
“Lebih dari siapapun kita tahu kalau istriku sangat familiar dengan perhiasan, bukan hanya sekedar desain, tapi juga bahan bakunya, termasuk emas.” Ornado berkata dengan percaya diri dan bangga saat mengatakan tentang hal itu.
Sebenarnya Ornado bisa saja mengajak Cladia untuk datang ke ruangan itu dan membantu untuk mengidentifikasi bahan dari jam saku itu, tapi….
Ornado tidak ingin Cladia berada di tempat itu dan mendengar semua pembicaraan serius tentang Theo dan Eliana, karena bagi Ornado itu akan membuat Cladia merasa tidak nyaman.
“Ad… berikan saja pada Ernest atau Erich, biar salah satu dari mereka yang mengantarnya kepada Cladia. Kamu tetaplah di sini.” Alvero langsung berkata sembari memberikan tanda kepada Erich dan Ernest, agar menerima jam saku dari tangan Ornado.
Melihat itu, Ernest segera mengajukan dirinya untuk mengantar jam itu pada Cladia.
Sekilas sebelum mereka meninggalkan ruang makan, Ernest tadi sempat melihat bagaimana Tira yang baru saja melangkah memasuki ruang makan dari pintu yang lain.
Sejak awal Ernest memasuki ruang makan, matanya memang langsung sibuk mencari sosok Tira, tapi karena tidak berhasil menemukannya, akhirnya Ernest menyerah dan berpikir dia akan bisa bertemu Tira ketika nanti dia harus mengantar Tira ke kampus.
Akan tetapi, melihat sosok Tira yang baru datang ke ruang makan sedangkan Ernest sendiri harus pergi mengikuti Alvero dan yang lain, membuat Ernest dengan cepat mengajukan diri untuk kembali ke ruang makan menemui Cladia, sambil mencari kesempatan untuk bisa melihat apakah Tira masih ada di sana.
Meskipun Ernest sadar bahwa kemungkinan besar dia hanya bisa melihat sosok Tira dari jauh, tapi sekecil apapun itu, dia tidak ingin melewatkannya untuk bisa memandang wajah cantik kekasihnya itu.
Tira sendiri, setelah Ernest mengirimkan pesan untuknya begitu misinya bersama Erich selesai, langsung tertidur setelah memasang alarm agar dia tidak terlambat untuk bangun dan bisa mengikuti acara makan pagi bersama yang lain, dimana dia juga pasti akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Ernest.
Namun sungguh diluar dugaan, Tira yang semalaman tidak bisa tidur karena menunggu kabar dari Ernest, setelah benar-benar membaca pesan yang dia tunggu itu, justru dia langsung tertidur nyenyak sehingga suara bunyi alarm dari handphone yang sudah disettingnya, tidak terdengar sama sekali oleh telinganya.
__ADS_1
Bukan hanya sekali, tapi setelah lebih dari 5 kali alarm itu berbunyi, baru bisa membuat Tira membuka matanya dengan susah payah.
Begitu melihat jam yang sudah menunjukkan dia terlambat bangun hampir satu jam dari waktu yang sudah dia rencanakan, dengan gerakan cepat sekaligus terburu-buru, Tira melompat turun dari tempat tidur, dan berusaha menyelesaikan bersiap ke meja makan dengan cepat.
Sayangnya, meskipun terburu-buru, ternyata Tira hanya bisa melihat sosok Ernest dari belakang, itupun hanya dari jauh, karena Tira benar-benar terlambat datang di ruang makan.
Saat Tira datang, Alvero dan yang lain sudah menyelesaikan makan pagi mereka, dan berniat pergi ke ruangan lain untuk membahas masalah misi Ernest dan Erich kemarin malam.
# # # # # # #
Begitu memasuki ruang makan kembali, mata Ernest langsung menangkap sosok Tira yang kebetulan sedang berbicara dengan Cladia dan juga Evelyn.
“Mohon maaf Nyonya Cladia, bisakah saya mengganggu waktu Anda sebentar?” Dengan sikap sopan Ernest bertanya kepada Cladia yang langsung menoleh ke arah Ernest.
Selain Ernest, baik Evelyn maupun Tira jadi ikut memandang ke arah Ernest, yang tampak menyungingkan senyumnya dengan sikap ramah, dengan mata melirik ke arah Tira secara diam-diam.
Hanya dengan mencuri pandang secara diam-diam ke arah Tira, tapi bagi Ernest itu sudah cukup membuatnya merasa puas, dan membuat dadanya berdegup kencang karena itu.
Meskipun yang lain tidak terlalu sadar, akan tetapi Tira bisa merasakan bahwa mata Ernest sedang menatapnya dengan tatapan penuh makna, penuh dengan rasa cinta dan terlihat jelas bagaimana laki-laki begitu merindukan Tira, meskipun dalam hitungan jam, mereka belum lama berpisah.
Menyadari semua itu, Tira hanya bisa menahan senyumnya, dengan sedikit menahan nafasnya.
__ADS_1
“O, Ernest, ada masalah apa? Apa ada yang bisa aku bantu?” Cladia bertanya begitu melihat ke arah Ernest yang baru menyapanya.
“Mohon maaaf karena mengganggu waktu Anda, saya diminta oleh tuan Ornado memberikan ini kepada Nyonya Cladia, agar bisa melakukan penilaian terhadap bahan dari jam saaku ini.” Ernest berkata sambil menyodorkan jam saku itu kepada Cladia.
Dengan sikap ragu dan gerakan pelan, Cladia mengambil jam saku itu dari tangan Ernest, tentunya dengan berusaaha agar tangannya tidak menyentuh sedikitpun tangan Ernest yagn sedang menyodrokan jam saku itu.
Beberapa saat kemudian, Cladia tampak mengamati jam itu dengan wajah sangat serius, dengan tangannya beberapa kali tampak mengelus-elus jam itu.
“Jam ini terbuat dari logam yang dilapisi emas, tapi rantai dari jam ini, benar-benar merupakan emas murni dengan kadar lebih dari 80 persen. Di bagian dalam jam, hiasan yang merupakan titik-titik itu… merupakan berlian asli dengan karat yang cukup tinggi.” Cladia berkata dengan tatapan yakin dan tangannya terukur ke arah Erenst, mengulurkan jam tangan saku itu ke arah Ernest kembali.
“Terimakasih untuk penjelasan Nyonya, saya akan kembali menemui yang mulia dan yang lain. Selamat siang Nyonya Cladia….” Ernest langsung berpamitan kepada Cladia, meskipun sebenarnya dia masih ingin menikmati keberadaan Tira meski hanya bisa mencuri pandang tanpa berani menyapa apalagi mengajaknya berbicara.
# # # # # # #
“Seperti yang dikatakan Cladia, sepertinya benda ini sangat berharga bagi pemiliknya, karena bisa dilihat dari bahannya yang cukup mahal.” Alvero berkata dambil membolak-balikkan jam itu, dan menghela nafasnya begitu matanya menatap tajam ke arah simbol milik keluarga Eliana yang berasal dari golongan seorang baron.
“Evan, diantara kita, kamu adalah orang yang paling hafal dan mengenal simbol-simbol dari keluarga bangsawan di negara Gracetian.” Alvero berkata sambil menyodorkan ke arah Evan, jam yang ada dalam tangannya.
Begitu Evan mengambil jam itu dan memeriksa tentang simbol yang terukir di balik jam saku itu, Evan langsung meletakkan jam itu di atas meja yang ada di hadapan Alvero.
“Ini memang simbol milik keluarga Baron yang dimiliki oleh Eliana, yang diturunkan secara turun temurun kepada para keturunannya.” Evan berkata setelah berdehem pelan.
__ADS_1