
Tira yang menyadari Ernest masih berdiri di tempatnya tanpa bergeming langsung menoleh ke arah Ernest yang bahkan masih membiarkan pintu apartemennya terbuka lebar.
"Apa kamu masih menunggu seseorang Ernest?" Pertanyaan Tira membuat Ernest tersenyum dengan wajah terlihat canggung.
"Tidak Putri.... Bukan orang lain, hanya Edi yang sepertinya masih lama menunggu di bengkel." Dengan cepat Ernest berusaha mencari alasan yang masuk akal sebelum akhirnya dia menutup pintunya dan berjalan menyusul Tira masuk ke dalam apartemen.
"Selamat malam Tuan Putri." Steven langsung bangkit dari duduknya dan menyapa Tira begitu melihat sosok Tira yang masuk ke dalam apartemen.
"Selamat malam Steven." Tira menjawab sapaan dari Steven sambil tersenyum geli, apalagi dilihatnya tadi Steven cukup kaget ketika melihatnya, sehingga ketika buru-buru bangkit dari duduknya, Steven hampir saja menjatuhkan kursi yang tadi didudukinya.
Steven sendiri memang tidak menyangka kalau Tira akan dengan tiba-tiba datang ke apartemen yang ditinggalinya bersama Ernest, karena tadi memang Ernest tidak mengatakan apapun padanya.
Meskipun Steven merupakan seorang pria dengan kepribadian pendiam, tapi dia juga salah satu orang yang mengagumi Tira sebagai putri Gracetian yang cantik dan lemah lembut.
Seperti Ernest, Steven adalah banyak diantara para pengawal istana yang mengagumi sosok Tira yang dikenal bukan hanya cantik, tapi lemah lembut dan baik hati.
Meskipun rasa kagum yang ada di hati Steven, seperti rasa kagum Ernest kepada Deanda, bukan seperti rasa kagumnya Ernest pada Tira, yang didasari oleh karena sudah jatuh cinta pada putri cantik itu.
"Putri... apa ada sesuatu yang bisa kami bantu?" Dengan suara ragu dan sikap hormat Steven bertanya kepada Tira yang baginya terasa aneh akrena tiba-tiba saja muncul di apartemen tempat tinggal mereka, yang pastinya sedikit berantakan karena mereka bertiga yang tinggal di tempat itu semuanya adalah pria.
__ADS_1
Sebelum Tira menjawab pertanyaannya, dengan gerakan secepat yang dia bisa, Steven segera mengambil kantong plastik berisi bekas pembungkus makanan yang ada di dekat meja komputer dan buru-buru memegangnya dengan erat di belakang tubuhnya, sebelum dia mendapatkan kesempatan untuk membuangnya ke tempat sampah.
Tira yang melihat bagaimana gugup dan kikuknya Steven hanya bisa menahan senyum gelinya.
"Tidak Steven, aku hanya ingin ikut bersama kalian mengamati siapa yang mungkin meletakkan bunga di atas kap mobilku. Mungkin ada petunjuk dari rekaman itu untuk bisa menetapkan siapa peneror itu." Tira berkata sambil melirik ke arah layar komputer, dimana tadi Steven sudah mulai membuka rekaman cctv yang sudah berhasil dia dapatkan meskipun belum sempat memutar rekaman cctv tersebut karena menunggu Ernest.
"Ah?" Steven langsung bergumam pelan dengan wajah bingung begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Tira barusan.
Putri Tira ingin ikut melihat hasil rekaman cctv? Kenapa tidak menyerahkan masalah seperti ini kepada kami saja ya? Bagaimanapun putri selembut putri Tira rasanya tidak cocok terlibat dalam hal-hal seperti ini.
Dengan hati bertanya-tanya, Steven hanya bisa memberikan komentarnya dalam hati karena baginya sangat aneh, orang seperti Tira ikut melakukan hal seperti itu, seorang putri yang bagi Steven lebih cocok belajar merangkai bunga daripada melihat rekaman cctv dan ikut melakukan analisa.
Apalagi hampir seisi istana tahu bagaimana kemampuan beladiri permaisuri Gracetian yang dikabarkan sangat tinggi, dan hanya raja Alvero yang bisa mengalahkannya dengan telak.
Dan desas-desus tentang bagaimana dulunya Alvero harus bisa mengalahkan Deanda dalam hal beladiri agar bisa menikahinya sudah menjadi hal yang seringkali dibicarakan oleh para penghuni istana yang seringkali merasa penasaran dengan kehidupan mesra pasangan tertinggi Gracetian yang mereka kagumi dan hormati itu.
Tira yang dikenal lembut, tentu saja bagi Steven sangat tidak cocok jika harus terlibat dengan hal-hal yang berbau petualangan seperti mengamati cctv untuk mencari jejal peneror.
"Putri Tira mungkin lebih mengenal orang-orang yang ada di rekaman cctv itu dibandingkan dengan kita yang baru di tempat ini. Jadi tidak ada salahnya kalau putri Tira ingin membantu kita mencari petunjuk." Ernest segera menjawab rasa heran dari Steven yang menarik nafas panjang begitu mendengar penjelasan yang masuk akal baginya itu.
__ADS_1
"Kalau begitu... silahkan duduk Putri...." Steven berkata sambil menarik salah satu kursi yang ada di depan meja dimana komputer yang sedang menunjukkan file berisi rekaman cctv.
Begitu Tira sudah duduk di tempatnya, mau tidak mau Ernest ikut menarik kursi yang ada tepat di samping Tira, dan bersiap membuka rekaman cctv itu, dengan Steven yang berdiri di sebelah kanan Ernest, sedang Tira duduk di sebelah kiri Ernest.
Semoga saja aku bisa tetap fokus dengan putri duduk di sampingku seperti ini.
Ernest berkata dalam hati sambil sedikit menahan nafasnya, karena posisi Tira yang duduk tepat di sampingnya kembali membuat hidungnya yang mancung bisa mencium bau harum yang keluar dari arah tubuh Tira, apalagi posisi ac yang sedang menyala berada di bagian kiri Tira, sehingga angin yang berhembus dari kipas ac langsung mengarah ke Ernest setelah mengenai tubuh Tira, membuat bau harum dari tubuh Tira semakin menguasai indra penciuman Ernest dan menyebabkan gejolak hebat dalam dada Ernest.
Ah putri... kenapa semakin lama semakin sulit untuk menghindari pesona putri? Kalau terus begini, aku tidak yakin tidak akan berakir dengan patah hati seperti yang pernah dikatakan oleh Erich. Apa sebaiknya aku benar-benar menuruti permintaan Erich untuk mundur dari tugas ini dan kembali ke Gracetian?
Ernest berkata dalam hati sambil menahan dirinya untuk tidak menoleh atau melirik ke arah Tira, yang saat ini menjadi godaan yang besar untuk dirinya.
Tapi kalau aku kembali ke Gracetian sebelum peneror itu ditemukan, bagaimana dengan putri Tira? Aku tidak akan bisa tidur dan terkena seerangan jantung karenea memikirkan kondisi putri yang terus berada dalam teror.
Ernest kembali berkata dalam hati dengan mata yang mencoba fokus pada layar komputer.
Aku harap bisa segera bisa menemukan peneror itu dan kembali ke Gracetian sebelum aku benear-benar tidak bisa mengendalikan hati dan diriku.
Sebuah tekad dalam hati Ernest dia ucapkan dengan tangan mulai memutar tombol play untuk menyaksikan rekaman cctv di depannya, dan begitu rekeaman itu berjalan, Ernest seegera meraih pena dan juga buku catatan untuk menecatat apapun yang bisa menjadi petunjuk baginya saat melihat rekaman itu.
__ADS_1