MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
MENCARI JALAN KELUAR


__ADS_3

"Ist... tega sekali kamu padaku Tira. Kan kalau dipikir-pikir tidak ada salahnya dengan itu. Toh kami belum menikah, kami masih sebatas kekasih. Kalau sampai sudah menikah tapi aku masih melirik pria lain, itu yang tidak benar." Anna berusaha membela dirinya dengan tetap meringis, membuat Tira hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa aneh dengan prinsip yang dipegang oleh Anna.


"Kamu ini, bisa-bisanya berpikir sesantai itu. Menjalin hubungan kasih dengan seseorang, meskipun belum menikah adalah sebuah komitmen, karena bagiku menjalin hubungan kasih dengan seseorang tujuan ke depannya adalah untuk menikah, bukan untuk sekedar bersenang-senang." Perkataan serius dari Tira langsung membuat Anna menggaruk-garuk kepalanya dengan senyum tipis.


”Kamu memang gadis lembut dan baik hati dengan pemikiranmu yang sederhana. Semoga kamu bisa menemukan pria yang sepemikiran denganmu, karena untuk saat ini sudah sangat jarang pria dan wanita yang berpikiran kolot sepertimu. Banyak orang yang menganggap sebuah hubungan itu untuk mencoba menemukan yang terbaik...."


"Tidak ada salahnya dengan itu." Tira langsung memotong perkataan Anna.


"Aku sudah pernah bersikap kurang berhati-hati sebelumnya. Sebuah pengalaman tidak mengenakkan. Jadi, sebelum menemukan yang terbaik, sebelum kamu yakin tentang perasaan cinta diantara kalian berdua, jangan menjalin hubungan apapun dengan orang itu. Jangan karena ingin mencoba-coba, kamu dengan mudah menerima seorang pira sebagai kekasihmu, apalagi sampai melakukan hal-hal yang di luar batas norma." Tira melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum, sedang Anna hanya bisa menghela nafasnya begitu mendengar perkataan Tira.


Bagi Anna, dalam banyak hal dia memang sepemikiran dengan Tira, tapi untuk masalah hubungan percintaan, Anna memiliki prinsip yang jauh berbeda dengan Tira, dan setelah Anna mempelajari kehidupan orang-orang di Gracetian, Anna baru mengerti kalau negara besar dan maju, dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya yang tinggi, namun memiliki beberapa pemikiran dan aturan yang dianggap sedikit kolot oleh Anna yang merupakan warga Amerika, dan dibesarkan dalam lingkungan yang pemikirannya memang terlalu bebas.


Meskipun kadang Anna merasa aneh dengan cara berpikir dan perilaku Tira, tapi sedikit banyak dia kadang justru bersyukur karena berteman dengan Tira, membuatnya tidak berperilaku seperti kuda liar, yang selama ini dijalani oleh banyak gadis di sekitarnya.


"Meski aku menganggap aneh cara berpikirmu, tapi sebenarnya aku tahu tidak ada yang salah dengan itu, dan tidak ada salahnya aku mencoba berpikiran seperti orang saleh sepertimu." Anna berkata sambil mempercepat langkah-langkah kakinya mengikuti langkah-langkah lebar Tira yang ingin segera pulang, karena ingin menghubungi Alvero terkait masalah Ernest.

__ADS_1


# # # # # #


"Hallo." Meskipun suara yang didengar Tira bukan suara Alvero, setelah dia melakukan panggilan pada Alvero, tapi wajah Tira langsung terlihat cerah begitu mendengar suara merdu dari Deanda.


"Kak Deanda, senang mendengar suara Kakak." Deanda langsung tersenyum mendengar sapaan lembut Tira.


"Apa kabarmu Tira? Bagaimana dengan kuliahmu? Apa semua berjalan lancar? Apa Ernest sudah menemukan titik terang siap peneror itu?" Pertanyaan dari Deanda yang cukup banyak membuat Tira tertawa kecil, merasa bahagia melihat bagaimana perdulinya Deanda padanya.


"Kuliahku sangat lancar Kak Deanda, tapi sayangnya peneror itu belum jelas siapa pelakunya, mungkin karena beberapa waktu ini dia tidak melakukan teror seperti biasanya, sehingga Ernest belum bisa menemukan tanda-tanda yang bisa membantunya menemukan petunjuk baru." Jawaban Tira membuat Deanda menarik nafas cukup panjang.


"Terimakasih doanya Kak. Omong-omong, dimana kak Alvero? Kenapa Kak Deanda yang mengangkat telepon kak Alvero?" Pertanyaan Tira membaut Deanda melirik ke arah Alvero yang sedang serius berbicara dengan Evan, yang kebetulan memang sengaja bertemu dengan Alvero di gedung perusahaan Adalvino untuk membahas tentang rencana adanya sedikit perombakan dalam sistem keamanan militer Gracetian di wilayah laut.


"Kakakmu Alvero sedang ada pertemuan penting dengan Evan, masalah negara. Apa ada yang bisa aku bantu? Karena sepertinya pertemuan mereka berdua belum akan seegera berakhir." Deanda berkata dengan suara cukup pelan agar tidak mengganggu konsentrasi Evan dan Alvero yang memang sedang terlihat begitu serius saling bertukar pikiran.


“Ini tentang Ernest….”

__ADS_1


“Kenapa dengan Ernest? Apa ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi padanya?” Deanda langsung memikirkan hal-hal buruk tentang Ernest, bahakn mengingat bagaimana Ernest pernah hampir terbunuh saat bertempur melawan Eliana, membuat Deanda sedikit khawatir dengannya.


‘Tidak Kak. Tidak… bukan sesuatu yang buruk, tapi aku sedang bingung, karena Ernest masuk dalam kelompokku, yang bertugas menampilkan salah satu lagu dengan jenis instrumental….”


“Oh….” Deanda bergumam pelan mendengar perkataan Tira.


“Dia bukan dari latar belakang orang musik, sedangkan jurusanku benar-benar dipenuhi dengan orang yang memiliki impian dan keahlian yang berhubungan dengan musik. Penilaian grup band kelompokku cukup berpengaruh penting dalam penilaian pribadiku juga.” Kata-kata Tira membuat Deanda mengangguk-anggukkan kepalanya, mulai mengerti apa yang sedang dikhawatirkan oleh Tira saat ini.


“Karena itu aku ingin berbicara dengan kak Alvero, dan meminta pendapat serta petunjuknya…”


“Benar Tira, karena aku terus terang tidak bisa banyak membantumu kali ini.” Deanda berkata sambil menahan nafasnya sebentar.


“Sedang berbicara dengan siapa? Serius sekali sampai mengabaikanku.” Suara Alvero yang tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya, sambil berkata dengan suara lembut dalam posisi bibir yang hampir menempel di telinganya, membuat hembusan hangat nafasnya menyapu leher Deanda membuat wajah Deanda memerah seketika, dan langsung menoleh dengan dada yang berdebar.


Sudah beberapa bulan berjalan pernikahan mereka berdua, tapi bagi Deanda, keberadaan Alvero selalu saja membuatnya seperti orang yang seang mabuk, dengan detakan jantung yang selalu berirama lebih cepat dari biasanya, saat Alvero memperlakukannya dengan manis seperti yang barusan terjadi.

__ADS_1


Evan sendiri langsung tersenyum melihat bagaimana Alvero yang tidak pernah tahan jika lama berjauhan dengan Deanda, membuat Evan memilih untuk segera pergi meninggalkan ruang kerja Alvero tanpa berpamitan kepada Deanda, agar dia sendiri bisa segera bertemu dengan Alaya, yang baru saja memberitahunya bahwa dia sedang menunggu Evan untuk bisa menikmati makan siang bersamanya dan Danella.


__ADS_2