalian berdua dalam…..”
“Cittt…” Sebuah suara rem tiba-tiba terdengar dari mobil yang dikemudikan oleh Ernest itu dan memaksa Tira menghentikan bicaranya, dan dengan wajah kaget langsung memandang Ernest yang tiba-tiba saja meminggirkan mobil yang dibawanya dan menghentikannya di tengah jalan.
“Mmmpphh….” Belum lagi hilang rasa kaget dari Tira, dengan gerakan sangat cepat, Ernest melepaskan sabuk pengaman yang dikenakannya, mendekatkan tubuhnya ke arah Tira, dan langsung membungkam bibir Tira yang sedikit terbuka karena kaget dengan sebuah ciuman.
Meskipun awalnya mata Tira melotot kaget karena ciuman Ernest yang begitu tiba-tiba, akan tetapi sedetik kemudian, Tira justru memejamkan matanya, menikmati kelembutan bibir Ernest, dan merasa bersyukur bahwa laki-laki yang dicintainya itu, benar-benar ada di dekatnya dengan keadaan sehat dan segar bugar.
Bisa merasakan bagaimana hangat dan manisnya bibir Ernest saat ini, membuat dada Tira berdetak kencang, dipenuhi dengan rasa syukur dan bahagia yang tidak terkira, setelah semalaman dia benar-benar tidak bsia tidur karena begitu khawatir dengan keselamatan Ernest.
Dengan gerakan pelan, akhirnya kedua tangan Tira justru bergerak melingkar ke leher Ernest, memeluknya dengan erat, sehingga bibir mereka semakin menempel dengan begitu erat.
Ernest yang awalnya merasa gemas dengan tindakan Tira yang terus berkata-kata tanpa henti, sengaja membungkam bibir indah itu dengan bibirnya, agar menghentikan bicaranya.
Akan tetapi ciuman itu jadi meningkat menjadi ciuman panas saat dalam hatinya, Ernest diliputi dengan rasa bahagia dan cinta yang menggelora, karena semakin sadar bahwa gadis di dalam pelukannya saat ini, ternyata benar-benar mencintainya.
Dari setiap kata-kata yang menunjukkan rasa khawatirnya tadi, Ernest bisa melihat dengan jelas bagaimana karena rasa cinta Tira yang begitu dalam kepadanya, membuat Tira jadi terus berkata-kata tanpa henti seperti cerobong asap kereta yang terus mengepulkan asap tanpa terputus.
__ADS_1
Dari sekedar sebuah ciuman sekilas, bukan saja bibir, tapi lidah Ernest mulai bergerak, menjelajahi rongga dalam mulut Tira, mencari lidah Tira dan membelitnya dengan rakus, menunjukkan bagaimana rasa rindu dan cinta pada Tira sedang begitu menguasai Ernest.
Setelah beberapa menit tenggelam dalam indah dan manisnya ciuman mereka, dengan gerakan pelan dan terlihat enggan, Ernest melepaskan bibirnya dari bibir Tira, yang mau tidak mau terlihat sedikit bengkak karena ciuman Ernest yang cukup lama dan mendominasi.
Tira hanya bisa tersenyum dengan wajah malu-malu begitu menyadari bahwa baru saja, Ernest menunjukkan jati dirinya sebagai laki-laki, yang biasanya tampak ramah dan begitu sopan padanya.
“I love you Ernest…” Dengan gerakan cepat, tiba-tiab Tira kembali mengecup bibir Ernest setelah mengucapkan kata-kata cintanya, membuat Ernest hampir saja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak lagi mencium bibir Tira dengan penuh gairah, kalau saja dia tidak ingat bahwa saat ini, mereka harus kembali melanjutkan perjalanan mereka ke kampus.
“I love You too Tira….” Ernest berkata lembut dengan ujung ibu jari tangannya menyentuh lembut bibir Tira yang tampak bengkak akibat perbuatannya.
“Sebaiknya kamu tempelkan botol air mineral dingin ini ke bibirmu untuk mengurangi bengkaknya….” Ernest berkata sambil menyodorkan botol kaca berisi air mineral dengan suhu dingin karena tadi Ernest sengaja mengambilnya dari kulkas sebelum pergi ke tempat parkir.
“Eh?” Tira mengambil botol air mineral itu dengan wajah terlihat heran, karena tidak menyangka kalau Ernest membawa minuman dingin itu.
“Tuan Ernest…. Apa kamu….” Tira menghentikan kata-katanya sambil menempelkan botol itu ke bibirnya, membuat Ernest jadi menoleh ke arahnya dengan wajah penasaran tentang apa yang ingin dikatakan Tira padanya barusan, apalagi Tira mengawali kata-katanya dengan menyebutkan kata “Tuan Ernest” kepadanya.
Sedangkan Tira, dengan senyum dan wajahnya yang sedikit memerah, menatap ke arah Ernest sebelum melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
“Tuan Ernest, apa kamu dengan sengaja membawa botol berisi air dingin ini karena memang sudah merencanakan apa yang baru saja kamu lakukan padaku barusan?” Pertanyaan Tira sontak membuat Ernest hampir tersedak oleh ludahnya sendiri, dan kakinya hampir menginjak rem mendadak.
“Putr… Tira… darimana pikiran aneh seperti itu tiba-tiba melintas di pikiranmu?” Ernest berkata sambil tersenyum, berusaha melajukan mobilnya kembali dengan sikap tenang.
“Ah, aku hanya….”
“Tapi aku tidak keberatan kamu berpikir seperti itu. Atau mungkin, kita perlu mengulangnya agar apa yang kamu pikirkan itu bisa benar-benar aku wujudkan? Karena yang tadi itu benar-benar tidak ada dalam rencanaku hari ini. Lagipula sepertinya ciuman tadi masih terasa sangat kurang untukku.” Tanpa disangka-sangka oleh Tira, ternyata Ernest justru memotong perkataan Tira dan mengucapkan kata-kata untuk menggoda Tira, yang wajahnya langsung merah padam tanpa bisa membalas kata-kata Ernest.
“Bagaimana? Apa perlu aku kembali meminggirkan mobil ini, menghentikannya lagi agar kitab isa mengulangnya? Jika sebotol minuman dingin itu nanti masih kurang, dengan senang hati aku akan membelikannya lagi untukmu. Sama dengan senang hati jika aku diijinkan untuk mengulang ciuman manis kita tadi.” Kali ini Ernest mengucapkan kata-katanya dengan senyum geli, membuat mata Tira sedikit membeliak.
Melihat itu Ernest langsung tertawa geli sambil tangannya terulur untuk mengacak pelan rambut Tira dengan sikap gemas.
“Tenang saja Tira, kali ini aku benar-benar harus berhenti… karena kalau tidak… aku akan kesulitan untuk menahan diriku agar tidak melakukan lebih dari itu, karena aku juga laki-laki normal, tapi sayangnya kita belum menikah. Jadi, jangan menggodaku dengan tatapan dan bibir manismu untuk saat ini.” Ernest berkata sambil menghindari dirinya untuk tidak kembali menatap wajah cantik Tira yang bisa benar-benar membuatnya lupa diri jika dia tidak menenangkan jiwa laki-lakinya yang tadi sempat bangkit dari tidurnya.
Tidak aku sangka… ternyata… Ernest bisa juga bercanda dan menggodaku seperti itu. Kamu benar-benar kekasih yang sikapnya manis sekali.... Ah… kamu benar-benar membuatku semakin jatuh cinta padamu Ernest….
Tira berkata dalam hati, sambil tangannya tetap menempelkan botol berisi air yang terasa dingin ke bibirnya, berusaha keras menenangkan detakan jantungnya yang berdebar kencang di dalam sana, dengan bibir yang terus tersenyum-senyum sendiri karena kata-kata Ernest yang terus terngiang di pikirannya.
__ADS_1