
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus menerima atau menolak pemberian ini?
Luis bertanya pada dirinya sendiri di dalam hati.
“Luis, jangan memikirkan hal yang macam-macam tentang pemberian ini. Kami benar-benar tulus ingin memberikannya padamu karena kami sangat berterimakasih untuk masalaah ini. Kalaupun mungkin bukan kamau yang sudah membantu Tira, tapi orang lain, kami juga akan melakukan hal yang sama pada orang itu….” Enzo kembali berkata begitu melihat Luis yang masih diam tanpa berniat mengambil kertas yang bisa membuatnya segera mendapatkan gitar yang sudah lama diinginkannya itu.
“Sebelum aku menerima pemberian ini, darimana kalian tahu kalau aku sudah begitu lama menginginkan gitar ini?” Pertanyaan dari Luis membuat Enzo menyunggingkan senyum lebar.
“Tentu saja dari beberapa sejawatmu, para dosen yang memang tahu kamu begitu suka pada gitar dan juga memainkannya. Bahkan hampir semua orang tahu kamu begitu suka memainkan gitar dalam segala kesempatan yang ada. Aku rasa hanya dengan sedikit info bahwa kamu begitu suka dengan gitar, sudah cukup untuk memutuskan hadiah apa yang terbaik untukmu. Tidak akan ada orang yang menyjaki gitar, tidak menyukai gitar itu. Apa kami salah memilihnya?” Enzo berkata dengan sikap santai setelah berkata kepada Luis sambil mengetuk-ketukkan ujung jarinya pada selembar kertas yang mampu membuat Luis galau itu.
Tira dan Evan yang duduk berdampingan langsung melirik ke arah Enzo, lalu ke arah Luis.
Astaga… ternyata kata-kata kak Alvero 100 persen benar. Kak Enzo pandai sekali berkata-kata sampai aku hampir tidak percaya kalau dia benar-benar kak Enzo yang aku kenal. Kak Enzo yang tidak pernah bersikap serius terhadap banyak hal.
Tira yang baru menyadari bagaimana Enzo menghadapi Luis, merasa kagum dengan Enzo, sisi keren dari Enzo yang selama ini tidak diketahuinya dengan baik.
“Tidak… aku rasa, tidak ada yang salah dengan pilihanmu, hanya saja aku merasa tidak layak untuk menerima hadiah sebesar ini untuk hal kecil yang aku lakukan bahkan tanpa sengaja dan sekedar beruntung saja.” Luis berusaha menjawab pertanyaan Enzo dengan kata-kata yang dianggapnya tidak akan menyinggung untuk Enzo dan Evan.
“Kalau begitu, kamu bisa memikirkannya dengan baik beberapa waktu ini. Bawa saja kertas itu. Jika dalam waktu seminggu ini kamu belum merasa belum bisa menerimanya, aku akan mencoba membicarakannya dengan keluarga yang lain agar nantinya ketika bertemu lagi aku sudah bisa memberikan hal lain yang mungkin akan bisa membuatmu puas.” Enzo berusaha memberikan penawaran kepada Luis ayng terdiam beberapa saat, tapi apda akhirnya menganggukkan kepalanya.
“Baik, aku akan coba memikirkannya.” Luis berkata sambil menarik amplop coklat itu mendekat ke arahnya, meskipun setelah itu Luis membiarkannya tergelak begitu saja di depannya, tanpa terlihat adanya niat untuk membuka kembali kertas itu, apalagi mengambil secarik kertas itu dari dalam amplop.
__ADS_1
“Oke kalau begitu, kami akan segera pamit terlebih dahulu. Setelah ini kami harus pergi ke kantor polisi untuk mengantar Tira menjadi saksi sebagai korban pelaku teror.” Luis yang mendengar itu langsung melirik ke arah Tira yang sedari tadi memilih untuk diam dan hanya menjadi seorang pendengar yang baik.
“Semoga urusan kalian lancar hari ini.” Luis berkata sambil menatap ketiga orang yang ada di hadapannya, dan sempat terhenti sejenak pada sosok Evan, laki-laki tampan berambut emas yang membuat Luis merasa begitu tersaingi saat ini.
Melihat bagaimana cara Luis menatap ke arahnya, membuat Evan hampir saja tidak bisa menahan tawa gelinya, sehingga membuat Evan harus berdehem pelan dan mengalihkan wajahnya ke samping untuk menahan tawanya meledak keluar di depan Luis.
“Terimakasih untuk waktunya Luis. Aku harap kami mendengar kabar baik kaalau kamu mau menerima pemberian kami dengan senang hati.” Enzo berkata sambil mengulurkan tangannya ke arah Luis yang langsung menjabat tangannya, disusul dengan Evan, dimana saat mereka berdua sedang saling berjabatan tangan, Evan bisa merasakan bagaimana genggaman tangan Luis sekaligus tatapan matanya menunjukkana sikap tidak sukanya kepada Evan, dan terlihat ancaman dari sikapnya itu.
Dengan cepat Evan melepaskan jabatan tangannya sambil melihat ke arah Tira yang sedang bersiap untuk ikut menjabat tangan Luis.
“Terimakasih Pak Luis.” Tira langsung mengucapkan terimakasihnya begitu tangannya dan Luis berjabatan.
Akan tetapi dengan jelas Evan bisa melihat bagaimana Luis menahan tangan Tira agar tetap dalam genggamannya.
“Terimakasih untuk penawarannya Pak Luis, tapi keluarga saya sudah mengaturkan semuanya untuk saya, jadi Anda tidak perlu khawatir karena mereka akan mengaturkan hal yang terbaik untuk saya.” Dengan halus, Tira langsung menolak penawaran dari Luis, yang langsung menatapnya dengan tatapan yang bagi Tira sulit untuk diartikan, hanya saja itu cukup untuk membuat bulu kuduk Tira meremang.
Apa maksudnya itu adalah dengan memberikan pengawal kepada Tira? Dua orang pengawal yang sempat mengganggu rencanaku untuk masuk ke dalam apartemen Tira waktu itu? Benar-benar keluarga yang mengganggu seperti seekor serangga. Apa kamu serius dan yakin kalau mereka bisa melindungimu dengan baik? Harusnya kamu berlari dalam pelukanku jika ingin selalu aman.
Luis berkata dalam hati dengan mata masih menatap tanpa henti ke arah Tira yang sudah terliaht tidak nyaman berada di dekat Luis yang masih saja menjabat tangannya hingga saat ini.
“Tira, setelah dari kantor polisi, bukannya kamu sudah berjanji untuk mentraktirku makan?” Evan yang tiba-tiba berkata kepada Tira sambil menyentuh bahu Tira, membuat Luis langsung menatap tajam ke arah Evan, dan tanpa sadar melonggarkan jabatan tangannya pada tangan Tira, sehingga Tira segera menggunakan kesempatan itu untuk buru-buru menarik tangannya dan mundur dua langkah untuk menjauhi Luis.
__ADS_1
Entah apakah karena kata-kata Ernest, atau karena melihat bagaimana anehnya sikap Luis padanya hari ini, membuat Tira merasa sedikit takut berada terlalu dekat dengan Luis.
“Kalau begitu, kami akan pergi terlebih dahulu. Terimakasih untuk waktunya Luis, selamat siang.” Tanpa memberikan kesempatan kepada Luis untuk mengucapkan kata-kata yang bisa membuat mereka tidak bisa segera pergi dari sana, Evan langsung mengucapkan salam perpisahannya kepada Luis, mewakili Enzo dan Tira.
Setelah itu, Evan dengan cepat memberikan kode kepada Enzo untuk bisa segera meninggalkan tempat itu.
# # # # # #
“Huft….” Enzo segera menarik nafas lega begitu dia sudah dalam posisi duduk kembali di dalam kursi mobil yang ada di samping posisi kursi pengemudi yang ditempati oleh Evan.
“Evan, kenapa kamu bertingkah aneh terhadap Tira hari ini? Apa kamu mau menerima amukan dari Alaya? Bisa-bisanya kamu bertingkah genit seperti itu kepada Tira.” Begitu Evan menjalankan mobil yang dikemudikannya, Enzo langsung terdengar mengomelinya.
Evan yang mendengar omelan panjang untuknya hanya tersenyum tipis sambil melirik ke arah Tira yang sedang melihat ke layar handphonenya, berniat menceritakan hasil pertemuan mereka hari ini dengan Luis, kepada Ernest.
“Tira, dengan omelan Enzo, apa menurutmu aku sudah melakukan hal yang salah tadi?”
“Hmmm?” Tira yang mendengar pertanyaan Evan bergumam pelan dan mengangkat kepalanya, lalu menatap Enzo sambil tersenyum.
“Kak Enzo pura-pura tidak tahu atau memang tidak tahu? Evan tadi sengaja berpura-pura seperti itu untuk melihata bagaimana reaksi pak Luis. Benar kan Evan?” Enzo yang mendengar jawaban Tira langsung menoleh ke arah Evan dengan dahi mengernyit.
“Memancing? Maksudmu? Mau melihat apa Luis itu menyukai Tira atau tidak? Hal seperti itu tidak perlu dibuktikan lagi. Jelas-jelas dia menyukai Tira. Tapia pa masalahnya kalau dia menyukai Tira?” Pertanyaan polos dari Enzo membuat Evan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
__ADS_1