
"Eh, kami akan pesan sekarang saja." Dengan wajah sedikit memerah karena malu, akhirnya Tira menjawab pertanyaan dari pelayan tersebut.
Setelah menerima daftar pesanan dari Tira, pelayan itu berlalu pergi sambil tersenyum, setelah sempat melirik bagaimana tangan Ernest yang terus menggenggam salah satu tangan Tira yang ada di atas meja, selama Tira menyebutkan semua makanan yang dia inginkan sebagai makan malamnya hari ini.
"Jangan menatapku seperti itu...." Tira yang menyadari bagaimana Ernest sedari tadi terus menatapnya dengan lembut dan tangan yang sedang menggenggam tangannya saat ini beberapa kali dirasakannya mengelus-elus punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.
"Apa aku bersalah mengagumi kekasihku sendiri?" Kata-kata lembut Ernest, membuat Tira tersenyum dengan sikap gugup, karena apa yang dilakukan Ernest di depannya, selalu berhasil membuat dadanya berdebar.
"Tidak... tidak ada yang salah dengan itu...." Tira menjawab dengan sikap malu-malu.
"Itu artinya... kamu tidak keberatan kan aku memandangmu sampai aku puas?" Entah darimana Ernest mendapatkan keberanian, tiba-tiba saja, dia dengan begitu saja jadi berani menggoda TIra yang selama ini begitu dihormatinya, dimana dia selalu berbicara dengan sikap dan kata-kata yang sangat sopan.
__ADS_1
"Jangan pernah puas...." Tira berbisik pelan, membuat Ernest mengernyitkan dahinya.
"Kena...."
"Kalau kamu sudah puas, kamu akan berhenti, dan aku tidak mau kamu berhenti untuk terus memandangiku. Aku harus menjadi satu-satunya gadis yang kamu tidak akan pernah puas memandangiku." Tira langsung memotong perkataan Ernest yang langsung tersenyum sambil menggigit bagian bawah bibirnya.
Saat ini, jika boleh jujur, Ernest merasa begitu gemas melihat sikap dan mendengar kata-kata Tira, sehingga membuatnya begitu ingin mendekap tubuh gadis cantik itu, memeluknya dengan erat, lalu menghujaninya dengan puluhan, mungkin ratusan ciuman, sayangnya Ernest tahu tempat mereka berada saat ini adalah tempat umum, ditambah lagi, ini adalah hari pertama mereka sah sebagai sepasang kekasih, dan Ernest tidak ingin memberikan kesan buruk di hadapan Tira.
Bagi Ernest, gadis tercintanya itu harus dia perlakukan dengan baik dan penuh kelembutan, dengan penuh cinta, sehingga Tira bisa menjadi gadis paling bahagia karena mendapatkan cinta yang besar darinya.
"Aku tidak akan pernah berhenti mengagumi sosokmu, bahkan setelah lewat waktu yang lama aku masih saja terpesona setiap kali memandangimu, meskipun mungkin kamu tidak menyadari itu." Ernest berkata sambil melepaskan genggaman tangannya pada Tira, dan menoleh ke samping, mengamati aliran sungai yang tampak di depannya.
__ADS_1
"Ernest... bolehkan aku bertanya sesuatu padamu? Karena aku merasa begitu penasaran." Tira bertanya setelah beberapa detik sebelumnya dia mengikuti tindakan Ernest yang menikmati keindahan sungai Brooklyn malam ini.
"Apa yang ingin kamu ketahui? Tanyakan saja padaku, karena sejak menjadi kekasihmu, tidak ada yang bisa aku sembunyikan lagi darimu." Jawaban manis dari Ernest membuat Tira semakin tidak bisa berkutik menghadapi Ernest, apalagi laki-laki tampan itu terus saja memandanginya dengan tatapan penuh cinta setiap kali melihat ke arahnya.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta padaku. Entah aku yang terlalu percaya diri, atau memang begitu kenyataannya, tapi perasaanku mengatakan kalau kamulah yang lebih dahulu jatuh cinta padaku, daripada aku yang baru menyadarinya setelah kamu benar-benar berada begitu dekat denganku." Kata-kata Tira mau tidak mau membuat Ernest sedikit menelan ludahnya dan terdiam, karena bagaimanapun dia cukup merasa malu untuk mengatakan bahwa dia bahkan sudah jatuh cinta pada Tira ketika gadis itu masih berusia sangat-sangat muda.
"Mmmm...." Suara gumaman dari Ernest, membuat Tira merasa semakin penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Ernest padanya.
"Kenapa? Apa sebelumnya kamu sudah pernah memiliki kekasih dan dia adalah cinta pertamamu?" Tira bertanya dengan tatapan menyelidik yagn akhirnya membuat Ernest mendes... ssah pelan.
"Bagaimana bisa ada cerita tentang kekasih dan cinta pertamaku kalau sejak usia 8 tahun, sampai sebelum usia ke 17 belasku, aku selalu dalam barak pelatihan keras untuk menyiapkan diri menjadi pengawal pribadi yang mulia Alvero? Bahkan selama beberapa tahun itu, boleh dikata aku hampit tidak pernah bertemu dengan makluk yang bernama perempuan. Bagiku, semua hal yang aku lalui bersamamu, adalah yang pertama bagiku." Ernest berkata sambil tersenyum geli karena pertanyaan Tira mengingatkan padanya bahwa dia memang tidak pernah tertarik pada seorang gadis sampai dia bertemu dengan Tira di acara sore itu.
__ADS_1
“Pertama jatuh cinta padamu, pertama begitu tertarik apda seorang gadis, pertama menyatakan cinta padanya, pertama kalinya menjadi kekasih seseorang.” Ernest kembali berkata sambil tersenyum.