
Meskipun Erich langsung memberikan salam penghormatanya pada Tira begitu Tira melihat ke arahnya, akan tetapi Tira masih merasa tidak nyaman berada di dekat Erich yang sikap dinginnya kepada orang lain, boleh dibilang lebih parah dari Alvero.
Dengan cepat, Tira segera menjauh dari sosok Erich, yang baginya justru terlihat seperti seorang calon mertua yang mengerikan sedang melakukan penyelidikan pada calon gadis yang akan menjadi calon istri bagi anak laki-laki kesayangannya.
Hah... mereka berdua benar-benar sungguh jauh berbeda. Yang satu berada di dekatnya membuat orang nyaman dan merasa tenang, sedang yang satunya, berada di dekatnya yang ada justru suasana tegang dan sedikit seram.
Tira berkata sambil berjalan mendekat ke arah Deanda yang sedang berjalan masuk dengan menggandeng lengan Alvero.
"Tanpa pelayan seperti di istana, sepertinya apartemenmu tetap terawat dengan baik." Deanda berkata sambil tersenyum, karena tidak menyangka seorang putri Gracetian seperti Tira, bisa juga hidup mandiri di sebuah apartemen tanpa ditemani oleh para pelayan seperti di istana.
Ketika Deanda baru pertama kalinya memasuki istana, dia kadang mendengar bagaimana para putri di istana Gracetian selalu mendapatkan pelayan terbaik, yang kadang tanpa sadar membuat mereka kadang bersikap manja, meskipun sebenarnya mereka juga mendapatkan pelatihan dalam banyak hal.
Bahkan jika Deanda ingat tentang Desya, anak dari Eliana, putri yang satu itu, betul-betul manja dan suka sekali memanfaatkan posisinya untuk menginjak-nginjak orang lain dan seringkali kali bersikap semena-mena terhadap para bawahannya di istana.
"Ah ya Kak. Sebenarnya itu karena aku juga jarang berada di tempat karena sibuk kuliah. Selain itu baru saja Steven, Edi dan Ernest sepanjang siang tadi membantuku membereskan apartemen." Tira berkata sambil tersenyum, mengikuti langkah-langkah Deanda bersama Alvero yang masuk ke bagian dalam apartemen itu.
__ADS_1
"Apa kalian mau minum? Panas atau dingin?" Tira yang melihat Alvero mengambil posisi duduk di ruang keluarga diikuti oleh Deanda, langsung menawarkan diri untuk menyuguhkan minuman kepada mereka berdua.
"Erich... buatkan kami teh hangat. Untuk permaisuri, pastikan tehnya tidak terlalu panas." Mendengar tawaran Tira, Alvero justru langsung memberikan perintah kepada Erich untuk membuatkan teh untuknya dan Deanda.
"Baik Yang Mulia....." Erich segera menjawab dan langsung mendekat ke arah Tira yang mau tidak mau harus sedikit menahan nafasnya begitu melihat sosok Erich yang semakin mendekat ke arahnya.
"Mohon Putri Tira menunjukkan tempat meletakkan teh dan peralatan untuk membuat teh." Erich bertanya kepada Tira dengan sikap dan suara hormat, sekaligus terlihat begitu menjaga tata cara bagaimana dia harus bersikap kepada pimpinannya.
"Mungkin Putri bisa meminta Ernest dan yang lain untuk menunjukkan pada saya...."
Untuk saat ini, sebaiknya aku tidak bertemu dengan Ernest setelah kejadian tadi. Aku butuh waktu untuk bisa bersikap tenang di depan Ernest dan mencoba memastikan tentang perasaanny padaku. Dan untuk saat ini, aku belum siap jika harus berhadapan muka dengan Ernest.
Tira berkata dalam hati dengan sikap tidak tenang, yang tanpa sadar membuat Alvero maupun Erich, bisa menangkap hal itu, tapi mereka memilih untuk diam sementara ini, dan hanya mengamati saja.
"Tidak perlu seperti itu. Mereka baru saja membersihkan seluruh apartemen ini, biarkan mereka beristirahat. Aku sendiri yang akan menunjukkan padamu...."
__ADS_1
"Jangan Putri, katakan saja dimana letaknya, saya akan mencarinya sendiri. Putri tetap duduk saja di sini menemani yang mulia dan permaisuri." Erich langsung melarang Tira untuk pergi menunjukkan tempat benda-benda yang ditanyakan Erich tadi.
"Tidak masalah, supaya kamu bisa cepat membuat tehnya." Tira berkata sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju ke area dapur, diikuti oleh Erich di belakangnya.
"Di sana cangkir dan teko untuk teh, di sana ada water heater untuk air panas, dan di lemari yang di atas itu, ada berbagai teh yang bisa kamu pilih untuk disuguhkan kepada yang mulia Alvero dan permaisuri Deanda." Tira berkata sambil mengarahkan jari telunjuknya saat menyebutkan tempat-tempat itu pada Erich.
Begitu selesai menunjukkan apa yang dibutuhkan oleh Erich, Tira kembali berjalan dan mendekat ke arah Alvero dan Deanda.
"Bagaimana dengan kuliahmu?" Begitu Tira duduk, Alvero langsung bertanya kepada Tira.
"Baik-baik saja Kak. Aku akan menunjukkan kepada papa tentang kemampuanku di dunia musik, dengan pencapaianku kampus, agar papa tahu aku benar-benar serius dan berbakat dalam hal itu." Tira berkata sambil memandang ke arah Alvero dan Deanda.
"Lalu, bagaimana dengan teman-teman kuliahmu? Apa diantara mereka ada yang membuatmu tertarik? Kalau iya, cepat bawa ke hadapan uncle Victor dan Auntie Ava, sebelum mereka mencarikan pasangan untukmu secara paksa." Pertanyaan Alvero yang tanpa basa-basi itu, membuat Deanda langsung menoleh ke arah Alvero, sedang Tira menatap Alvero dengan wajah sedikit cemas.
"My Al, jangan menakuti Tira seperti itu." Perkataan Deanda ditanggapi dengan sebuah gerakan kedua bahu Alvero yang diangkatnya.
__ADS_1
"Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh uncle Victor. Berita tentang peneror yang sudah membuatnya khawatir, membuat uncle Victor berpikir untuk segera mencarikan Tira pasangan, agar ke depannya, ada orang yang bisa menjaga Tira dengan baik. Dan aku rasa, itu bukanlah hal yang buruk untuk dicoba." Perkataan Alvero yang memang dua hari sebelumnya sempat bertemu dengan Victor dan berbincang serius dengannya, membuat wajah Tira sedikit memucat karena perkataan Alvero.