MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
SALING MENGUNGKAPKAN RASA


__ADS_3

Meskipun di awalnya Ernest hanya menuruti dorongan hatinya yang tidak bisa dia kendalikan dengan memberikan ciuman sekilas untuk menunjukkan perasaan cintanya pada Tira, tapi pada akhirnya, Ernest justru terjebak dengan dirinya sendiri yang merasa sulit untuk melepaskan ciumannya pada Tira.


Hal itu membuat Ernest bukan hanya mengecup sekilas bibir Tira, tapi tanpa henti terus menciumnya, dan perlahan menjadi ciuman yang semakin dalam, seolah Ernest ingin menunjukkan pada Tira melalui ciuman itu betapa dalamnya cinta yang dia miliki untuk Tira, dan Ernest ingin Tira bisa merasakannya melalui ciumannya itu.


Tira yang awalnya tersentak kaget, tidak menyangka kalau dengan tiba-tiba Ernest menciumnya seperti, tampak menyunggingkan senyum bahagianya, karena meskipun harapannya untuk mendengar jawaban dari bibir Ernest tentang siapa gadis yang dicintainya tidak bisa terwujud, tapi dengan ciuman itu, Tira tahu saat ini, Ernest sedang menyatakan cinta padanya, dengan caranya sendiri.


Tanpa ragu, beberapa saat kemudian, Tira tampak menggerakkan kedua lengannya ke leher Ernest, dan membiarkan Ernest lebih memperdalam ciumannya, setelah Tira merasakan bagaimana eratnya pelukan Ernest saat ini, dan tidak ada tanda-tanda kalau Ernest akan segera melepaskannya.


Untuk waktu yang cukup lama mereka saling menikmati ciuman mereka, bahkan tanpa ragu, Ernest yang terbawa suasana, tidak lagi ingat tentang perbedaan status antara dia dan Tira terus mencium Tira, bahkan dengan berani memaksa Tira membuka bibirnya, agar dia bisa mengeksplore bagian dalam mulut Tira yang berusaha membalas setiap tindakan Ernest yang terasa begitu manis, dan membuat angan-angannya melayang.


Ciuman Ernest yang terus menuntut, dan tanpa henti mengeksplore bibir Tira, seolah-olah sudah sejak bertahun-tahun yang lalu Ernest sudah begitu merindukan bibir dan pemiliknya itu.


Bagi Ernest, rasanya dia tidak ingin menghentikan ciuman yang belum membuatnya puas sampai dia melihat bagaimana nafas Tira yang tersengal, karena butuh pasokan oksigen, sehingga mau tidak mau Ernest terpaksa melepaskan tautan bibirnya dari bibir Tira, dan dengan lembut melepaskan lengannya yang melingkar di tubuh Tira.

__ADS_1


"I love You... I love You... and I always love You. You had my heart  a long long time ago." (Aku mencintaimu... aku mencintaimu... dan aku selalu mencintaimu. Kamu telah memiliki hatiku sejak lama sekali) Kata-kata yang baginya begitu keramat itu langsung keluar begitu saja dari bibir Ernest, setelah dia melepaskan bibirnya dari bibir Tira yang terlihat sedikit bengkak, karena ciuman panas bertubi-tubi yang dia terima dari Ernest barusan, yang bahkan hampir membuatnya kehabisan nafas.


Sebuah ciuman yang bagi Tira sungguh di luar dugaan, mengingat bagaimana seorang Ernest yang selama ini terlihat begitu tenang dan selalu memperlakukannya dengan begitu hormat, membuat Tira sedikit kaget, bahwa ternyata seorang Ernestpun bisa terlihat begitu emosional seperti yang terjadi barusan.


Tira membiarkan dadanya yang terus berdetak kencang, dan pikirannya yang tidak bisa memikirkan apapun selain rasa bahagia karena pada akhirnya, laki-laki yang dicintainya itu berani mengambil langkah maju untuk mengakui perasaan cinta padanya.


"Maaf... Putri... tapi sungguh... saya sudah berusaha, tapi saya tidak bisa menahannya lagi. Saya tidak bisa membendung rasa cinta ini lagi. Sungguh itu membuat saya sangat tersiksa selama ini." Ernest yang mulai bisa berpikir waras, akhirnya mengucapkan kata-kata maafnya dengan wajah terlihat begitu menyesal.


Bukan menyesal karena dia begitu mencintai Tira, tapi menyesal dia tidak bisa lagi membendung rasa cinta itu sehingga saat ini, dia melepaskan semuanya di depan Tira.


Meskipun Ernest sadar bahwa Tira juga mencintainya, tapi menjadi kekasih Tira? sampai detik ini bahkan hanya memimpikan dan membayangkannya saja, Ernest merasa sudah bertindak lancang.


“Putri, kita tidak mungkin bisa bersama….”

__ADS_1


“Ernest, bisakah kamu memperjuangkan cintamu? Bisakah aku menjadi gadis yang paling berbahagia karena menjadi kekasihmu?” Pertanyaan Tira membuat Ernest termangu.


“Putri… apa benar… Putri akan bahagia jika bersama saya? Saya sungguh takut Putri akan terluka dan tidak bahagia jika saya bersikeras untuk tetap bersama Putri….” Dengan suara ragu, Ernest berkata kepada Tira.


“Kalau aku tidak bersamamu… kalau kamu pergi meninggalkanku… itu yang akan membuatku tidak bahagia Ernest….” Tira berkata sambil memeluk Ernest dengan kedua lengannya melingkar di pinggang Ernest dan menyandarkan kepalanya di dada Ernest, sehingga Tira bisa mendengar bagaimana jantung Ernest yang berdetak dengan kencang saat ini.


“Ernest… berjanjilah padaku… jika ke depannya kita harus menghadapi badai untuk bisa tetap bersama, berjanjilah kamu akan tetap menggenggam erat tanganku, dan tidak melepaskanku dengan alasan apapun….” Tira menghentikan kata-katanya sejenak karena dia sadar jalan yang akan mereka berdua hadapi di masa depan tidak akan mudah karena perbedaan status mereka.


“Seperti aku yang tidak akan pernah melepaskan pelukanku padamu, karena aku sungguh sangat mencintaimu…. Sangat-sangat mencintaimu Ernest….” Tira berkata sambil mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Ernest yang juga sedang menundukkan kepalanya, menatap ke arah Tira yang membuat dia hanya bisa diam seribu bahasa, karena pernyataan cinta Tira padanya, seperti air yang tiba-tiba mengguyur hatinya yang selama ini terus mendambakan sosok gadis itu dalam diam, membuatnya merasaa begitu hidup.


“Aku berjanji… selama kamu menginginkanku, selama kamu ingin aku tetap berada di sampingmu… aku berjanji akan selalu ada di sampingmu… tidak perduli apapun yang akan kita hadapi ke depannya, aku akan menghadangnya untukmu. Terimakasih… untuk cintamu padaku Tira….” Dengan suara setengah berbisik, Ernest mengucapkan janjinya pada Tira.


Putri cantik itu langsung berjinjit dan mencium bibir Ernest untuk menunjukkan rasa terimakasih dan bahagianya atas janji yang diucapkan Ernest barusan, begitu laki-laki tampan yang saat ini sudah bersikap lebih santai padanya, dan menyebutkan namanya tanpa embel-embel putri, dengan suara yang terdengar begitu manis membuat dada Tira benar-benar dipenuhi dengan rasa haru sekaligus cinta, yang bahkan membuatnya menangis karena bahagia, dengan bibirnya yang masih menempel di bibir Ernest yang langsung menyambut ciuman itu dengan tidak kalah hangatnya.

__ADS_1


“Terimakasih untuk balasan cintamu padaku….” Ernest berbisik pelan di telinga Tira, begitu Tira melepaskan ciumannya dari bibir Ernest, yang sambil menarik nafas lega, memeluk Tira dan menarik kepala Tira agar bersandar di dadanya, untuk menunjukkan bahwa dia akan selalu melindungi Tira dengan baik di masa depan.


__ADS_2