
Sebelum berangkat ke Amerika, Ernest sudah menyiapkan segala sesuatunya, termasuk memikirkan siapa orang yang bisa menjadi mata-mata di lingkungan kampus sekaligus membantunya jika selama penyamarannya sebagai seorang mahasiswa mengalami kesulitan atau masalah.
Romeo sengaja dipilih oleh Ernest, karena selain dia adalah dosen senior yang bisa dipercaya, dia sendiri memiliki banyak koneksi baik di pemerintahan maupun di kalangan petugas keamanan yang memiliki jabatan tinggi di kota itu.
Ditambah lagi, istri Romeo adalah salah satu sepupu dari nyonya Rose yang memiliki hubungan dekat dan sangat baik dengan nyonya Rose, sehingga Romeo menjadi orang yang direkomendasikan secara langsung oleh nyonya Rose kepada Ernest, sehingga Ernest tidak perlu meragukan sosok Romeo, yang ternyata memang banyak membantu penyelidikan mereka selama ini.
Karena selain Romeo sebagai dosen senior dia juga merupakan wakil rektor, yang membuatnya memiliki kekuasaan dan pengaruh cukup besar di kampus karena jabatannya.
Itu juga yang membuat Ernest tidak memberikan tanda bintang yang menunjukkan kecurigaannya pada Romeo sebagai pelaku teror ketika melihat rekaman yang mengarah pada parkiran mobil waktu itu, karena bagi Ernest, Romeo adalah orang yang tergabung dalam timnya yang sedang berusaha menyelidik siapa peneror Tira sebetulnya.
Istri Romeo yang berasal dari Gracetian dan merupakan sepupu dari nyonya Rose membuat Romeo sedari awal sebenarnya tahu tentang siapa Tira sebenarnya, sebagai salah satu putri Gracetian, hanya saja sebagai orang yang bijak, Romeo memilih untuk diam dan menyimpan informasi itu untuk dirinya sendiri.
“Steven, lanjutkan semua tugas yang aku berikan. Edi! Ikut denganku untuk menemui pak Romeo sekarang untuk membicarakan penemuan kita hari ini.” Ernest berkata sambil emraih jaketnya, disusul oleh Edi yang juga bergerak dengan cepat di belakang Ernest, karena diapun sudah merasa gerah dan ingin agar peneror itu segera ditangkap secepat mungkin agar tidak lagi membahayakan keselamatan Tira.
__ADS_1
“Baik Tuan Ernest. Setelah semua selesai saya akan kirimkan kepada Tuan Ernest.” Steven yang tetap berkutat di depan laptopnya menjawab perintah Ernest dengan cepat.
“Usahakan untuk segera menyelesaikannya agar aku bisa dengan cepat menunjukkannya pada pak Romeo.” Ernest kembali berkata kepada Steven tepat sebelum dia kelaur dari pintu apartemen bersama Edi dan menutup pintunya kembali.
“Sebaiknya kita pakai mobilku. Tolong kemudikan mobilku Edi, agar aku bisa mengatur pertemuan dengan pak Romeo.” Ernest berkata sambil melemparkan kunci mobil miliknya ke arah Edi yang langsung menangkapnya dengan sigap sambil menganggukkan kepalanya.
# # # # # # #
“Apa tidak tersambung Tuan Ernest?” Sambil mengemudikan mobil milik Ernest, Edi bertanya setelah melihat beberapa kali panggilan telepon dari Ernest kepada Romeo tidak ada tanggapan sama sekali.
“Lalu bagaimana rencana kita Tuan Ernest? Apa kita langsung saja pergi menuju kampus?”
“Sepertinya tidak bisa seperti itu Edi. Kalau sebagai mahasiswa tiba-tiba aku mencari dan berusaha menemui pak Romeo di kampus, akan menimbulkan kecurigaan yang lain. Untuk saat ini, aku belum yakin apakah sudah waktunya penyamaranku aku selesaikan sampai di sini.” Ernest berkata kepada Edi sambil mulai mencari-cari nomer kontak istri dari Romeo, berencana untuk menghubunginya terlebih dahulu dan menanyakan tentang keberadaan Romeo.
__ADS_1
“Memang sebaiknya sampai peneror benar-benar ditangkap Tuan Ernest tidak membongkar penyamaran Tuan.” Edi langsung mendukung perkataan Ernest.
“Ya, lagipula aku tidak mau membuat berita heboh di kampus. Saat ini mereka semua hanya tahu aku adalah peserta pertukaran mahasiswa dari Gracetian. Jika sudah waktunya pergi dari sini, aku akan membuajt seolah-olah memang sudah waktunya aku kembali ke Gracetian sebagai seorang mahasiswa juga, bukan seorang knight yang sebelumnya bertugas menjaga putri Tira.” Ernest berkata sambil menekan kode panggilan telepon begitu dia sudah menemukan kontak orang yang dia maksud, istri Romeo.
“Hallo… selamat sore Tuan Ernest.” Dengan suara sopan, istri dari Romeo menyapa Ernest yang beberapa waktu lalu dengan sengaja nyonya Rose memperkenalkan mereka melalui pangilan video call.
“Selamat sore Nyonya. Mohon maaf sebelumnya, apakah Nyonya tahu dimana pak Romeo sekarang? Karena saya berusaha menghubunginya beberapa kali dan tidak ada tanggapan.” Ernest segera menyampaikan tujuannya menghubungi istri Romeo seecara tiba-tiba.
“Oh… dia sedang berada di kampus Tuan Ernest. Sepertinya dia ada jadwal mengajar sampai malam nanti. Hanya saja, ini adalah jam dimana seharusnya dia tidak mengajar. Jadi seharusnya dia bisa menerima panggilan telepon dari Tuan Ernest.” Penjelasan istri Romeo membuat Ernest terdiam sejenak.
“Apa ada hal yang sangat penting Tuan Ernest. Jika iya, mungkin Tuan bisa menghubunginya di nomernya yang lain, karena jujur saja, dia seringkali meletakkan handphonenya dengan sembarangan. Mungkin dia sedang melupakan handphonenya yang satu itu dan memegang handphone yang lainnya.”
“Baik Nyonya, dengan senang hati saya akan mencoba menghubungi pak Romeo sesuai dengan ide Nyonya.” Ernest langsung berkata sambil mencatat nomer handphone yang akhirnya diberikan oleh istri Romeo.
__ADS_1
# # # # # #
“Hallo Ernest….” Sebuah senyum langsung tersungging di wajah Ernest begitu dia mendengar suara sahutan dari Romeo yang ternyata benar seperti kata istrinya, dia sedang memegang handphonenya yang lain, meski di telinga Ernest suara Romeo terdengar begitu pelan seolah takut pembicaraannya dengan Ernest didengar oleh orang lain yang ada di dekatnya.