
“Ernest… apa kamu sedang melamun?” Tira bertanya begitu mendengar Ernest tidak menanggapi kata-katanya barusan.
“Ah, maaf Putri, saya sedang berjalan ke arah parkiran mobil dan bertemu dengan beberapa pengawal lainnya, sehingga saya harus menyapa mereka.” Ernest segera mencari alasan agar Tira tidak merasa curiga padanya kalau sebenarnya dia sedang merasa takut jika harus dalam waktu dekat langsung berpisah dari Tira.
Beberapa orang pengawal naik dari pihak orang-orang mansion keluarga Shaw, ataupun pihak Ornado dan juga istana Gracetian, memang tampak berjaga di daerah sekitar tempat parkir, karena disana memang ada sebuah tempat pos penjagaan yang diperuntukkan bagi mereka, meskipun alasan terbesar kenapa Ernest sempat terdiam beberapa saat tadi bukanlah mereka tapi hal lain.
“Oke kalau begitu… aku tutup teleponnya dulu ya. Sebentar lagi aku akan segera menyusulmu ke tempat parkir, aku hanya tinggal mengambil tas kuliah dan mengenakan sepatu ketsku.” Tira berkata dengan wajah penuh senyum bahagianya.
(Kita sering mendengar orang-orang menyebut sepatu kasual bersol karet dengan sebutan sneakers, namun orang juga mungkin pernah mendengar ada yang menyebutnya dengan sepatu kets.
Lalu dari mana asal-usul penyebutan sneakers dan sepatu kets ini hingga ada dua penyebutan?
Sebenarnya sepatu kets berasal dari sebuah merek sepatu bernama Keds. Merek sepatu ini pertama kali didirikan pada tahun 1916 di Amerika. Keds menawarkan sepatu kasual dengan bahan sol karet dan upper kanvas. Sepatu ini bisa digunakan untuk bersantai dan menimbulkan suara lebih senyap saat digunakan untuk berjalan. Berbeda dengan sepatu formal atau dress shoes yang menggunakan bahan sol kulit yang menimbulkan suara cukup keras saat digunakan untuk berjalan kaki.
Karena senyap saat digunakan untuk berjalan, sepatu dengan sol karet ini lalu disebut dengan sneakers. Diambil dari kata dalam bahasa Inggris, sneak, yang artinya menyelinap, kini sepatu yang memiliki sol karet disebut meluas dengan sebutan sneakers.
Orang-orang Indonesia sendiri memiliki kebiasaan menyebut suatu barang dari mereknya. Sehingga sepatu bersol karet yang seharusnya disebut sneakers pun pada zaman dulu disebut dengan sepatu kets, karena waktu itu sepatu bermerek Keds memang terkenal sampai ke Indonesia. Saat ini setelah informasi lebih mudah didapat, orang-orang sudah mulai beralih menyebut sepatu kets dengan sneakers.
Jika sepatu kets sebenarnya lebih spesifik dengan sepatu bermerek Keds, sneakers justru lebih luas mereknya. Mulai dari merek Keds itu sendiri yang juga termasuk sneakers, juga ada merek-merek terkenal lainnya seperti Adidas, Nike, Reebok, Converse, hingga New Balance. Serta merek-merek lokal seperti Ventela, Compass, hingga Geoff Max).
__ADS_1
“Baik Putri.” Ernest menjawab perkataan Tira dan membiarkan Tira menekan tombol end untuk mengakhiri panggilan mereka berdua.
Ernest langsung menghela nafasnya keras-keras begitu panggilan telepon dengan Tira terputus, sejenak diam mematung di tempatnya, setelah itu baru berjalan mendekat ke arah mobil milik Tira, masuk ke dalamnya untuk menyalakan mesinnya, lalu keluar kembali untuk menunggu kedatangan Tira di sana.
Hanya sebentar saja Ernest menunggu Tira datang, tidak lebih dari 3 menit saja, tapi bagi Ernest, ternyata itu adalah waktu yang cukup lama sehingga membuat dia terus menerus melirik jam di pergelangan tangannya, hingga lebih dari 20 kali tanpa dia sadari.
Begitu melihat sosok Tira yang berlarian kecil dari jauh, rasanya Ernest ingin berlari menyambutnya, dengan senyum lebar di wajahnya, jika perlu sambil merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk bisa memeluk tubuh gadis cantik kekasihnya itu.
Tapi sayangnya, untuk saat ini, Ernest harus puas hanya dengan memandangnya dari jauh dengan tetap berdiri diam di tempatnya seperti yang sednag dia lakukan sekarang ini.
Sedangkan Tira sendiri, tidaklah sebaik Ernest dalam hal menyembunyikan emosi dan perasaannya, sehingga begitu melihat sosok Ernest yang sedang menunggunya di samping mobil yang sudah menyala mesinnya, tanpa sadar, Tira langsung mempercepat langkah kakinya sehingga seperti orang berlari mengejar sesuatu yang begitu penting, agar bisa segera bertemu dan pergi ke kampus bersama dengan Ernest.
“Terimakasih Ernest….” Dengan senyum manis di bibirnya, Tira melangkah masuk ke dalam mobil, berharap Ernest segera membawanya keluar dari mansion, dan dia bisa mengambil posisi duduk tepat di sisi Ernest.
# # # # # #
“Ah… akhirnya….” Dengan senyum lebar yang menunjukkan kebahagiannya, Tira berteriak kecil, dengan tangan yang langsung memeluk lengan Ernest di posisi pengemudi.
Ernest yang melihat bagaimana manjanya Tira kepadanya hanya bisa tersenyum, dan menikmati detakan kencang dari jantungnya di dalam sana.
__ADS_1
Bagi Ernest, sosok Tira yang lembut dan baik hati selalu diperlihatkan Tira kepada siapapun, tapi sosok manja Tira seperti padanya saat ini, sungguh Ernest berharap, hanya kepadanya saja Tira menunjukkan sisi manjanya itu.
“Semalam benar-benar, aku tidak bisa tidur karena takut kamu kembali dengan keadaan terluka. Meskipun dari cara kak Ornado dan kak Alvero bercerita tentnag kemampuan hebat kalian berdua sebagai knight terbaik Gracetian saat ini, tentu saja aku tetap saja merasa khawatir, apalagi kamu beberapa waktu yang lalu baru saja sembuh dari lukamu ketika penyergapan di bunker Tavisha….” Tira berkata sambil menghela nafas panjang.
“Syukurlah kamu dan Erich kembali dengan selamat.” Tira kembali melanjutkan kata-katanya dengan kepala yang dia sandarkan ke bahu Ernest yang sedang menyetir dengan kecepatan rendah.
“Ternyata kamu sangat mengkhawatirkan aku ya? Terimaka….”
“Terimakasih kamu sudah menepati janjimu, untuk kembali padaku dengan keadaan baik-baik saja Ernest….” Tira dengan cepat tiba-tiba langsung memotong perkataan dari Ernest yang langsung menoleh ke arah kekasihnya itu.
Awalnya Ernest ingin sekali menggoda Tira, tapi melihat bagaimana Tira yang baru saja mengatakan luapan isi hatinya itu menggerakkan tangannya untuk menghapus airmata di sudut-sudut matanya, Ernest hanya bisa terdiam.
Suatu perasaan hangat langsung mengalir dalam hati Ernest yang merasa begitu terharu, karena saat ini dia memiliki seseorang yang begitu memperhatikannya, mengharapkan setiap kehadirannya dengan tulus, seseorang yang mengkhawatirkan kondisinya, dan menunggunya kembali dengan selamat.
Ada rasa haru, sekaligus bahagia dan cinta yang menggebu, yang bercampur aduk dalam hati Ernest saat ini.
Setelah puluhan tahun, sejak keluarganya lenyap semuanya, dan hanya tertinggal Erich, kehadiran Tira yang dicintai dan mencintainya, dengan semua sikap lemah lembut dan perhatiannya, membuat Ernest hampir tidak percaya bahwa dia bisa memiliki orang sebaik Tira di sisinya saat ini, sebagai kekasihnya.
“Maaf… sudah membuatmu khawatir….” Ucapan Ernest yang meski diucapkannya tanpa memandang ke arah Tira karena dia harus kembali fokus kepada jalanan di depannya, langsung membuat Tira menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, melepaskan pelukan tangannya pada lengan Ernest dan menjauhkan kepala dan tubuhnya dari tubuh Ernest, lalu menengadahkan kepalanya, dan menatap Ernest dengan tatapan begitu dalam, menunjukkan bagaimana Tira yang begitu mencintai laki-laki yang sedang duduk di sampingnya itu.
__ADS_1