
Baru beberapa langkah Victor berjalan sambil menarik pergelangan tangan Tira, dengan nafas memburu karena kemarahannya, Victor sedikit menoleh ke belakang, melirik ke arah Ernest dengan tatapan mata yang terlihat begitu sinis.
“Dan untuk kamu! Lebih baik kamu segera pergi dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, dan melihat sosokmu berada di dekat putriku!” Victor berkata dengan nada tingginya, menunjukkan kemarahannya kepada Ernest.
Perintah dari Victor yang baru saja mengusirnya, membuat Ernest berjalan untuk benar-benar pergi dari tempat itu, membuat airmata Tira semakin deras.
Dari gerakan tubuh dan tangannya, Ernest bisa melihat bagaimana Tira yang berniat memberontak dan melepaskan cekalan tangan Victor dari pergelangan tangannya, tapi dengan cepat, Ernest segera menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, untuk mencegah Tira melakukan hal itu.
Jika Tira sampai melakukan itu, Ernest tahu bahwa Victor justru akan semakin marah, dan akan semakin membencinya.
Melihat itu, Tira hanya bisa membiarkan tangisnya semakin keras, diikuti dengan rasa sakit dalam dadanya yang semakin terasa melihat bagaimana Ernest yang berjalan menjauh darinya, menuju pintu keluar dari apartemennya.
Ada rasa takut yang begitu besar dalam hati Tira saat ini, sebuah perasaan takut bagaimana di masa depan, dia tidak bisa melihat Ernest lagi dalam hidupnya, jika sampai ayahnya meminta hukuman berat kepada Alvero, seperti mengasingkan Ernest, memenjarakannya, atau mengusirnya dari Gracetian.
Membayangkan itu, tangis Tira semakin menjadi, hingga terdengar suara nafasnya yang terputus-putus karena tangisnya itu mulai membuat dadanya terasa begitu sesak dan sedikit kehabisan nafas, karena hidungnya yang tersumbat.
Jika saja boleh jujur, bagi Ernest, rasa sakit akibat tamparan keras yang dia terima dari Victor tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakitnya saat melihat gadis yang begitu dicintainya itu menangis hingga seperti itu.
__ADS_1
Sebelumnya, sejak menjadi kekasih Tira, Ernest sudah bertekad untuk selalu membuat Tira menyungingkan senyum bahagia di wajahnya yang lembut, tapi saat ini, Ernest hanya bisa melihat bagaimana Tira yang menangis dengan wajah sedih dan putus asanya, tanpa bisa melakukan apapun.
Maaf putri… maafkan aku… sungguh… maafkan aku…
Meskipun hanya dalam hati, berkali-kali Ernest terus mengucapkan permintaan maafnya kepada Tira.
“Jangan biarkan Ernest mendekat ke tempat ini, apalagi memasuki apartemen ini kembali!” Victor berteriak keras begitu pintu terbuka dan Ernest melangkah keluar.
“Baik Pangeran Victor!” Meskipun para pengawal yang ada di depan sana tadi sempat mendengar sedikit kemarahan Victor kepada Ernest, meskipun tidak tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi, mereka segera dengan sikap siaga dan tegas menjawab perintah dari Victor.
Begitu sampai di apartemen yang dia tinggali, Ernest melangkahkan kakinya dengan les uke arah kamarnya sambil mengusap-usap pipinya yang masih terasa panas karena tamparan keras dari Victor tadi.
Sekilas Ernest menatap kea rah tembok kamar yang memisahkan kamarnya dengan kamar Tira.
Meskipun Ernest tahu saat ini, hanya ada sebuah dinding yang memisahkan antara dia dan Tira, dimana jarak mereka saat ini mungkin tidak lebih dari 10 meter, tapi rasanya bagi Ernest, Tira begitu jauh dari jangkauannya, dan Ernest tidak tahu sampai kapan dia tidak bisa lagi melihat sosok cantik yang selama bertahun-tahun ini, selalu dalam pengamatannya dan memenuhi seluruh rongga hatinya dengan perasaan jatuh cinta yang begitu besar pada Tira untuk waktu yang lama, sehingga sangat sulit bagi Ernest untuk begitu saja mengurangi pikirannya tentang Tira, apalagi menghapuskannya.
Dengan menghela nafas begitu panjang, Ernest berjalan ke arah lemari es yang ada di kamarnya setelah mengambil sapu tangannya, untuk dia gunakan sebagai pembungkus es batu yang akan digunakannya untuk mengompres memar di bagian pipi yang tadi sudah menerima tamparan keras dari Victor.
__ADS_1
(Memar dibentuk dari darah yang keluar dari pembuluh darah yang rusak dikarenakan oleh cedera atau benturan. Darah ini berkumpul di ruangan antara otot dan kulit dan terlihat berwarna kebiruan atau kehijauan dari luar. Hal ini biasanya tidak membahayakan walaupun kadang memang mengganggu secara estetika.
Pada umumnya kecepatan pemulihan memar bukan ditentukan dari lokasi, apakah itu diwajah ataukah di tangan, tapi lebih kepada derajat keparahan memar dan kemampuan tubuh untuk kembali menyerap darah tersebut. Tergantung dari keparahannya, memar bisa hilang dalam seminggu atau beberapa minggu, tapi biasanya tidak mencapai 3 bulan.
Merujuk Healthline, es batu dapat dimanfaatkan untuk membantu mempercepat penyembuhan luka memar dan menghilangkan memar secara alami. Caranya cukup dengan menempelkan es batu yang dibungkus handuk kecil ke area memar.
Kompres perlahan ke area memar tersebut selama 10 menit dan berikan jeda setidaknya 20 menit jika ingin melanjutkan terapi dingin ini. Es batu dapat membantu mengurangi aliran darah ke area cedera dan meminimalkan darah rembes ke area di sekitarnya).
# # # # # #
Tira sendiri hanya bisa menangis di kamarnya, begitu teringat tentang apa yang terjadi pada Ernest tadi.
Ada rasa bersalah yang timbul di hati Tira, karena perlakuan kasar Victor pada kekasih tercintanya itu, dan sayangnya, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Tira tentang hal itu.
Ava sebagai mama dari Tira, lebih banyak diam, dan duduk di samping Victor yang dari wajahnya, masih menunjukkan bagaimana emosinya dia saat ini, yang belum surut sedikitpun meskipun Ernest sudah tidak lagi terlihat di depan matanya.
Karena lelah akibat lama menangis, akhirnya Tira tertidur, sampai sebuah suara pintu kamar miliknya yang dibuka dengan perlahan-lahan, membuatnya terbangun dan menyipitkan matanya untuk melihat siapa yang masuk ke kamarnya.
__ADS_1