
“Tenang saja Tira…. Apa kamu tahu? Bayiku ini benar-benar seperti papanya, dia kuat dan tidak akan mudah dikalahkan oleh situasi dan kondisi di sekitarnya. Dia bukan anak manja dan lemah. Dia akan menjadi anak yang hebat seperti papanya.” Deanda berkata sambil melirik ke arah Alvero yang menahan senyum bangganya begitu mendengar bagaimana secara tidak langsung Deanda sedang memujinya di depan Tira.
Alvero yang selama ini dikenal sebagai lelaki yang selalu bersikap dingin pada orang lain, jika sudah berhubungan dengan Deanda, dia bisa menjadi orang yang total berbeda dari yang dikenal oleh orang lain.
Sikap hangat, lembut, manja, posesif, perhatian, cinta yang begitu besar dan menggebu-gebu hanya akan ditunjukkan Alvero kepada Deanda seorang saja, meskipun sejak kehadiran Deanda di sisinya, sifat perhatian Alvero kepada orang-orang di dekatnya terus berkembang, dan membuat banyak orang semakin menyayangi dan menyanjungnya.
“Tapi Kak….”
“Tenang saja, kamu tahu kalau aku benar-benar sehat. Bayi yang ada dalam perutku, benar-benar hebat dan kuat, karena ayahnya adalah seorang raja terbaik dalam sejarah Gracetian, dan dia sendiri adalah calon raja Gracetian selanjutnya.” Perkataan Deanda membuat Tira jadi tertawa kecil, sedang Alvero langsung berdehem dengan wajah bangganya mendengar pujian Deanda tentang dirinya dan bayi dalam perut Deanda yang pastinya merupakan hasil karya hebatnya bersama Deanda dengan penuh cinta.
“Kamu ikut saja bersama kami, menginap beberapa hari di mansion keluarga Dave. Bukannya kamu bilang kamu ingin bertemu dengan Laurel dan Cladia? Aku dengar Elenora juga ikut hadir. Dia kan cukup dekat denganmu juga kan?” Deanda terus merayu Tira agar mau ikut bersamanya menginap di mansion milik keluarga besar Dave karena dia sendiri membanyangkan betapa menyenangkannya jika mereka semua bisa berkumpul dan saling bertukar cerita.
“Kalau begitu aku ikut saja kata-kata Kakak.” Tira akhirnya berkata sambil melangkah ke lemari pakaiannya, mengambil koper kecil miliknya untuk dia bawa ke mansion dan menginap di sana.
__ADS_1
“Kami sudah berada di tempat parkir dan sedang berajalan menuju lift. Sebentar lagi kami akan sampai di apartemenmu.” Kata-kata Deanda membuat Tira menghentikan kegiatannya dan berjalan keluar dari kamarnya, agar dia bisa membukakan pintu apartemennya.
“Tunggu sebentar Kak. Aku akan keluar dari kamarku dan membukakan pintu apartemenku.” Tira berkata dengan senyum lebar di bibirnya tanpa berniat menutup panggilan teleponnya dengan Deanda.
Dengan sikap bersemangat, Tira berjalan keluar dari kamarnya, dan langsung menuju pintu apartemennya.
Tanpa menunggu ketukan pintu dari para tamunya, Tira segera membuka pintu apartemennya, dimana Deanda ternyata sudah berdiri di depan pintu sambil merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum lebar setelah mematikan panggilan teleponnya dengan Tira.
“Kak Deanda… aku senang sekali bisa bertemu denganmu secepat ini.” Tira berkata dengan nada sedikit terpekik dan langsung memeluk Deanda dengan erat, sampai dia sadar ada yang mengganjal diantara tubuhnya dan Deanda.
“Apa kabar keponakanku tersayang?” Tira berkata sambil membungkukkan tubuhnya agar bisa mencium perut Deanda yang langsung membuat Alvero sedikit membeliakkan matanya.
“Tira… apa kamu ini akan terus bersikap seolah-olah hanya ada kakakmu Deanda di sini? Apa kami semua yang lain tidak terlihat oleh matamu?” Pertanyaan Alvero dengan nada cemburunya membuat Deanda langsung menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum manis ke arah raja muda yang tampan dan sedang memberengut itu.
__ADS_1
Yang mulia benar-benar siapa saja dan apa saja bisa membuatnya cemburu seperti itu. Suamiku ini sungguh menggemaskan, membuatku semakin mencintainya.
Deanda berkata dalam hati sambil dengan gerakan cepat menggamit lengan Alvero dan menempelkan tubuhnya pada tubuh Alvero.
“My Al, kenapa harus seperti itu kepada Tira? Kalau mau masuk ya masuk saja… Tira kan bukan orang lain bagi kita.” Deanda berkata sambil menarik lengan Alvero untuk masuk sebelum suaminya itu membuat keributan yang bisa mengundang para tetangga keluar dari apartemennya dan menjadikan mereka tontonan gratis.
Tira sendiri langsung tertawa melihat bagaimana di dekat Deanda, sikap dingin dan berwibawa Alvero bisa berubah 180 derajat, menunjukkan bagaimana besarnya cinta Alvero pada Deanda, namun senyum Tira langsung menghilang begitu melihat sosok Erich yang tadinya berdiri tepat di belakang Alvero.
Kemiripan antara Ernest dan Erich yang di atas 95 persen itu mau tidak mau membuat hati Tira bergetar, karena kembali teringat bagaimana beberapa waktu yang lalu bibir mereka sempat bersentuhan dan bagaimana Tira yang begitu ingin agar Ernest mengakui isi hatinya, di depannya secara langsung.
Erich bersama Rock maupun Alea, dan beberapa orang yang ikut datang mengawal Alvero dan Deanda tampak mengikuti langkah Alvero dan Deanda masuk ke dalam apartemen Tira dengan mata memandang sekelilingnya, mencoba menemukan sosok Ernest, Edi ataupun Steven, meskipun tidak ada tanda-tanda kehadiran mereka bertiga di sana.
Sayangnya sikap Erich yang seperti dua mata koin dengan Ernest yang boleh dibilang tidak ada miripnya sama sekali, jika dibandingkan dengan wajah mereka yang begitu mirip, membuat Tira hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
“Ernest dan yang lain sedang ada di apartemen sebelah. Tadi mereka sudah sibuk membantuku membersihkan apartemen, jadi aku meminta mereka beristirahat sebentar sebentar sampai aku memanggil mereka jika membutuhkan bantuan mereka. Karena banyak pengawal istana di sini sekarang, sepertinya untuk sementara waktu, aku tidak membutuhkan Ernest dan yang lain.” Tira yang seolah bisa menebak apa yang sedang dicari Erich, langsung berkata tanpa melihat ke arah Erich, karena jujur saja, dia masih begitu terbayang dengan ciumannya bersama Ernest, sehingga sosok Erich yang begitu mirip dengan Ernest membuat Tira semakin sulit melupakan ciuman tadi.