MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PROTES TIRA


__ADS_3

"Tira...." Suara panggilan Anna membangunkan Tira dari lamunannya.


"Eh, iya, bagaimana? Maaf aku tidak mendengarkanmu." Tira berkata sambil menoleh ke arah Anna.


"Apa kamu sebegitu senangnya bisa satu kelompok dengan Ernest, sampai melongo begitu?" Anna berkata sambil mengoda Tira yang hanya bisa tersenyum tipis, sambil memandang ke arah layar monitor itu kembali, seolah memastikan memang dia berada dalam satu kelompok yang sama.


"Dia yang seharusnya senang dan beruntung bisa satu kelompok denganku." Tira berbisik pelan sambil berlalu pergi, membuat Anna yang matanya sedikit terbeliak langsung berlari pergi menyusulnya.


"Eh, apa maksudmu? Kenapa jadi dia yang beruntung?" Anna bertanya dengan wajah terlihat begitu penasaran dan langsung menarik pergelangan tangan Tira setelah mereka berada cukup jauh dari kerumunan yang lain.


"Karena sebenarnya dia bukanlah orang musik seperti kita." Tira berkata sambil berjalan lebih menjauh agar apa yang akan dia bicarakan pada Anna tentang Ernest tidak didengar oleh yang lain.


# # # # # #


"Eh?"


"Yang benar?"


Beberapa gumaman pelan diucapkan Anna dengan wajah terlihat bingung dan tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari bibir Tira, yang baru saja menjelaskan siapa Ernest sebenarnya pada Anna.

__ADS_1


"Benar. Tolong dong, tutup bibirmu agar tidak mengeluarkan air liur karena melongo seperti itu." Tira berkata sambil terkikik geli, melihat wajah aneh Anna dengan bibir terbuka lebar karena melongo, setelah mendengar cerita Tira tentang Ernest.


"Mmm... ah...." Anna menutup bibirnya rapat-rapat setelah menelan air ludahnya.


"Pantas saja...." Anna menghentikan bicaranya sebentar sambil melirik ke arah kerumunan mahasiswa yang silih berganti membaca pengumuman di layar monitor berukuran besar itu.


"Apanya yang pantas saja?" Tira bertanya sambil mengikuti arah mata Anna memandang, yang kebetulan, Ernest baru saja datang mendekat ke arah layar monitor untuk melihat pengumuman juga.


Melihat sosok Ernest, Tira jadi ingat pembicaraan mereka kemarin malam, dimana Tira menyampaikan protesnya kepada Ernest, karena keberadaan Steven dan Edi yang sudah seperti penguntit baginya, dan membuatnya merasa tidak nyaman.


Tira berusaha mengatakan hal itu pada Ernest, karena baginya, sosok Steven dan Edi yang kaku membuatnya sulit untuk menyampaikan keinginannya, dan membuatnya lebih nyaman berbicara kepada Ernest.


“Tidak. Aku tidak mau mereka selalu ada di dekatku seperti itu. Kamu tahu aku tidak pernah terbiasa diawasi oleh pengawal pribadi selama ini.” Ernest sedikit menggaruk-garuk alisnya yang tidak gatal begitu mendengar keluhan Tira.


“Lalu bagaimana dengan tugas kami untuk selelu mengawal Putri dimanapun dan bagaimanapun keadaannya? Kondisi Putri masih dalam status membahayakan sampai peneror itu diketemukan.” Ernest mencoba memberikan pengertian pada Tira yang langsung menghela nafasnya.


“Tapi Ernest, aku benar-benar tidak bisa hidup dengan cara seperti ini. Apalagi kamu tahu cara Steven dan Edi mengawalku secara diam-diam sudah seperti penguntit yang ingin merampokku. Lama kelamaan orang juga pasti akan curiga kepada mereka kalau mereka terlihat begitu mencolok seperti itu.” Perkataan Tira membuat Ernest sedikit menahan nafasnya.


Meskipun dia merasa Steven dan Edi tidak bersalah karena memang itu yang mereka tahu bagaimana harus menjalankan tugas mereka dengan baik.

__ADS_1


“Bilang kepada mereka, selama di kampus, atau manapun asal ada kamu di dekatku, mereka tidak perlu mengawalku seperti itu.” Kata-kata Tira membuat Ernest menegernyitkan dahinya.


“Tapi saya tidak mungkin selama 24 jam bisa berada di dekat Putri, apalagi di luar lingkungan apartemen dan kampus.” Ernest berkata dengan nada suara tenang.


“Kalau begitu, usahakan agar kamu yang selalu berada di dekatku, sehingga aku tidak memerlukan kehadiran Steven dan Edi, karena sudah ada kamu. Intinya, aku hanya menganggap kamu yang menjadi pengawal pribadiku, bukan mereka, sehingga mereka tidak perlu terus menerus berada di dekatku. Biarkan mereka mengerjakan hal lain, tapi tolong menjauh saja dariku.” Kata-kata Tira berhasil membuat Ernest menundukkan kepalanya sedikit sambil menelan ludahnya, begitu mendengar kata-kata Tira.


Bukannya Ernest menolak dan keberatan dengan permintaan Tira, tapi semakin sering berada di dekat Tira, Ernest tahu hatinya akan semakin sulit untuk dia kendalikan.


Rasa suka dan kagumnya kepada Tira, semakin lama pasti akan semakin besar, sehingga ke depannya akan sulit untuk hati Ernest tidak semakin terikat pada sosok Tira, padahal Ernest tahu, posisinya sebagai pengawal pribadi Tira, sifatnya hanya sementara saja.


"Ernest… kamu dengar tidak sih perkataanku barusan?” Dengan suara pelan, Tira langsung bertanya kepada Ernest yang terlihat terdiam.


“Maaf… maaf Putri… saya mendengarnya.” Ernest segera menjawab Tira.


“Kalau begitu, kamu sampaikan kepada mereka berdua ya. Dan aturkan bagaimana agar mereka tidak terus mengikutiku seperti penguntit. Aku tahu kamu akan dengan mudah mengatur itu. Terimakasih ya Ernest.” Tira berkata sambil meninggalkan Ernest yang baru saja menganggukkan kepalanya begitu Tira mengakhiri kata-katanya.


Tira menahan nafasnya sebentar begitu ingatan tentang pembicaraannya dengan Ernest tadi malam berakhir dengan tadi pagi Steven dan Edi tidak lagi bertindak seperti penguntit padanya.


“Pantas saja dia terlihat begitu keren, ternyata dia merupakan seorang knight di negara Gracetian. Apa dia sudah menikah?” Tira langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar pertanyaan Anna.

__ADS_1


__ADS_2