
Pertanyaan Tira membuat Ernest langsung menginjak rem mobil secara tiba-tiba, meski tidak sampai membuat pengedara yang ada di belakang mobil mereka terkejut dan ikut mengerem dalam-dalam sambil memaki Ernest, karena kebetulan jalanan hari ini cukup sepi.
Pertanyaan Tira, tentu saja membuat pikiran Ernest melayang ke mana-mana dengan ingatannya yang memang harus diakuinya, pernah berkelana terlalu jauh, dan membayangkan yang tidak-tidak bersama Tira saat dia begitu merindukan gadis itu, dan rasa cinta yang ada dalam dadanya sedang unjuk gigi, karena rasa cinta itu sudah terlalu lama bersemayam di hati Ernest.
Bahkan bukan hanya sekali, meski tidak menginginkannya, Ernest pernah memimpikan Tira yang berada dalam kungkungan kedua lengannya, dan mereka melakukan hal yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah.
Meskipun Ernest adalah laki-laki yang sopan dan begitu menjaga kehormatannya dan juga pasangannya sampai tiba saatnya mereka memiliki hak untuk melakukan hal seperti itu, tapi dia juga adalah seorang pria dewasa yang sangat normal, dimana kadang mimpi-mimpi seperti itu datang menghampirinya tanpa diundang, dan membuatnya harus segera mengganti celana bahkan sprei tempat tidurnya saat dia terbangun di pagi harinya.
Namun, selalu saja ada rasa puas dalam hati Ernest, karena tidak pernah sekalipun dia memimpikan hal seperti itu bersama gadis lain, tapi hanya sosok Tira yang muncul sebagai gadis yang dicintainya meski itu hanya dalam mimpinya.
“Ke… kenapa tiba-tiba bertanya hal pribadi seperti itu padaku?” Ernest dengan dada yang berdegup kencang, bertanya dengan berusaha menenangkan debaran jantungnya karena pertanyaan Tira memang sungguh pertanyaan yang sangat pribadi baginya, apalagi pertanyaan itu sungguh langsung mengingatkannya tentang mimpi yang baru saja dialaminya beberapa hari yang lalu, bahkan sebelum Tira benar-benar menjadi kekasihnya.
“Hanya ingin tahu saja bagaimana bisa pria dewasa sepertimu bisa mengendalikan dirimu dengan baik, dan tidak pernah terlibat dengan perempuan manapun, padahal kamu juga laki-laki tulen kan?” Tira berkata sambil mengulum senyumnya, tanpa menyadari kalau dada Ernest berdetak keras karena pertanyaan itu.
“Percayalah… kalau… aku menjawabnya sekarang… aku tidak yakin kamu bisa menerima… akibatnya.” Ernest berkata dengan sikap yang berusaha terlihat setenang mungkin, meskipun di dalam sana, dadanya terus berdebar-debar.
Tira langsung tertawa mendengar jawaban Ernest yang tampak sedikit terbata-bata karena mengucapkannya sambil berusaha menahan debaran di dadanyaa.
__ADS_1
“Lalu… kapan kamu akan memberikan jawaban yang tidak membuatku menerima akibat buruk karena menanyakan hal seperti itu?” Tira kembali menggoda Ernest sambil jari-jari lentiknya menyentuh wajah Ernest yang hampir saja kehabisan nafasnya karena sibuk menahan nafas ketika jari-jari lentik yang lembut itu menyentuh kulit wajahnya.
“Sebaiknya… setelah kita menikah saja… aku menjawab pertanyaan pribadi seperti itu. Ehem….” Ernest mengakhiri kata-katanya dengan sebuah deheman pelan.
“Begitukah? Kalau begitu… kamu harus ingat untuk menjawabnya ya, jangan coba-coba untuk melarikan diri, dan berpura-pura lupa atau aku tidak akan memaafkanmu, kalau sampai aku mendengar… ternyata kamu pernah melakukan hal yang aneh-aneh dengan perempuan lain di belakangku.” Tira berkata sambil mencubit kecil pipi Ernest.
“Mana berani aku mengkhianatimu….” Dengan sikap terlihat sudah lebih santai, Ernest menjawab pertanyaan Tira.
Bagaimana aku bsia melakukan hal yang tersembunyi dengan perempuan lain di belakangmu? Sedangkan rasanya, aku bisa mati kalau kamu pergi dariku.
Ernest berkata dalam hati dengan menggigit bagian bawah bibirnya, dan mata sedikit melirik ke arah Tira.
“Seperti katamu, aku ini tampan, berbakat dan juga hebat, Sulit untuk seorang gadis menolak kehadiranku. Tapi apakah aku pernah tertarik dengan gadis lain? Kenapa bertanya seperti itu?” Ernest menjawab pertanyaan Tira dengan asal-asalan.
“Apa tidak boleh? Aku ingin tahu isi hatimu yang terdalam, aku sangat ingin tahu semua hal tentangmu Ernest… semuanya… karena mulai sekarang… aku mau menjalani kehidupanku dengan menjadikanmu yang pertama dan utama dalam hidupku.” Kali ini Tira mengatakan isi hatinya dengan wajah serius.
Entah bagaimana bisa terjadi, niat Tira yang awalnya bertanya untuk menggoda Ernest, tiba-tiba menjadi sebuah pertanyaan yang serius.
__ADS_1
Selama ini dia hanya pernah beberapa kali melihat sosok Ernest, mengagumi laki-laki itu meskipun saat itu dia belum yakin bahwa itu akan menjadi rasa cinta di masa depan.
Tapi dengan semakin yakinnya Tira terhadap perasaan cintanya pada Ernest, Tira jadi ingin tahu semua hal tentang Ernest, sekecil apapun itu, termasuk tentang hal-hal yang mungkin bagi Ernest adalah hal-hal yang paling pribadi sebagai seorang laki-laki dan juga pergaulan dan kehidupannya di masa lalu, yang berhubungan dengan gadis lain.
“Kamupun boleh bertanya tentang aku…. Apapun pertanyaanmu, aku akan menjawabnya, karena hanya kepadamu aku akan mempercayakan semuanya. Aku tidak mau ada sedikitpun hal yang tersembunyi diantara kita. Bagiku, sejak kita menjadi memiliki komitmen untuk menjadi sepasang kekasih….” Tira menghentikan kata-katanya sebentar.
“Hatiku sudah bertekad untuk aku harus mengatakan bahwa kamu juga yang harus bertannggungjawab tentang aku di masa depan…. Bagiku… kamu adalah satu-satunya pria yang harus menjadi suamiku meskipun kita harus menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkan hal itu, yang mungkin akan membuat kita dalam masa penantian yang cukup lama sebelum niatku itu tercapai, karena masih ada restu dari keluarga kita yang harus kita kejar dan dapatkan.” Tira kembali mengucapkan kata-katanya kepada Ernest, yang cukup untuk membuat wajah Ernest semakin memerah.
Bagaimana bisa, mereka berdua yang baru saja resmi menjadi sepasang kekasih, yang bahkan belum genap sepekan lamanya, tapi ternyata, Tira benar-benar berpikir seserius itu terhadap hubungan mereka, dan sudah berpikir jauh ke depan tentang bagaimana kehidupan yang ingin dijalaninya di masa depan bersama dengan Ernest.
Saat ini, bahkan Ernest jadi merasa kalau Tira sedang melamarnya, suatu hal yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh Ernest.
Menjadi kekasih Tira saja, bagi Ernest sudah merupakan hal luar biasa yang rasanya seperti mimpi di siang bolong, apalagi sekarang Tira mengatakan hal-hal manis seperti itu, membuat Ernest benar-benar kehilangan kemampuannya untuk berkata-kata secara mendadak.
“Ernest… apa kata-kataku kurang tepat dan membuatmu merasa tidak nyaman?” Tira langsung bertanya begitu melihat Ernest hanya terdiam setelah mendengar kata-katanya.
“Bolehkah aku menanggapi kata-katamu setelah ini?” Ernest balik bertanya tanpa memandang ke arah Tira, karena dia sedang fokus pada kemudi yang dipegangnya untuk bisa segera memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Melihat reaksi Ernest, Tira jadi terdiam seribu bahasa, dan merasa rasa percaya dirinya jadi menurun dengan drastis, karena merasa tertolak dengan sikap diam Ernest padanya saat ini, membuatnya berpikir yang tidak-tidak tentang arti dari sikap Ernest padanya saat ini.