MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PERMINTAAN MAAF JANETA


__ADS_3

“Aku juga baru saja mendapatkan semua info itu dari nyonya Elenora, atas perintah tuan Ornado….” Ernest langsung menjawab rasa penasaran Tira dengan mengucapkan kata-kata di depan Tira tanpa suara, hanya menggerakkan bibirnya saja, karena bagi Ernest tidak ada untungnya juga Janeta mendengar cerita tentang  orang-orang hebat dan mengagumkan yang ada di sekitar dia dan Tira.


Pantas saja data penting seperti itu bisa didapatkan oleh Ernest. Kalau Elenora dan kak Ornado sudah bergerak, sekecil apapun data yang disembunyikan walau sampai ke kolong langit, selama itu online, mereka pasti dengan mudah mengambilnya seperti mengambil barang berharga dari sebuah lemari yang bukan saja tidak terkunci, tapi pintunya sedang terbuka lebar.


Tira berkata dalam hati sambil menganggukkan kepalanya ke arah Ernest.


“Lalu, apa yang kamu inginkan sekarang dari kami? Kenapa tiba-tiba kamu ingin bertemu dengan kami?” Ernest bertanya dengan tatapan matanya kembali mengarah kepada Janetta.


“Aku… benar-benar minta maaf tentang semuanya itu. Aku benar-benar tidak berpikir panjang waktu itu, dan tidak mengira bahwa mereka menggunakan info itu untuk menyakiti Tira. Jika saja bisa… aku mau menebus kesalahanku jika saja bisa….” Ernest menghela nafasnya cukup panjang begitu mendengar kata-kata Janeta yang masih penuh dengan nada penyesalan.


“Apa kamu tahu? Salah satu orang dari yang sudah kamu berikan info tentang Tira, selama ini selalu meneror Tira menggunakan info-info yang kamu berikan itu. Bukan sekedar teror di media sosial kampus yang waktu itu sempat kamu lihat akibatnya, tapi secara fisik, dia juga pernah bermaksud menyakiti Tira.” Mendengar perkataan Ernest, secara spntan, Janeta langsung menengadahkan wajahnya ke arah Ernest dan Tira secara bergantian, dengan tatapan mata terlihat kaget.


“Ap… apa maksudnya? Siapa… yang bermaksud mencelakakan Tira?” Janeta yang pada dasarnya memang hanya memikirkan uang tanpa menyangka kalau itu adalah jalan dimana Luis bisa membuat rencana untuk menyakiti Tira, bertanya dengan wajah bingung.


“Aku sungguh minta maaf… aku benar-benar tidak tahu tentang hal itu….” Janeta berkata sambil meraih tangan Tira yang awalnya ada di atas meja dan menggenggamnya dengan begitu erat, meminta maaf dengan wajah begitu menyesal.

__ADS_1


“Tira… sungguh… aku minta maaf.... Kamu adalah teman yang baik, dan aku benar-benar tidak ada niat untuk menyakitimu… Waktu itu aku hanya berpikir untuk mengambil sedikit keuntungan dengan menjadi temanmu. Aku benar-benar bersalah padamu….” Janeta berkata tanpa bisa menahan air mata penyesalannya.


“Eh…” Melihat bagaimana Janeta yang meminta maaf sambil menangis di depannya seperti itu, Tira jadi merasa salah tingkah, sedangkan Ernest memilih untuk diam sementara waktu.


Bagi Ernest memang sudah seharusnya Janeta tahu tentang kesalahannya, dan tidak ada salahnya jika dia harus meminta maaf, hanya saja, Ernest ingin melihat sejauh mana kesungguhan Janeta untuk meminta maaf dan merasa menyesal dengan perbuatannya, sehingga Ernest tahu apa yang bisa dia lakukan terhadap Janeta setelah ini.


“Tira… tolong maafkan aku… maaf….” Suara Janeta meskipun tidak terlalu keras, terdengar seperti sebuah rengekan, dimana dia tidak perduli lagi dengan sekitarnya, karena mau tidak mau, meskipun tidak keras, tapi suara dan tindakan Janeta cukup menyita perhatian pengunjung yang duduk di dekat mereka, membuat Tira jadi merasa tidak enak.


Aku… sebenarnya juga ingin memakimu, memarahimu, tapi… segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku, aku yakin semuanya diatur dengan baik oleh Tuhan. Kalau Janeta tida menjadi infroman bagai pak Luis, mungkin aku tidak akan dengan cepat menyadari perasaanku pada Ernest. Jika aku tidak segera menyadarinya, mungkin aku akan kehilangan Ernest untuk selamanya, apalagi saat dia harus kembali ke Gracetian. Bagiku, segala sesuatu pasti ada hikmahnya.


“Janeta… sudahlah… yang penting kamu sudah tahu tentang kesalahanmu, dan ke depannya, kamu akan lebih berhati-hati dalam bertindak. Jangan pernah menjual temanmu seperti itu. Meskipun itu bukan menjual dalam arti yang sebenarnya.” Tira berkata pelan dengan suara lembut, sambil tangannya yagn satu, yang tidak berada dalam genggaman tangan Janeta tampak menepuk-nepuk pelan tangan Janeta.


Tindakan Tira itu, membuat hati Janeta lebih tenang dan sejuk, seperti tanah kering yang disiram oleh air segar.


“Tira….” Janeta menyebutkan nama Tira dan air amtanya justru semakin deras setelah dia melihat bahwa tidak ada kemarahan dalam suara Tira saat berbicara padanya.

__ADS_1


“Hentikan tangisanmu, atau aku tidak akan memaafkanmu karena kamu membuatku jadi perhatian banyak orang, seolah-olah aku ini sudah membulimu.” Tira berkata pelan sambil tersenyum ke arah Janeta yang tampak kaget mendengat kata-kata Tira yang tampak jelas tidak menunjukkan kemarahan, apalagi menyimpan dendam.


Putri… ah… kamu benar-benar…. Hah… aku tidak bisa berkata apa-apa lagi melihatmu seperti itu. Memang sejak kecil, itulah sosok aslimu, begitu lembut dan baik hati, sehingga orang sering salah paham dengan sikapmu, dan sebagian orang ingin memafaatkan kebaikanmu itu demi kepentingan mereka.


Ernest yang melihat itu hanya bisa menahan nafasnya saambil berkata dalam hati, dengan rasa bangga yang menyeruak dalam hatinya.


Ernest merupakan laki-laki yang ramah dan sabar, tapi dia juga orang yang tegas, sehingga tidak mudah menolerir kesalahan orang lain.


Akan tetapi melihat bagaimana lembut dan baik hatinya Tira, Ernest hanya bisa memandangi kekasihnya itu dengna tatapan kagum, meskipun tidak sepenuhnya Ernest setuju kalau kesalahan itu dengan mudah dilupakan dan dihapuskan, karena bagi Ernest, Janeta harus bertanggungjawab atas kesalahan yang dia perbuat.


“Janeta… sebenarnya apa yang kamu inginkan dari Tira?” Pertanyaan Ernest yang begitu tiba-tiba, membuat Tira maupun Janeta memandang Ernest dengan kaget, karena pertanyaan Ernest seolah-olah menunjukkan bahwa laki-laki itu tidak percaya dengan penyesalan Janeta.


“Ap… apa maksudkmu Ernest? Aku… benar-benar berniat meminta maaf pada Tira karena kesalahanku…”


“Kalau cuma itu niatmu, tidak mungkin kamu datang dengan wajah ketakutan seperti itu. Kamu tahu Tira tidak mungkin akan memukulimu saat kamu mengatakan dengan jujur kesalahanmu. Jadi… apa ada hal lain yang ingin kamu katakan pada kami?” Pertanyaan Ernest selanjutnya, membuat Janeta semakin heran dan semakin bertanya-tanya tentang siapa Ernest sebenarnya, kenapa laki-laki itu dengan mudahnya bisa membaca apa yang sedang ada dalam pikirannya, dan tahu tentnag kondisinya yang sedang ketakutan.

__ADS_1


“Sebenarnya… aku sudah beberapa waktu ini tidak lagi mau menuruti permintaan dari Angel. Akan tetapi ada satu orang lagi yang sepertinya menjadi peneror Tira, memberikan perintah disertai dengan ancaman padaku. Aku tidak tahu siapa dia, karena awalnya aku berpikir bahwa itu adalah Robin….” Janeta menghentikan bicaranya sebentar, dengan tatapan matanya mengelilingi tempat ktu, seolah takut kalau ada orang yang mendengar perkataannya itu, apalagi kalau ternyata orang yang mendengar itu adalah orang misterius yang sama, yang sudah memberikan perintah untuk memisahkan Ernest dan Tira.


__ADS_2