
“Dari pesan yang dituliskan di balik lukisan yang tadi ditunjutkkan oleh Ernest dari hasil jepretan kameranya, sepertinya, memang Theo William adalah putra kandung Eliana, meskipun kita belum mendapatkan bukti dan tidak tahu tentang siapa ayah kandung dari Theo, karena untuk saat ini, sepertinya cerita dibalik eklahiran Theo masih menjadi misteri bagi kita.” Evan kembali berkata dengan mata yang berpindah ke arah tumpukan surat yang dibawa Ernest dari ruang kerja Theo.
Tumpukan surat-surat itu, sudah di urutkan oleh Ernest sesusai dnegan tanggal yang tertera di stempel yang ada di atas perangko surat itu.
Di bagian paling atas, adalah stempel dengan tanggal paling lama diantara surat yang lain, dan yang paling bawah adalah perangko dengan stempel paling baru secara tanggal yang tertera di stempel tersebut.
“Kita sudah menemukan sedikit petunjuk, pasti pentunjuk lainnya akan segera datang menyusul, karena tidak pernah ada kejahatan yang sempurna, meskipun hanya sedikit sekali, pasti akan meninggalkan jejaknya.” Ornado berkata sambil mengambil salah satu amplop di bagian paling atas, yang ada di hadapan Alvero.
“Boleh aku buka satu Alvero?” Pertanyaan Evan membuat Alvero sedikit menahan nafasnya.
“Buka saja Evan, tidak perlu ijin padaku tentang hal seperti itu. Aku memanggil kalian semua di tempat ini, itu artinya, aku mau kalian melihat dan menilai apapun yang tentang apa yang sudah ditemukan Erich dan Ernest dalam misinya kemarin. Bagiku kalian semua adalah orang yang paling aku percayai, dan aku anggap bisa membantuku untuk menyelesaikan masalah ini.” Alvero berkata sambil mendorong semua surat-surat itu ke arah Evan.
“Kalau begitu, kami tidak akan sungkan.” Ornado yang akhirnya menanggapi perkataan Alvero sambil tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Evan yang mengambil salah satu dari surat di posisi paling atas.
Hari ini aku tepat berusia 10 tahun, meskipun jujur saja, aku tidak yakin hari ini adalah benar-benar hari ulang tahunku, karena hari ini dianggap sebagai hari ulang tahunku, karena untuk pertama kalinya, di tanggal ini, 10 tahun yang lalu, pihak panti asuhan menemukan aku di depan pintu gerbang panti asuhan dalam sebuah keranjang, dengan secarik kertas bertuliskan:
__ADS_1
Tolong rawat dengan baik putraku, Theo William.
Dan untuk pertama kalinya, pada hari ini aku tahu bahwa ternyata aku masih memiliki seorang ibu. Ibu yang sudah melahirkanku, tapi entah kenapa dia meninggalkanku begitu saja di panti asuhan ini.
Hari ini, ada seorang wanita cantik dan anggun dengan pakaiannya yang terlihat mahal datang ke panti asuhan ini, dan bertemu dengan kepala panti asuhan yagn memperlakukannya dengan sangat hormat.
Meskipun aku tidak mengenal wanita itu, tapi begitu melihatnya, aku merasa sangat tertarik pada sosoknya, sehingga aku dengan diam-diam terus mengikutinya secara sembunyi-sembunyi.
Aku tidak sengaja mendengarkan kebenaran itu ketika kepala panti asuhan berbicara dengan wanita itu di kantornya.
Dari pembicaraan itu, wanita itu mengatakan bahwa ke depannya, dia akan bertanggungjawab dengan semua biaya yang dibutuhkan untukku, bahkan akan membayar semua biaya yang sudah dikeluarkan oleh pihak panti asuhan selama 10 tahun ini.
Saat itu aku dengar kalau kepala panti asuhan bertanya pada wanita itu, apa hubungannya denganku, apakah dia adalah ibu kandungku, tapi wanita itu hanya tertawa kecil dan menjawab kalau dia tidak memiliki hubungan apapun, dia hanya seseorang yang mengenal kedua orangtuaku.
Tapi saat kepala rumah sakit itu mengatakan bahwa wajah wanita itu sangat mirip denganku, wanita itu langsung diam dan tidak menjawabnya.
__ADS_1
Meskipun dia tidak menjawabnya, entah kenapa aku yakin dia memang ibu kandungku, dan aku bertekad akan membuktikan bahwa dia adalah ibu kandungku.
Nyonya, itu adalah yang aku alami hari ini, sehingga aku berusaha memberanikan diri untuk menuliskan surat ini kepada Anda setelah dengan diam-diam aku mencari info tentang alamat Anda di bagian buku tamu yang disimpan di kantor kepala panti asuhan.
Aku harap Nyonya mau menjawab pertanyaanku, apakah benar aku adalah putra kandungmu? Kalau iya, hanya satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu, kenapa kamu meninggalkan aku di pintu gerbang panti asuhan ini? Kenapa kamu begitu tidak menginginkanku?
Surat di atas sebuah kertas yang warna putihnya tampak terlihat kekuningan itu, menuliskan isi hati Theo ketika berusia 10 tahun.
Setelah membaca surat itu, Ornado langsung menyodorkannya ke arah Evan dan Alvero, juga Deanda yang mendekatkan kepalanya, sehingga bisa membaca surat dari Theo yang sepertinya ditujukan kepada Eliana.
“Meskipun dari jam tangan dan lukisan yang di bagian belakangnya menunjukkan tanda-tanda bahwa Theo memang anak dari Eliana, tapi belum ada bukti yang jelas, karena itu hanyalah perkiraan Theo sendiri, lebih baik kalian segera menyelidiki kebenaran itu. Jangan sampai ke depannya seorang Theo jika benar dia adalah anak kandung dari Eliana, menimbulkan masalah lagi bagi Gracetian.” Ornado berkata di sela-sela mereka sedang membaca surat itu dengan wajah serius.
“Theo sepertinya anak yang sangat polos, sehingga dia berpikir bahwa Eliana, akan memberikan info alamat aslinya kepada pihak panti asuhan.” Alvero langsung berkomentar setelah membaca surat yang dituliskan dengan tangan oleh seorang Theo yang saat itu masih berusia 10 tahun.
“Entah surat itu sampai ke Eliana atau tidak, tapi surat itu sepertinya terkirim ke alamat itu, tapi dikirimkan kembali kepada Theo. Erich, Ernest, sepertinya kalian berdua harus menyelidiki alamat tujuan dari surat ini, juga panti asuhan tempat Theo tinggal, dan mencari info tentang siapa kepala panti asuhan yang bertugas saat itu.” Evan menyambung kata-kata Alvero sambil melihat ke arah Ernest dan Erich.
__ADS_1
“Baik Duke Evan.” Baik Ernest maupun Erich langsung menjawab perintah dari Evan secara bersamaan dengan sikap hormat kepada Evan.