
Bagi Ernest dan Erich yang sudah ditetapkan sejak kecil akan menjadi pengawal pribadi Alvero yang saat itu masih menjadi putra mahkota, kedua saudara kembar itu selain mendapatkan pelatihan fisik, juga harus belajar banyak tentang semua aturan dan tata krama kehidupan para putri dan pangeran di istana Gracetian, meskipun mereka tidak mempelajarinya dalam waktu yang lama dibandingkan dengan para putri dan pangeran yang diwajibkan untuk terus menjalani pelatihan tersebut.
Ernest sengaja melakukan hal itu di depan Janetta, agar gadis yang dikenal suka menggosip itu besok langsung menceritakan pada seisi kampus tentang apa yang sudah dia lakukan, dan semakin memancing kemarahan sekaligus kecemburuan si peneror.
Untuk Anna, sejak awal Tira sudah menceritakan apa yang akan dilakukan Ernest untuk memancing peneror itu, sehingga Anna hanya perlu menjadi bensin yang menyiram api, membuat api semakin besar dan tersebar.
Akan tetapi melihat apa saja yang dilakukan Ernest hari ini, dalam hatinya, Anna benar-benar tidak yakin kalau Ernest melakukan semua itu hanya karena akting, meskipun di depan Janetta Anna tidak berani menanyakan hal itu, tapi Anna sungguh menunggu kesempatan untuk dia bisa mengorek hati Ernest tentang hal itu.
"Ernest, kamu romantis sekali.... apa arti dari pemberianmu ini?" Anna yang melihat itu dengan senyum lebar di wajahnya berkata sambil menatap ke arah bunga mawar yang terlihat begitu segar, dan dengan asal-asalan berkata meskipun sebenarnya Anna tidak tahu arti dari mawar merah sejumlah 36 tangkai itu.
"Apa kamu tahu artinya Anna?" Pertanyaan balik dari Ernest langsung dijawab dengan sebuah gelengan kepala dari Anna dengan senyum lebar di wajahnya.
"Mawar dikenal dengan bunga yang melambangkan cinta dan romantisme, sedang detail jumlah tangkai...." Ernest menghentikan kata-katanya sejenak dengan mata melirik ke arah Tira yang wajahnya terlihat begitu memerah begitu mendengar bagaimana Ernest berniat untuk menjelaskan dengan detail tentang arti dari ke 36 tangkai mawar yang barusan diberikannya pada Tira.
Ah... wajah putri terlihat sungguh menggemaskan dan semakin cantik dengan wajah malu-malunya itu. Hah... kenapa anda terlihat begitu menarik putri? Kadang aku berpikir, mungkin bukan 100% kesalahan dari peneror itu jika dia begitu jatuh cinta pada putri hingga terobsesi. Karena putri... adalah gadis yang begitu cantik dan seperti orang yang memiliki magnet untuk bisa menarik orang lain untuk mendekat karena terpesona.
__ADS_1
Ernest berkata dalam hati dengan matanya terus melirik ke arah Tira dengan tatapan terpesonanya.
Tindakan itu tentu saja tidak lepas dari pengamatan Anna yang tersenyum, dan juga Janetta yang sedikit melongo melihat bagaimana saat ini dia sedang melihat bagaimana sosok Ernest yang tampan, dengan tatapan mata lembut dan mesra sedang melirik ke arah Tira.
"Ayo Ernest... lanjutkan lagi kata-katamu tentang mawar itu...." Dengan nada sedikit merengek, Anna yang merasa begitu penasaran kembali meminta Ernest untuk menjelaskan tentang mawar.
"Ah ya... mawar merah sejumlah 36 tangkai, menjelaskan bahwa orang yang memberikan mawar itu sedang tergila-gila pada penerima mawar." Ernest menjawab dengan suara cukup pelan, yang membuat suasana menjadi syahdu.
"Hah?" Penjelasan Ernest sukses membuat Anna dan Janetta melongo dengan pandangan kaget begitu mendengar arti dari 36 tangkai mawar itu.
"Aku... benar-benar tidak menyangka kalau arti bunga yang barusan kamu berikan pada Tira memiliki arti yang begitu mendalam...." Dengan wajah masih terlihat kaget, Anna menjawab pertanyaan Ernest.
Apa benar kamu tergila-gila padaku Ernest? Andai saja itu adalah benar-benar isi hatimu... bukan sekedar akting, aku bahkan ingin waktu berhenti agar aku bisa terus merasakan sikap manismu yang benar-benar selalu tidak terduga seperti ini.
Tira berkata dalam hati dengan sikap canggung, dan merasa sedikit bersyukur Ernest tidak mengambil posisi di dekatnya, yang saat ini tangannya yang saling menggenggam di atas pangkuannya sendiri terasa begitu dingin, dengan dada yang terus berdebar sejak Ernest menyodorkan bunga itu untuknya.
__ADS_1
"Eh, sebentar ya.... Aku permisi sebentar... mau ke toilet...." Janetta berkata sambil bangkit dari duduknya.
"Jangan lama-lama Janetta, makanan kita sebentar lagi pasti selesai. Tidak akan enak memakan steak kalau tidak hangat." Anna langsung mengingatkan Janetta yang sudah berdiri dan berencana pergi ke toilet.
"Jangan khawatir, aku akan segera kembali." Janetta langsung menjawab perkataan Anna.
"Ernest... apa kamu ini benar-benar serius, atau hanya sekedar akting karena tuntutan pekerjaanmu sebagai pengawal pribadi Tira?"
"Hust!" Tira langsung menempelkan jari telunjuknya di bibirnya begitu Anna menanyakan hal seperti itu, sedang Janetta masih berada di dekat mereka.
"Upst...." Dengan cepat Anna langsung menutup bibirnya begitu melihat kode teguran dari Tira, yang dengan keberadaan peneror itu, memang tidak mau dengan mudah percaya kepada orang lain, termasuk Janetta yang memang sering mengobrol dengannya, tapi Tira belum bisa percaya sepenuhnya seperti dia percaya pada Anna, karena popularitas Janetta sebgai tukang penyebar berita di kampus.
Meskipun tidak semua berita yang disebarkan oleh Janetta adalah berita bohong, tetap saja membuat Tira merasa belum nyaman saat bersamanya, dan belum bisa terlalu percaya padanya.
Ernest sendiri, meskipun terlihat tersenyum dan fokus pada Anna dan Tira yang sedang saling berbisik, tapi ujung matanya tetap mengawasi pergerakan Janetta yang ternyata, secara diam-diam, mengambil foto Tira bersama dengan bunga mawar pemberian Ernest, dengan posisi Ernest yang duduk berhadapan dengannya.
__ADS_1