
"Ah... ya. Aku belum terbiasa dengan cara kerja kalian, karena selama ini aku tidak pernah memiliki pengawal pribadi, terutama kamu pengawal pribadi kak Alvero yang harus selalu siap siaga dan awas dalam segala kondisi." Tira berkata sambil tersenyum dan melangkah masuk ke dalam apartemennya.
"Ernest, untuk kamarku, tolong kamu yang memeriksa, karena aku tidak mau sembarangan orang masuk ke sana. Kamarku yang itu!" Perkataan selanjutnya dari Tira yang diucapkan sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu kamarnya membuat Ernest sedikit tertegun.
"Ini kuncinya...." Tira menyodorkan kunci di tangannya ke arah Ernest tanpa memandang wajah Ernest, karena dia sendiri sedang menundukkan kepalanya, memandang ke arah dalam tas yang tersampir di bahunya, dan berusaha mencari sesuatu di dalam sana dengan tangannya yang lainnya, sehingga tidak menyadari kalau ada semburat merah di wajah Ernest meskipun hanya sebentar saja mampir di wajah tampannya itu.
Bagi Ernest, perintah Tira barusan menunjukkan bagaimana Tira yang lebih percaya padanya dibandingkan dengan yang lain, menimbulkan adanya rasa bangga di hatinya.
"Baik Putri...." Ernest berkata sambil meraih kunci yang disodorkan Tira sebelum akhirnya berjalan ke arah pintu kamar Tira.
Begitu Ernest membuka pintu kamar tidur, bau harum yang terasa lembut menyapa hidung mancungnya, membuat Ernest menghentikan langkahnya sejenak, dan tanpa sadar menarik nafas dalam-dalam untuk dapat lebih lagi menikmati aroma dari kamar itu.
Aroma yang cukup untuk membuat hati Ernest terusik dengan dada yang berdebar-debar karenanya.
Dengan gerakan pelan, Ernest melongokkan kepalanya ke dalam pintu kamar Tira, dimana interior di dalam kamar itu menunjukkan bahwa itu adalah kamar milik seorang gadis, dipenuhi dengan warna-warna pastel yang lembut, dan berbagai aksesoris yang menunjukkan ciri khas sisi kewanitaan Tira, seperti sebuah boneka berbentuk beruang berukuran sangat besar dalam posisi duduk di salah satu sudut ruangan itu.
__ADS_1
Melihat nuansa kamar yang ditempati oleh Tira, orang langsung bisa menebak kalau kamar itu ditempati oleh seorang gadis yang memiliki sifat lemah lembut, pas sekali untuk menggambarkan sosok Tira, membuat bibir Ernest menyungingkan sebuah senyuman mengingat sosok cantik putri itu.
Dengan mata awas dan tajam, begitu Ernest melangkah masuk, tatapan matanya langsung menyapu seluruh ruangan, mencoba menemukan apakah ada sesuatu yang mencurigakan di sana.
Ernest berjalan berlahan dengan mata mengamati sekelilingnya, sedang tangannya sibuk meraba-raba benda-benda yang ditemuinya, mencoba memeriksa adanya jejak penyusup atau tidak dan mencoba mencari adanya keberadaan alat perekam yang ditanam di sana.
Saat ini Ernest benar-benar tidak ingin melewatkan hal sekecil apapunm yang bisa membuat Tira dalam bahaya, sehingga dia benar-benar teliti memeriksa seluruh sudut ruangan dan juga perabot yang ada di kamar itu.
"Apa kamu menemukan sesuatu Ernest?" Suara Tira yang tiba-tiba terdengar membuat Ernest langsung menoleh ke arah pintu kamar dimana Tira tampak melangkah masuk ke dalam kamar.
"Sampai saat ini, semuanya saya pastikan aman Putri." Ernest berkata sambil menegakkan tubuhnya yang tadi sedikit membungkuk saat memeriksa sebuah meja di depannya.
"Kalau begitu saya akan mengecek bagaimana hasil pemeriksaan dari Steven dan Edi." Ernest yang merasa tidak seharusnya berada di kamar hanya berdua dengan Tira langsung berpamitan kepada Tira.
"Oke, aku juga akan mengganti pakaianku dan sedikit bersantai hari ini." Perkataan Tira membuat Ernest bergegas kelaur dari kamar Tira sambil menahan dirinya sekeras mungkin agar tidak menoleh ke belakang, untuk melihat ke arah Tira.
__ADS_1
# # # # # #
"Apa semuanya baik-baik saja?" Tira yang sudah mengenakan pakaian santainya bertanya kepada kepada Ernest, Steven dan Edi yang tampak sedang berkumpul di ruang tamu dan membicarakan tentang hasil pemeriksaan mereka terhadap apartemen yang ditempati oleh Tira.
"Semuanya dalam kondisi aman Putri, hanya beberapa benda yang menurut kami cukup aneh, disertai dengan surat-surat di dalamnya." Ernest menunjuk pada satu kotak berisi hadiah-hadiah dari peneror yang rencananya akan disumbangkan oleh Tira.
Wah, bukannya benda-benda itu sudah aku sembunyikan dengan begitu baik? Ternyata mereka masih saja bisa menemukannya.
Tira berkata dalam hati sambil menatap ke arah kotak yang dimaksudkan oleh Ernest, yang tadinya diberikan oleh Steven dan Edi.
Meskipun Tira tahu Ernest dan yang lain tidak mungkin berani membuka surat-surat itu, tapi Tira bisa menebak kalau Ernest pasti sudah bisa menduga surat apa itu karena sebelum kepergiannya sebgai pengawal pribadinya, Alvero sudah menceritakan tentang apa yang terjadi pada Tira dan kenapa saat ini Tira membutuhkan pengawal pribadi untuk menjaganya sepanjang waktu.
"Itu benda-benda dari peneror itu. Sebagian sudah aku buang, dan sisanya itu rencananya akan aku sumbangkan ke panti asuhan." Tira berkata kepada Ernest yang tampak mengangguk-anggukkan kepalanya yang matanya masih menatap dengan penuh selidik ke arah barang-barang dalam kotak itu.
"Jika diperbolehkan, saya ingin meneliti tentang benda-benda ini sebelum diberikan kepada orang lain, untuk memastikan semuanya baik-baik saja." Permintaan Ernest membuat Tira terdiam sejenak.
__ADS_1
"Ambil saja. Untuk surat-surat itu, sepertinya kamu juga perlu untuk membacanya. Mungkin kamu bisa menemukan petunjuk dari sana." Tira berkata sambil mengarahkan tangannya ke arah kotak berisi benda-benda itu.
"Terimakasih Putri. Edi dan Steven, kalian bawa kotak itu ke apartemen yang akan kita tempati, sebentar aku akan menyusul kalian." Ernest berkata sambil mengambil suatu benda berbentuk seperti jam tangan dari saku jasnya.