MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
TIDAK ADA REAKSI?


__ADS_3

Edi yang awalnya duduk bersama dengan Steven langsung ikut bangkit dari duduknya.


"Apa aku juga akan ikut bersama Steven, Tuan Ernest?" Pertanyaan Edi langsung dijawab dengan gelengen kepala yang cukup cepat dari Ernest, karena ingat bagaimana Tira menekankan padanya agar tidak membiarkan Edi ikut mengawalnya.


"Putri Tira ingin hanya Steven yang mengawalnya hari ini. Kita berdua akan tetap berada di apartemen ini. Jika terjadi sesuatu, kamu harus segera menghubungi kami Steven. Kamu hanya bertugas sendiri hari ini, jadi pastikan kamu lebih awas dan waspada dari biasanya." Ernest berkata sambil menepuk bahu Steven.


Dalam hatinya yang paling dalam, Ernest tahu dia begitu menginginkan posisi Steven saat ini, untuk bisa mengawal putri cantik yang seringkali mampir tanpa diundang di mimpi-mimpinya, dan kadang membuatnya gelisah sehingga sulit untuk kembali tidur, meski hari masih malam.


Hah, kenapa pikiranku jadi sangat kacau? Sepertinya ide bagus untuk aku tidak mengawal putri Tira hari ini, agar aku bisa punya waktu untuk mengendalikan diriku sendiri seebelum aku mempermalukan diriku sendiri.


Ernest berkata dalam hati sambil menepuk bahu Steven, sebelum dia pergi menjauh dengan wajah terlihat sedikit kusut, sehingga membuat Steven dan Edi saling berpandangan dengan wajah heran.


“Kenapa dengan Tuan Ernest? Apa da masalah?” begitu Ernest pergi dari pandangan mata mereka, masuk ke kamarnya, Edi segera bertanya kepada Steven.


“Tidak tahu, mungkin ada hubungannya dengan tugas kuliahnya.” Jawaban Steven membuat Edi mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


“Mungkin saja, karena tuan Ernest mendapatkan banyak tugas seetelah dia menjadi mahasiswa, dan sepertinya tugas-tugas itu tidak mudah karena tuan Ernest bukan orang yang memiliki basic musik. Kalau aku berada di posisi tuan Ernest, mungkin aku akan merasa tertekan sekali dan memilih untuk mundur dan kembali ke Gracetian.” Edi berkata dengan helaan nafasnya.


“Benat juga. Apa tuan Ernest tidak pernah menceritakan kesulitannya padamu? Mungkin kitab isa sedikit membantu?” Steven bertanya kepada Edi yang tampak melirik ke arah pintu kamar Ernest, memastikan kalau Ernest tidak keluar dari sana dan membuat mereka malu kalau sampai Ernest tahu mereka berdua sednag membicarakannya.


“Entahlah. Kamu tahu sendiri kalau Tuan Ernest, meskipun orang yang ramah dan baik hati, dia bukan orang yang suka membicarakan masalah yang dialaminya pada orang lain. Sekian tahun menjadi pengawal pribadi yang mulia Alvero, pasti membuatnya menjadi pribadi yang harus bisa menahan diri dan menyimpan rahasia dengan baik.” Edi langsung menanggapi perkataan Steven.


“Untuk saat ini, tuan Ernest dan tuan Erich memang orang yang memiliki kemampuan terbaik sebagai pengawal istana, tidak heran mereka bisa mendapatkan gelar knightnya dari yang mulia Alvero.” Steven berkata sambil meraih jaketnya yang ada di sandaran kursi yang tadi didudukinya, bersiap untuk menjalankan perintah Tira.


“Kalau memang ada kesempatan, kita mungkin harus memberanikan diri bertanya kepada tuan Ernest apa yang bis akita bantu, sehingga dia tidak merasa terbebani sendiri.” Perkataan Edi disambut dengan anggukan kepala dari Steven.


Selama ini, baik Ernest maupun Erich merupakan sosok teladan bagi mereka para pengawal istana, dimana prestasi dan sikap mereka dalam menjalankan tugas sebagai pengawal pribadi Alvero menjadi panutan bagi mereka semua, termasuk Edi dan Steven tentunya.


Sekian lama mengenal sosok Ernest dari jauh, dan akhirnya bisa bekerja sama dengannya untuk waktu yang lama, bahkan tinggal bersamanya membuat Edi begitu bersemangat, karena dia memiliki kesempatan emas untuk belajar banyak dari Ernest tentang banyak hal, terutama dalam hal strategi dan bagaimana mengatasi amsalah dalam berbagai situasi.


Hanya saja, sikap Ernest yang tampak sedang memiliki beban pikiran yang dia lihat barusan, membuat Edi merasa ikut merasa tidak tenang hatinya.

__ADS_1


“Apa ada masalah di Gracetian yang membuat tuan Ernest susah ya? Semoga tuan Ernest baik-baik saja.” Edi bergumam pelan sebelum akhirnya ikut pergi meninggalkan tempatnya tadi mengobrol dengan Steven.


# # # # # # # #


“Selamat pagi Put… maaf Nona.” Steven segera memperbaiki sebutannya untuk Tira begitu dia sadar di sini dia tidak boleh meneyebutkan Tira dengan sebutan putri.


“Selamat pagi Steven. Ayo berangkat sekarang.” Tira langsung menyambut sapaan Steven dengan hangat sambil masuk ke dalam mobil di bagian penumpang.


“Kita langsung kee rumah Anna untuk menjemputnya, alamatnya sesuai dengan yang sudah aku share padamu tadi.” Perkataan Tira langsung membuat tangan Steven bergerak untuk membuka layar handphonenya, dan mulai menjalankan GPS yang akan menuntunnya ke lokasi rumah Anna.


Tidak ada reaksi. Apa mungkin belum ada kejadian yang bisa membuat jantungku beraksi?


Tira berkata dalam hati sambil memegang dadanya yang tampaknya tetap tenang di dalam sana, meskipun saat ini dia hanya berdua saja dengan Steven di dalam mobil yang ditumpanginya.


Kemarin, saat Ernest mengantarnya untuk makan malam, hanya dengan melihat bagian belakang tubuh Ernest yang menyetir, sosok tegapnya, dan juga potongan rambutnya yang terlihat rapi dari belakang, sudah membuat ada debaran halus dalam hati Tira, tapi saat ini, berapa lamapun Tira memandang ke arah Steven, dia tidak merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dirinya, terutama di dadanya yang tetap saja tenang di dalam sana.

__ADS_1


__ADS_2