MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PEMBICARAAN MANIS


__ADS_3

“Sebentar lagi kita akan sampai di kampus. Apa kamu akan terus berdiam diri seperti itu? Apa ada sesuatu yang terus kamu pikirkan dan membuatmu tidak bisa memikirkannya?” Ernest yang melihat sejak dia memberikan botol dingin berisi air itu kepada Tira, gadis itu tampak sibuk menempelkannya di bibirnya sambil sesekali tampak tersenyum-senyum sendiri tanpa mengatakan apapun kepada Ernest, membuat Ernest bertanya dengan nada menggodanya.


Sedari tadi, waktu sudah cukup lama berjalan, Tira terus mengompres bibirnya, dengan wajah mengarah pada kaca pintu mobil yang ada di sampingnya, sengaja menghindar untuk menatap ke arah Ernest yang hingga saat ini sudah membuat hatinya bergejolak hebat karena ciuman maupun kata-kata godaannya tadi.


Dasar Ernest, bisa-bisanya menggodaku, padahal karena kata-katanya tadi membuatmu jadi canggung dan tidak bisa berkata-kata. Kamu pikir akan mudah bagiku melupakan ciumanmu yang begitu menggetarkan itu? Dan menurutmu apakah hal mudah untuk membuat pikiranku berhenti berkelana setelah kalimatmu yang terakhir tadi?


Tira berkata dalam hati sebelum akhirnya dia menoleh ke arah Ernest.


“Benar….” Jawaban Tira membuat dahi Ernest sedikit mengernyit meskipun bibirnya tetap menyunggingkan senyum tipisnya.


Kenapa dengan putri? Apa dia merasa tidak nyaman karena sebentar lagi akan bertemu dengan Luis? Kalau aku di posisinya, kalau aku jadi putri, aku juga pasti akan merasa takut dan tidak nyaman setelah aku tahu bahwa ternyata Luis adalah salah satu orang yang sudah menerorku seperti itu.


Ernest berkata dalam hati sambil melirik ke arah Tira, berusaha membagi konsentrasinya antara Tira dan jalanan di depannya.


“Apa ada hal buruk yang sedang kamu pikirkan dan membuatmu tidak nyaman?” Ernest langsung bertanya dan ingin membuat Tira mengerti bahwa dia tidak perlu khawatir dengan hal itu, karena ada dia di sampingnya.


“Bukan hal buruk, dan juga bukannya membuat tidak nyaman. Tapi seperti katamu tadi… ada sesuatu yang sedang aku pikirkan dengan serius.” Wajah Tira serius sambil mengucapkan kata-kata yang bagi Ernest membuatnya jadi mengkhawatirkan Tira, langsung membuat Ernest sedikit memperlambat laju kendaraan yang di kemudikan, agar dia bisa sedikit lebih fokus pada Tira.

__ADS_1


“Ada apa Tira? Jangan membuatku khawatir dengan kata-katamu barusan. Apa yang sedang membuat pikiranmu menjadi kacau?” Pertanyaan Ernest yang diucapkannya dengan sikap serius dan menunjukkan bahwa dia benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada Tira, membuat gadis itu menahan senyum gelinya karena merasa berhasil menggoda Ernest.


“Seorang bernama Ernest yang sudah membuat pikiranku kacau, karena dia membuat pikiranku terus mengingat bagaimana dia menyatakan cintanya, bagaimana dia mencium dan memelukku. Dia membuatku seperti orang gila karena pikiranku hanya dipenuhi dengan sosoknya saat ini… tidak bisa memikirkan hal lainnya.” Kata-kata Tira yang diucapkannya sambil menahan tawa gelinya, membuat Ernest langsung menarik nafasnya dalam-dalam.


Tangan Ernest yang sedang berada di kemudi mobil, tampak menggenggam erat kemudi itu, dengan geraham saling mengatup rapat, dan bibirnya yang menekuk ke dalam, karena dadanya yang terasa hampir meledak mendengar kata-kata Tira untuknya barusan.


Jika tidak dalam kondisi menyetir, rasanya ingin sekali Ernest memeluk tubuh Tira, dan dengan gemas akan menghujani wajah cantiknya dengan ciuman-ciuman mesra sebanyak yang bisa di berikan, bahkan ingin digelitiknya pinggang gadis itu sampai dia tertawa tanpa henti dan meminta ampun padanya.


Bagaimana bisa Ernest menahan gejolak dalam hatinya, setelah dia begitu khawatir dan berpikir kalau Tira sedang merasa ketakutan dan tidak nyaman karena sebentar lagi harus menghadapi Luis, ternyata Tira justru menggodanya dengan mengatakan kalau yang sedang dipikirkan Tira, adalah semua tindakan mesranya pada Tira.


Ernest berkata dalam hati, antara bahagia yang tak terkira, tapi juga merasa galau karena mau tidak mau dia harus segera memikirkan cara terbaik untuk menghadapi keluarga mereka yang pastinya akan menentang hubungan mereka berdua.


Selain Erich dan kedua orangtua Tira, Ernest juga harus bersiap untuk menghadapi kemungkinan bahwa Alvero juga akan menentangnya, meskipun untuk Deanda, Ernest tahu kalau permaisuri Gracetian itu, kemungkinan besar, pasti akan berpihak padanya.


Sejak awal Ernest mengenal Deanda, dia tahu bahwa Deanda adalah seorang perempuan baik hati yang hingga saat ini, tidak pernah memperlakukan orang berbeda hanya karena dari status sosial yang berbeda.


Bahkan Deanda paling benci jika ada orang yang bersikap sombong dan semena-mena kepada orang lain karena status kebangsawanan yang dia miliki, sehingga Ernest yakin kalau Deanda, tidak akan menentang hubungannya dengan Tira, walaupun dia akan tetap membiarkan keluarga Tira yang mengambil keputusan.

__ADS_1


Ernest yang sejak awal memang lebih sering berhubungan dengan Deanda ketika Alvero masih mengejar-ngejar Deanda dulu, memang menjadi akrab dengan kesayangan Alvero itu, dan mengenal karakter Deanda dengan baik, diabndingkan dengan Erich, yang dulunya pernah mencurigai Deanda hanya gadis miskin yang ingin memanfaatkan Alvero.


“Ernest… kenapa kamu jadi terdiam? Apa kamu keberatan aku memikirkan kekasihku yang tampan dan baik hati itu?” Suara bisikan Tira di telinganya yang terdengar lembut dan manis, membuat wajah Ernest yang berusaha fokus pada jalanan di depannya terlihat memerah.


Aduh… melihat wajah memerah Ernest, rasanya sungguh menggemaskan…. Aku tidak menyangka seorang knight hebat sepertinya, ternyata begitu polos dan tidak memiliki pengalaman tentang wanita sedikitpun.


Tira berkata dalam hati dengan bangga karena ternyata Ernest jelas terlihat begitu kikuk dan gugup karena tindakannya barusan, dan siapapun yang melihat itu pasti bisa menebak bagaimana perasaan Ernest terhadap Tira, dan besarnya ketertarikan Ernest pada Tira.


Tira memang tahu dengan jelas kalau selama ini Ernest belum pernah terlibat masalah asmara dengan gadis manapun, tapi Tira sungguh tidak menyangka laki-laki tampan seperti Ernest ternyata begitu polosnya.


Hanya dengan membisikkan kata-kata lembut di dekat telinganya, Tira sudah bisa melihat bagaimana merahnya telinga Ernest yang terus menjalar ke wajahnya, hingga membuat wajah Ernest dengan senyum tertahannya terlihat begitu menggemaskan bagi Tira, dan membuat Tira semakin yakin bahwa Ernest adalah laki-laki yang polos, dan belum mengenal banyak tentang wanita.


Melihat wajah tampanmu yang tampak sangat gugup itu, sungguh membuatku semakin jatuh cinta padamu. Aku mau menjadi yang pertama dalam segala hal sebagai gadismu, dan akupun akan selalu menjadikanmu yang pertama dalam hidupku.


Tira berkata dalam hati dengan pikiran yang semakin ingin menggoda Ernest.


“Ernest… dengan usiamu yang sekarang, bagaimana bisa kamu tetap bertahan sebagai bujangan tanpa pernah terlibat hubungan dengan gadis manapun? Bagaimana caramu tetap menjaga kesucianmu?” Kali ini, pertanyaan Tira membuat Ernest benar-benar tersedak oleh ludahnya sendiri, dan menjadi terbatuk-batuk dengan keras karena pertanyaan Tira yang begitu tidak disangka-sangkanya.

__ADS_1


__ADS_2