MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
TERSADAR KEMBALI


__ADS_3

Dengan setia Ernest tetap berdiri di samping pinggiran tempat tidur Tira, sampai gadis itu sedikit demi sedikit menggerakkan tangan dan bagian tubuhnya yang lain dengan lebih aktif.


“Akh….” Sebuah lenguhan pelan diiringi dengan mata Tira yang berlahan-lahan terbuka membuat mata Ernest menatap ke arah Tira tanpa berkedip, dengan dada yang kembali berdebar-debar karenanya.


Siapa itu?


Dengan kesadarannya yang belum benar-benar pulih, Tira berkata dalam hati sambil matanya yang masih kabur memandang ke arah sosok Ernest yang berdiri di sampingnya.


Apa aku sedang bermimpi? Apa aku begitu menyukai Ernest sehingga aku membayangkn kalau Ernest sedang berdiri di dekatku dan menemaniku saat aku tertidur lelap?


Tira kembali berkata dalam hati sambil berusaha untuk membuat dirinya tersadar sepenuhnya.


“Ernest?” Dengan suara yang terdengar begitu pelan Tira berkata sambil menyungingkan senyumnya begitu melihat yang berdiri di sampingnya benar-benar Ernest, dan itu bukan sekedar mimpi dan angan-angannya.


“Ya Putri… Apa kondisi Anda sudah lebih baik sekarang ini?” Pertanyaan Ernest yang diucapkannya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dan menatap ke arahnya dengan wajah terliaht khawatir membuat otak Tira berputar dengan cepat untuk memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya.


“Ernest….” Tira kembali memanggil nama Ernest sambil menggerakkan tubuhnya dari berbaring untuk dapat duduk bersandar di sandaran tempat tidur, dengan salah satu tangannya memegang keningnya, karena kepalanya yang terasa sedikit pusing saat ini.


Dan itu membuat tubuh Tira sedikit limbung ke samping karena keseimbangan tubuhnya belum kembali dengan sempurna.

__ADS_1


“Hati-hati Putri….” Dengas sigap Ernest segera menahan tubuh Tira agar tidak jatuh dengan memegang kedua bahunya.


Setelah itu, Ernest langsung membantu Tira agar bisa duduk tegak dengan bersandar di sandaran tempat tidur.


Begitu Tira sudah dalam posisi duduk, salah satu tangan Ernest masih berusaha untuk menahan tubuh Tira, dengan tangannya yang lain meraih bantal dan meletakkakan ke kanan kiri tubuh Tira untuk menahan agar tubuh itu tidak lagi goyah dan terjatuh.


“Terimakasih Ernest. Tapi…. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa pikiranku jadi seperti orang linglung?” Tira berkata sambil menatap ke arah Ernest dengan menahan pening di kepalanya yang masih sedikit tersisa.


“Anda baru saja sadar dari pingsan Anda, karena efek obat bius yang sudah Putri hirup tanpa sengaja tadi.” Mata Tira langsung terlihat membeliak begitu mendengar perkataan Ernest.


“Obat bius?” Tira bergumam pelan dan berusaha untuk mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padanya.


Untuk beberapa detik, Tira masih sadar dan berusaha melihat apa yang sebenarnya menyemprot ke wajahnya, namun belum sampai dia berhasil mengetahui tentang itu, tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, dan otot-otot di tubuhnya sulit untuk merespon dan digerakkan, sampai berakhir dengan hilangnya kesadarannya.


Setelah itu, Tira tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya, dan pastinya dia tidak tahu bagaimana dia yang awalnya tergeletak di lantai, tiba-tiba terbangun dengan posisi di atas tempat tidurnya yang nyaman.


Memikirkan itu membuat wajah Tira terasa sedikit panas dan memerah, karena mau tidak mau, dia jadi membayangkan bahwa Ernest adalah satu-satunya orang yang mungkin memindahkan tubuhnya dari lantai ke tempat tidur.


Sayangnya meskipun Tira merasa begitu penasaran tentang itu, dia memilih untuk diam dan tidak bertanya kepada Ernest, takut jika dia akan semakin gugup dan salah tingkah.

__ADS_1


“Eh….” Tira yang berusaha mengalihkan pikirannya tiba-tiba menoleh dan melihat tas kertas, paket yang diterimanya tadi dan bergumam pelan kembali.


“Jangan Putri….” Suara Ernest langsung terdengar begitu mendengar melihat tangan Tira terulur dan berusaha untuk meraih tas kertas itu, karena rasa penasarannya.


“Di dalam tas itu ada botol spray berisi obat bius. Lebih baik Putri tidak menyentuhnya lagi.” Ernest berkata sambil menjauhkan tas itu dari jangkauan tangan Tira.


“Apa obat bius itu sengaja diberikan padaku, atau itu hanya sebuah paket yang salah alamat Ernest?” Tira bertanya dengan sikap ragu.


Karena kesadarannya sudah pulih sepenuhnya, ada rasa takut yang menyelinap di hati Tira begitu tahu bahwa seseorang sudah mengirimkan obat bius padanya, dengan motif yang tentu saja tidak dia ketahui.


“Maaf Putri, sepertinya itu memang sengaja diberikan kepada Putri. Disamping obat bius itu, beberapa waktu setelah obat itu bereaksi, Edi yang langsung berpatroli di area sekitar apartemen melihat ada seseorang yang terlihat mencurigakan sedang berada di bagian bawah jendela Tuan Putri sambil membawa tali dan alat pengait yang sepertinya akan dia gunakan untuk memanjat jendela.” Mau tidak mau Tira cukup bergidik ngeri mendengar penjelasan dari Ernest itu.


“Apa… orang itu sudah ditangkap Ernest? Siapa orang itu? Apa aku mengenalnya?” Pertanyaan Tira membuat Ernest menahan nafasnya sejenak.


“Sayangnya, Edi gagal menangkapnya Putri. Maaf… kami akan berusaha lebih keras lagi untuk bisa menangkap pelaku.” Jawaban Ernest membuat Tira mendess…sssah pelan.


“Tidak masalah Ernest, dengan kemampuan kalian, aku yakin pasti tidak butuh waktu lama untuk bisa menemukan pelaku.” Tira berkata sambil tersenyum dan menatap Ernest yang justru merasa bersalah setelah mendengar dukungan Tira padanya.


“Aku bersyukur sekali kamu sudah bergerak dengan cepat sehingga pelaku tidak mendapat kesempatan untuk melanjutkan kejahatannya. Seharusnya aku tadi menuruti kata hatiku untuk memanggilmu sebelum menerima paket berbahaya itu.” Tira berkata pelan dengan helaan nafasnya yang beberapa kali terus dia lakukan.

__ADS_1


“Tapi Ernest… bagaimana kamu bisa dengan begitu cepat tahu ada sesuatu yang terjadi padaku? Apa tanpa sepengetahuanku kamu sudah memasang cctv di kamarku?” Pertanyaan Tira membuat Ernest tersentak kaget, dan bayangan tentang bagaimana dia sudah begitu lancang dan berani mengelus wajah Tira dengan buku jarinya tadi sungguh membuat Ernest merasa bersalah, dan juga… masih meninggalkan kesan yagn begitu dalam, dimana itu membuat dadanya masih saja berdebar dengan begitu kencang saat mengingat hal itu.


__ADS_2