
"Tapi Putri...."
"Tidak Ernest, sudah kuputuskan aku akan pergi bersama dengan Steven, dan kamu siapkan dirimu untuk pertemuan kelompok tugas perdana kita." Tira langsung memutus perkataan Ernest dan segera memberikan keputusannya, membuat Ernest langsung terdiam.
"Paling tidak, biarkan Edi ikut bersama dengan Steven mengawal Putri juga." Ernest yang terus terang tidak bisa tenang membiarkan Tira dalam pengawalan yang minim, langsung memberikan saran agar Edi bisa mengawal Tira bersama Steven.
Eh, tidak mungkin aku membiarkan Edi ikut bersama Steven, sedangkan aku sedang ingin menguji apakah debaran yang aku rasakan saat dekat dengan Ernest juga aku rasakan saat dekat dengan Steven atau Edi. Untuk itu aku harus mengujinya satu persatu, tidak bisa langsung berdua seperti itu.
Tira berkata dalam hati sambil mengernyitkan dahinya.
"Tidak, aku cuma pergi ke mall, bukan tempat yang berbahaya karena akan banyak orang di sana. Aku hanya mau Steven saja supaya tidak mencolok perhatian banyak orang. Dan aku mau dia tidak terlalu dekat denganku. Kamu tahu kalau Steven orang yang kaku dan tidak bisa bersikap fleksibel terhadap situasi yang terjadi. Dengan gayanya yang seperti itu, orang pasti akan langsung berpikir dia sangat cocok jadi seorang bodyguard." Tira berkata dengan nada suara seriusnya.
"Karena sifatnya yang kaku itu, katakan padanya agar jangan terlalu dekat denganku supaya orang tidak curiga. Cukup mengawalku dari jauh. Aku tidak mau orang berpikir macam-macam karena aku memiliki pengawal pribadi seperti kalian. Meskipun ada kalian, aku ingin kehidupanku tetap normal seperti biasanya." Kata-kata Tira membuat Ernest menahan nafasnya sejenak.
"Baik Putri, saya akan memberikan info pada Steven masalah ini." Akhirnya dengan sikap pasrah, Ernest menanggapi perintah dari Tira, yang tampak mengigit bibirnya karena sebenarnya, hatinya tiba-tiba diselipi rasa bersalah begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Ernest dengan nada suara rendahnya, yang seolah terlihat tidak rela dia tidak bisa ikut mengawal Tira hari ini.
__ADS_1
Kenapa denganku? Bukannya ini yang aku inginkan? Kenapa aku justru membayangkan wajah sedih dan kecewa Ernest, sehingga aku merasa bersalah sudah menolak dikawal olehnya?
Tira berkata dalam hati sambil memegang dadanya yang sedikit berdetak lebih kencang dengan salah satu telapak tangannya.
"Dalam tiga puluh menit aku akan berangkat, minta Steven untuk segera bersiap dan membawa mobilku ke depan gedung." Daripada hatinya semakin merasa tidak nyaman, Tira segera memberikan perintah selanjutnya kepada Ernest hanya bisa mengiyakan perintah tersebut.
"Baik Putri. Saya akan segera meminta Steven untuk melaksanakan perintah Putri."
"Terimakasih Ernest. Aku juga akan bersiap. Sampai nanti sore."
Tira langsung menutup panggilan teleponnya begitu Ernest menyelesaikan ucapannya.
Sadarlah akan posisimu Ernest! Dia bukan gadis yang bisa kamu raih dengan mudah. kamu tidak pantas untuknya. Hah! Aku benar-benar harus membiarkan hari ini Steven megnawal putri Tira jika tidak ingin kata-kata Erich menjadi kenyataan, sehingga aku akan berakhir dalam kisah cinta yang menyedihkan.
Ernest berkata dalam hati sambil mengelus-elus tengkuknya.
__ADS_1
Memang beberapa waktu ini Ernest begitu sering teringat dengan semua nasehat dan peringatan dari Erich tentang bagaimana dia harus bisa mengendalikan diri dan hatinya saat berada dengan Tira, dan sebisa mungkin menghapuskan rasa suka yang mulai berubah menjadi rasa cinta.
Aku tidak boleh... dan tidak berhak untuk jatuh cinta padamu Putri. maafkan aku yang lancang karena ternyata, semakin lama semakin sulit mengendalikan hatiku yang sudah lama terpikat padamu. Aku berjanji tidak akan melakukan lebih dari diam-diam mengagumimu. Aku akan cukup puas asal Putri Tira selalu bahagia dan hidup dengan damai.
Ernest berkata dalam hati sambil menutup kedua matanya sejenak, sambil mengatur kecapatan deru nafasnya, sebelum di bangkit dari duduknya, untuk mencari Steven dan memberitahukan apa yang harus dikerjakannya pagi ini.
Bagaimanapun, meski Ernest memiliki sifat loyal dan begitu patuh pada pemimpinnya, sadar akan posisinya sebagai seorang knight ayng sebenarnya juga masuk dalam golongan bangsawan, tapi jauh di bawah posisi seorang putri seperti TIra, dia tetaplah seorang pria yang memiliki rasa ego dan hasrat normal seorang laki-laki terhadap wanita yang disukainya.
Wajar jika saat Ernest jatuh cinta, dia juga ingin dekat dan bisa memiliki gadis yang dicintainya itu, meluapkan rasa cinta dengan keinginan untuk menghabiskan waktu berdua, di tempat-tempat indah dan melakukan hal-hal romantis untuk mengukir kenangan diantara mereka.
Karena itu Ernest beberapa kali berusaha untuk menekan pikiran dan hatinya agar dia tidak kebablasan dan berakhir dengan terjadinya apa yang dikhawatirkan oleh Erich selama ini, kehancuran hatinya karena tidak bisa memiliki wanita yang dicintainya.
Meskipun Ernest selalu tampak bersahabat dan baik hati, tapi Erich tahu kalau sebenarnya Ernest bukan orang yang mudah untuk bisa mengatasi dirinya sendiri jika harus kehilangan orang yang dia cintai, karena Ernest adalah tipe orang yang bersedia mati untuk orang-orang yang dia sayangi.
Kehidupan di masa kanak-kanak Ernest dan Erich, dimana mereka harus menerima nasib kehilangan sebagian besar, bahkan hampir seluruh keluarga dekat mereka, membuat Ernest memiliki hati yang lembut, dan rasa ingin melindungi maupun berkorban dari dirinya sangat besar.
__ADS_1
"Steven, bersiaplah untuk segera mengawal putri TIra pergi ke mall." Perintah dari Ernest membuat Steven yang awalnya sedang duduk dan berbagi pengalaman dengan Edi langsung bangkit dari duduknya dengan sikap siaga, siap untuk menerima perintah Ernest yang sebenarnya sungguh tidak rela membiarkan orang lain yang mengawal Tira pagi ini.