
Sosok Ernest adalah sosok laki-laki yang paling membuat Luis merasa kesal, marah, dan juga cemburu diantara laki-laki lain yang memang selama ini tidak terlalu ditanggapi oleh Tira, sehingga mati-matian Luis berusaha mencari tahu segala hal tentang Ernest agar dia bisa melenyapkan Ernest dengan baik tanpa diketahui oleh siapapun.
Sayangnya, meskipun Luis berusaha melobi beberapa orang yang ada di Gracetian, tidak ada satupun yang bisa memberinya info siapa Ernest sebenarnya, karena sebagai seorang pengawal pribadi Alvero, semua data dan info tentang Ernest ataupun orang-orang yang bekerja di istana, betul-betul ditutup rapat oleh pihak istana, sehingga tidak mudah orang lain mendapatkan info tentang mereka.
Karena untuk orang-orang yang bekerja dalam istana, mereka adalah orang-orang yang benar-benar dilindungi oleh pihak istana dan tidak dengan mudah orang bisa tahu informasi tentnag orang-orang tersebut, meskipun yang mencari info adalah orang-orang dari kalangan bangsawan lain, karena di dalam istana Gracetian, keluarga Adalvino berkuasa mutlak dan semua aturan istana menjadi hak mereka untuk mengaturnya.
Jika saja Luis saat itu tidak melihat kondisi sedang tidak berpihak padanya, dia sebenarnya sudah menyiapkan beberapa preman yang sengaja dia bayar mahal untuk menyerang Ernest di luar kampus, membuatnya paling tidak terluka agar jera untuk mendekati Tira, tapi saat itu Luis berpikir bahwa menggunakan tangan Robin untuk menyakiti Ernest akan lebih efektif.
Sampai akhirnya rencana Luis untuk menyerang Ernest belum berlanjut karena apa yang akan dilakukan Robin tidak sesuai dengan harapan Luis, tiba-tiba saja Luis harus melihat bagaimana Ernest dan Tira yang tampak semakin dekat, sehingga semakin sulit bagi Luis untuk menyembunyikan rasa cemburu dan kemarahannya melihat semua itu.
Belum lagi Luis yang selama ini dengan rela membayar mahal untuk Janeta yang merupakan salah satu sumber informasinya, setelah selesai mengajar Luis mendapatkan pesan baru dari Janeta.
Dari pesan itu Luis mengetahui bahwa para mahasiswa sedang meributkan tentang kabar Ernest dan Tira yang sudah menjadi sepasang kekasih, membuat emosi Luis semakin terpancing.
Meskipun dikenal sebagai salah satu dosen killer, Luis bukanlah orang yang dengan mudah menunjukkan emosi dan perasaannya di depan orang lain.
Namun saat ini, bagi Luis sangat sulit untuk berpura-pura bersikap tenang, sedangkan dadanya terus bergemuruh dan hatinya terasa begitu panas melihat bagaimana dengan mudahnya Ernest berada di dekat Tira, berbicara dan bahkan memeluk Tira dengan sembarangan seperti itu.
Padahal sejak Luis merasa tertarik dengan Tira, laki-laki itu sudah mengklaim bahwa Tira adalah wanita miliknya.
__ADS_1
(Klaim adalah pernyataan kepemilikan terhadap sesuatu).
Bahkan saat mengajar di kelasnya tadi, terlihat jelas bahwa Luis terlihat tidak fokus dengan apa yang disampaikannya kepada para mahasiswa, sehingga ada beberapa hal yang diucapkannya, melenceng dari apa yang tertulis di buku diktat yang sebenarnya sudah dia siapkan dengan baik tadi.
Setelah beberapa bulan terus mengamati Tira, dan beberapa kali menahan rasa cemburunya terhadap para pria yang berusaha mendekati Tira, termasuk Robin, pada akhirnya Ernest yang justru sudah berhasil menjadi kekasih Tira benar-benar membuat kemarahan Luis tersulut.
“Bagaimana kalau besok lusa kita berlatih bersama? Apa kalian berdua bisa?” Tira bertanya kepada Bram dan juga Janeta, karena kalau Ernest, tidak perlu ditanya, Tira yakin pasti akan mengikuti jadwalnya.
“Aku bisa, bagaimana denganmu Janetta?” Bram bertanya sambil emnatap ek arah Janetta yang sedikit tampak gugup, karena sedikit melamun, teringat dengan semua pesan-pesan dari orang yang memintanya memisahkan Ernest dan Tira secepat mungkin.
“Kenapa kamu tidak bertanya apakah aku bisa atau tidak?” Ernest berbisik pelan ke arah telinga Tira, setelah melihat Bram sedang bernegosiasi dengan Janeta.
Bisikan Ernest ke telinga Tira, lagi-lagi bagi Luis terlihat seperti Ernest sedang mengecup telinga atau pipi Tira, membuat dengan cepat Luis membuang mukanya dan melangkah pergi meninggalkan pintu ruangan itu karena sudah tidak tahan dengan apa yang sedang dilihatnya tadi.
Sepertinya, kami berdua benar-benar sudah membuat Luis sangat marah. Setelah putri kembali ke apartemennya, aku harus memastikan kalau Steven dan Edi, semakin memperketat penjagaan di sekitar putri, karena melihat bagaimana wajah marahnya, pasti tidak menunggu lama lagi, dia akan beraksi.
Ernest berkata dalam hati dan menoleh ke arah Bram dan Janeta, berusaha fokus kembali pada pembicaraan mereka.
“Oke kalau begitu, kita semua sepakat berlatih besok lusa di ruang musik kampus.” Bram berkata setelah mereka mencapai kesepatakan.
__ADS_1
“Oke Bram.” Ernest menanggapi kata-kata Bram dengan cepat.
“Kalau begitu kami pergi dulu….” Ernest kembali berkata, kali ini sambil meraih tasnya dan bersiap bangkit berdiri dan pergi meninggalkan kelas itu, diikuti oleh Tira dan juga Bram.
Melihat itu dengan cepat, Janeta menggeser duduknya untuk mendekat ke arah Ernest sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Ernest.
“Ernest… Tira… bisakah kita berbicara sebentar?” Dengan sikap ragu, Janeta berkata kepada Tira dan juga Ernest yang sudah hampir berdiri dari duduknya.
Pertanyaan dari Janeta, membuat Ernest dan Tira saling berpandangan dan saling memberikan kode bahwa diantara mereka berdua tidak tahu kenapa tiba-tiba Janeta ingin berbicara dengan mereka.
“Ah, kalau begitu, tidak masalah kan aku pergi terlebih dahulu? Setelah ini ada kelas lain yang harus aku ikuti.” Bram berkata sambil beranjak pergi, karena dia juga cukup tahu diri untuk tidak mengganggu pembicaraan antara Janeta bersama Tira dan Ernest, yang pastinya, tidak ada kaitan dengannya.
“Oke… apa yang ingin kamu bicarakan dengan kami Janeta?” Ernest bertanya sambil melepaskan tali tas rancel yang awalnya sudah tergantung di lengannya.
“Eh… tapi… sebenarnya… aku ingin membicarakan ini di tempat lain. Apakah kalian ada waktu untuk bertemu denganku di tempat lain? Mungkin di café atau manapun, asal jangan di kampus ini.” Dengan suara pelan dan ragu, Janeta berkata kepada Ernest dan Tira.
Ernest sedikit mengernyitkan dahinya begitu mendengar permintaan dari Janeta, karena dia bsia melihat adanya aura ketakutan yang terpancar dari mata dan wajah Janeta saat ini.
“Tidak masalah untukku, karena memang aku sudah tidak ada perlu di kampus untuk hari ini. Menurutku Tira juga tidak akan keberatan karena kelasnya pun hanya satu hari ini. Dan sudah selesai.” Ernest langsung mewakili Tira untuk menanggapi permintaan dari Janeta yang dipertegas oleh Tira dengan anggukan di kepalanya.
__ADS_1
“Kalau begitu, sebaiknya kita pergi sekarang, karena jujur saja saat ini aku benar-benar dikejar waktu. Aku harus segera berbicara serius dengan kalian berdua.” Janeta berkata sambil bangkit dari duduknya, dan melihat ke arah Ernest dan Tira yang ikut bangkit berdiri, untuk selanjutnya berjalan bersama Janeta ke arah parkiran mobil.
Sepanjang jalan menuju ke arah parkiran, Ernest bisa melihat dengan jelas kegelisahan dari Janeta yang bahkan sempat hampir tersandung oleh kakinya sendiri saat berjalan..