MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
PENYELIDIKAN KEMBALI DIMULAI


__ADS_3

“Jangan begitu… kamu tidak boleh merebut yang sudah menjadi milik atau pengikut orang lain.” Cladia berkata sambil tersenyum tipis, membuat Alvero maupun Deanda tersenyum geli melihat bagaimana wajah Ornado yang langsung terlihat lembut dan penuh kasih sayang saat memandang ke arah Cladia, sungguh berbanding terbalik dengan saat Ornado memandang orang lain dengan wajah tegas dan berwibawanya.


“Tentu saja tidak amore mio. Aku hanya bercanda. Mana mungkin Alvero mau melepaskan kedua pengawalnya yang berharga itu….” Jawaban Ornado yang tidak perduli kalau orang bisa berpikir bahwa dia adalah jenis suami yang begitu takut dengan istrinya, membuat mereka yang lain tersenyum geli, termasuk Deanda dan Alvero.


“Jangan khawatir my Al. Kalau Ornado berani macam-macam dengan kita, kita bisaa langsung meminta Cladia menghentikannya, disuruh untuk berdiri di tempatya seperti patung pun, aku yakin Ornado akan melakukan permintaan dari Cladia.” Deanda berkata sambil menatap ke arah Cladia yang sedang saling berpandangan dengan Ornado.


“Kamu salah Deanda, dia bukan orang yang mudah untuk menuruti keinginanku. Tapi aku tidak pernah keberatan dengan hal itu, karena semua yang Al lakukan untukku, selalu adalah hal yang terbaik untukku….” Cladia berkata sambil tersenyum manis ke arah Ornado yang hanya bisa menahan nafasnya, melihat bagaimana manis dan cantiknya sikap istrinya saat ini.


“Wah…. Benar-benar romantis….” Deanda berkata sambil menepuk pelan paha Cladia yang langsung mengalihkan pandangannya kepada Deanda.


“Ah… rasanya menyesal sekali aku tidak mengajak Alaya ke Amerika. Di sini, aku jadi seperti bujangan lapuk yang tidak laku disini, padahal aku juga memiliki seorang istri cantik yang harusnya bisa bersamaku menikmati waktu yagn aku habiskan di sini. Sekarang aku harus menelan mentah-mentah rasa iri dan rindu karena pemandangan dimana kalian selalu bermesraan di depanku tanpa perasaan.” Kata-kata Evan dengan wajah tenang dan senyum malaikat seperti biasanya membuat yang lain langsung tertawa tergelak.


“Apa kalian sudah selesai menikmati makan pagi kalian?” Alvero langsung bertanya kepada yang lain, karena setelah ini dia dan Ernest maupun Erich akan melakukan penyelidikan terhadap barang yang mereka bawa semalam dari kediaman Theo.


“Kami sudah selesai.” Ornado berkata sambil mengelus lembut perut Cladia yang sudah tampak membuncit, menunjukkan bagaimana tidak bisanya dia lepas dari sosok Cladia sedikitpun.

__ADS_1


“Amore mio… aku akan pergi bersama Alvero sebentar. Ada baiknya kamu tetap di sini bersama yang lain. Aku tidak mau pikiranmu ikut tegang mendengar apa yang akan kami bicarakan nanti.” Ornado berkata sambil matanya memandang ke sekelilingnya, dan matanya terhenti begitu menatap Laurel yang tampak sedang bercanda dengan Dave, tidak jauh dari temapt mereka berada sekarang.


“Laurel….” Suara panggilan dari Ornado membuat Laurel langsung menoleh ke arahnya.


“Aku titipkan Cladia sebentar kepadamu….”


“Al… aku bukan barang, kenapa dititipkan?” Cladia langsung protes dengan apa yang dikatakan oleh Ornado pada Laurel yang tampak berjalan mendekat ke arah mereka bersama dengan Dave.


“Siapa bilang kamu barang? Kamu adalah hal paling berharga milikku, melebihi nyawaku sendiri.” Ornado berkata sambil mengelus lembut rambut di kepala Cladia, membuat lagi-lagi, wajah Cladia memerah karena perlakuan manis Ornado di depan banyak orang.


“Ada urusan yang harus aku selesaikan dengan Alvero.” Ornado langsung berkata kepada Laurel yang bisa langsung menangkap dengan jelas bahwa apa yang akan dibicarakan oleh mereka lebih baik tidak didengar oleh Cladia yang kondisi fisiknya setelah hamil memang kurang baik.


“O…. Oke. Biar aku temani Cladia bersama Elenora dan Evelyn. Kalian pergilah.” Laurel berkata sambil menarik sebuah kursi, yang langsung dibantu oleh Dave, dan duduk di sana, di dekat Cladia.


“Kalau begitu, biar kami pergi sebentar.” Alvero yang sudah bangkit dari duduknya segera mengajak Erich, Ernest, Evan, Ornado dan juga Deanda yang sejak semalam juga merasa penasaran dengan siapa Theo sebenarnya dan apa hubungannya dengan Eliana.

__ADS_1


# # #  # #  #


“Ini semua benda yang sudah saya tuliskan dalam laporan kepada Yang Mulia semalam.” Ernest berkata sambil menyodorkan jam yang ditemukan Erich di kamar Theo, dan belasan surat yang ditemukan Ernest di ruang kerja milik Theo.


Semua benda-benda itu diletakkan di atas meja oleh Ernest, meja dimana mereka yang ada di ruangan itu duduk mengelilinginya.


“Mmmm….” Alvero bergumam pelan sambil menatap ke arah benda-benda itu, diikuti oleh yang lain, yang matanya juga terfokus pada jam dan surat-surat itu.


Dengan perlahan, Evan mengambil jam dengan rantai berwarna ema situ.


“Dilihat dari fisiknya, sepertinya ini memang terbuat dari emas, entah semuanya atau hanya bagian lapisan luarnya saja. Bagaimana menurutmu Alvero?” Evan berkata dengan ujung ibu jarinya mengelus bagian kaca dari jam saku itu.


“Untuk membedakan itu emas murni atau bukan, sepertinya Cladia adalah orang yang paling mengerti dengan perhiasan. Bukannya begitu Ad?” Alvero berrkata sambil memandang ke arah Ornado yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Sayang Cladia tidak ada di sini….”

__ADS_1


“Biar aku menunjukkan jam itu pada Cladia, agar dia bisa menilai keasliannya.” Ornado segera memotong perkataan Evan, dan mengulurkan tangannya kepada Evan yang masih memegang jam itu di tangannya.


__ADS_2