
“Tuan Ernest, kami sudah mengantarkan putri kembali ke mansion dan kami akan segera kembali ke apartemen karena putri ingin kita melanjutkan penyelidikan tentang peneror itu, dan tidak mengijinkan kami untuk menjadi pengawalnya selama putri tinggal di mansion keluarga Shaw.” Penjelasan Edi membuat Ernest yang sudah mengira akan seperti itu hanya bisa menahan nafasnya sebentar sebelum dia menanggapi perkataan Edi.
“Sepertinya putri Tira untuk sementara ini agar kita fokus pada penyelidikan kita. Tadi putri juga mengatakan kalau besok dia akan dibantu oleh para pengawal yang dibawa oleh yang mulia untuk pergi ke kampus. Jadi kami berdua bisa terus melakukan penyelidikan.” Perkataan Edi selanjutnya sungguh membuat hati Ernest seperti teriris.
Meskipun tadinya Ernest sudah bersiap untuk melepaskan hatinya yang begitu terikat oleh Tira, tapi mendengar kata-kata Edi barusan, Ernest tahu dan sadar sepenuhnya bahwa sepertinya dia tidak akan bisa dengan mudah melakukan niatnya itu.
Apa setelah semuanya berlalu lebih baik aku mundur dari posisiku sebagai pengawal pribadi yang mulia Alvero dan pergi jauh dari kota Tavisha. Apa lebih baik aku mengurus sendiri usaha yang sudah aku bangun di Belanda bersama Erich?
Ernest masih saja berusaha memikirkan hal terbaik apa yang bisa dia lakukan agar semuanya bisa berjalan dengan semestinya, termasuk bagaimana seharusnya seorang knight yang tidak boleh jatuh cinta pada seorang putri, seperti yang sudah terjadi pada dirinya saat ini.
Sebuah hal yang di Gracetian dianggap sebagai sebuah hal yang sangat dianggap kurang ajar, karena dia bisa dianggap seperti orang dalam peribahasa pagar makan tanaman oleh keluarga istana.
(Peribahasa pagar makan tanaman dapat diartikan tentang seseorang yang diberikan kepercayaan untuk menjaga dan melindungi sesuatu yang ternyata justru menjadi orang yang menghilangkan atau merusak barang itu, menjadi orang yang menyalahgunakan kepercayaan yang sudah diberikan padanya).
__ADS_1
“Aku akan segera menyusul kalian ke apartemen. Hari ini jadwalku kegiatanku di kampus sudah tidak adalagi. Seperti kata Putri, ayo kita segera selesaikan semuanya dengan cepat, dan kita segera kembali ke Gracetian.” Ernest berkata sambil memaksakan dirinya untuk fokus kembali pada tugas dan kewajibannya, bersiap untuk kembali ke apartemen dan menyelesaikan penyelidikannya bersama yang lain.
“Siapkan semua info yang berhasil kalian dapat, aku sedang dalam perjalanan kembali ke apartemen.” Perintah dari Ernest segera diiyakan oleh Edi sebelum mereka memutuskan panggilan telepon itu.
# # # # # #
Ernest menghentikan langkahnya sejenak sambil menarik nafas panjang begitu dia tiba di depan pintu apartemen yang ditempatinya.
Dengan gerakan pelan dan tampak ragu Ernest menoleh ke arah samping, dimana dia bisa menatap ke arah pintu apartemen Tira yang bisa dilihatnya dari tempatnya berdiri.
Akhirnya dengan hembusan nafas yang tampak berat, Ernest menggerakkan tangannya untuk membuka pintu apartemennya sendiri dan masuk untuk menemui Edi dan Steven yang sudah menenunggunya di dalam.
“Steven, bagaimana perkembangan penyelidikan kita hari ini?” Dengan sikap yang dia usahakan sebiasa mungkin Ernest berkata sambil mendekat ke arah Edi dan Steven yang tampak serius di meja kerja mereka.
__ADS_1
Ernest dan Edi langsung menolah ke arah pintu masuk apartemen begitu mendengar suara dari Ernest.
“Ah, Anda sudah datang Tuan Ernest? Kami sedang mengamati rekaman cctv di perpustakaan dan mencatat semua nama-nama orang yang berada dalam rekaman itu.” Steven langsung menjawab pertanyaan Ernest.
“Tuan Ernest, ini adalah nama-nama orang yang saat itu berada di perpustakaan di jam yang sama dengan pelaku teror yang sedang mengirimkan pesan berisi teror pada putri Tira.” Edi menyerahkan data nama-nama semua orang yang disebutkan olehnya tadi kepada Ernest yang langsung mengambil buku catatannya tentang orang-orang di parkiran yang waktu itu sempat dia curigai dan dia sengaja memberikan tanda berupa tanda bintang.
Mata Ernest sedikit menyipit begitu melihat setiap nama yang sudah dia berikan tanda bintang, secara kebetulan, hari itu semua nama-nama itu juga sedang berada di perpustakaan, sehingga membuat Ernest menghela nafas panjang karena itu.
“Jalan buntu lagi….” Ernest berkata dengan suara pelan dengan mata masih menatap dengan tatapan tidak percaya kerena kebetulan yang terjadi tentang info itu membuat penyelidikan mereka kembali terhenti.
“Kami juga merasakan hal yang sama Tuan Ernest. Kenyataan tentang kebetulan itu sungguh membuat frustasi.” Edi berkata sambil melirik Steven masih berkutat di depan layar laptopnya, mengamati rekaman cctv di perpustakaan pada saat terjadinya teror itu.
“Lalu, apa yang bisa kita lakukan sekarang Tuan Ernest, apa adalagi yang bisa kita lakukan untuk menemukan petunjuk selanjutnya?” Edi bertanya sambil melihat ke arah mata Ernest yang sedang menatap ke layar laptop milik Steven.
__ADS_1
“Steven… tolong ulang dari awal rekaman cctv di perpustakaan itu. Aku ingin kita sekarang fokus terhadap gerakan orang-orang yang sedang memegang handphone atau laptopnya di saat itu. Kita akan mengamati orang-orang itu dengan lebih detail. Kita sisihkan terlebih dahulu orang-orang yang sednag mengobrol atau membaca buku karena mereka tidak mungkin mengirimkan pesan teror sambil membaca buku.” Ernest berkata sambil menatap tajam ke arah monitor laptop.