MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
MULAILAH BELAJAR


__ADS_3

“Jika kamu merasa kesulitan atau ada hal yang membuatmu ragu untuk kamu lakukan berhubungan dengan rencana kita, kamu bisa mengatakannya padamu Ernest. Kamu tidak perlu merasa terlalu sungkan jika kamu tidak percaya diri dengan rencana yang akan kamu lakukan bersamaku nanti.” Dengan sikap tenang, Tira berkata kepada Ernest yang wajahnya masih saja terlihat linglung karena belum bisa menguasai pikirannya dengan baik.


Ide tentang dia yang akan berusaha mendekati Tira dan menunjukkan bagaimana dia merupakan laki-laki yang menyukai Tira, membuat jantung Ernest tidak berhenti bergejolak di dalam sana, sejak Tira menyampaikan ide yang bagi Ernest, pasti dianggap sebagai sebuah ide gillll…llla oleh Erich, jika saudara kembarnya itu tahu tentang rencana ini.


Dan Ernest sendiri cukup bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana marahnya Erich padanya jika sampai saudara kembarnya itu tahu dia menerima dan setuju dengan ide Tira itu.


“Terimakasih Putri. Saya akan berusaha sebaik mungkin, dan semoga rencana kita kali ini benar-benar akan menuai hasil yang baik.” Ernest berkata dengan suaranya yang masih terdengar sedikit ragu, dan Steven maklum sekali dengan hal itu, tapi tidak dengan Tira yang justru terlihat begitu bahagia sejak Ernest bersedia melaksanakn idenya itu.


Bahkan Tira merasa begitu tidak sabar untuk menunggu aksi apa saja yang akan dilakukan Ernest untuk menunjukkan bahwa laki-laki itu sedang mengejar-ngejaranya dan begitu menyukainya.


Dan yang pasti, dalam hatinya yang paling dalam, Tira berharap, ke depannya, itu bukan sekedar akting, tapi Ernest benar-benar menyukainya dan memandangnya sebagai wanita, bukan seorang putri yang menjadi pimpinannya, sehingga dia melakukan itu hanya karena sekedar perintah.


Aku akan benar-benar menantikan saat-saat dimana kamu melakukan banyak hal romantis kepadaku, seperti seorang pria kepada kekasih tercintanya Ernest.


Tira berkata dalam hati dengan sikap puas, karena berhasil memikirkan cara untuk bisa dekat dengan Ernest tanpa perlu memikirkan pernbedaan status diantara mereka untuk sementara waktu ini.

__ADS_1


“Kalau begitu… karena kita sudah sepakat, aku akan kembali ke apartemenku. Semoga kamu segera menemukan cara terbaik untuk melaksanakan rencana kita Ernest.” Tira berkata sambil bangkit dari duduknya, berniat kembali ke apartemennya sendiri.


“Saya akan mengantar Anda Putri.” Steven yang melihat bagaimana Ernest yang tampak melamun, dengan sikap sigap berkata kepada Tira, bersiap untuk mengantar Tira kembali ke tempatnya.


“Tidak perlu Steven, apartemenku berada tepat di sebelah, hanya beberapa langkah dari tempat ini, tidak mungkin akan terjadi apa-apa denganku, tenang saja.” Dengan halus Tira menolak penawaran Steven, karena pada dasarnya, sejak dulu Tira sebenarnya bukan orang yang suka dikawal, sehingga sampai ada masalah peneror dia tidak pernah memiliki pengawalan pribadi kemanapun dia pergi.


“Saya yang akan mengantar Putri.” Ernest yang seolah-olah baru tersadar dari mimpinya, langsung berkata sambil bangkit dari duduknya, dan menggeser kursi yang didudukinya tadi ke belakang.


“Eh….” Tira yang awalnya ingin melanjutkan kata-katanya untuk menolak pewaran Steven, sedikit terdiam begitu melihat Ernest menawarkan dirinya sendiri untuk mengantarnya.


Kata-kata Tira membuat Ernest sedikit berdehem untuk bisa mengendalikan hatinya, sekaligus mencegah agar rasa panas di wajahnya terheneti, sehingga tidak memperlihatkan semburat merah di hadapan Steven, apalagi Tira dan membuat mereka berdua akhirnya tahu bahwa pada dasarnya dia memang begitu menyukai Tira, bukan sebagai seorang putri yang harus dijunjungnya, tapi sebagai seorang gadis yang sudah sejak lama berhasil mencuri hatinya secara diam-diam.


“Silahkan Putri….” Dengan sikap hormat, Ernest meerentangkan tangannya untuk mempersilahkan Tira berjalan keluar dari pintu apartemennya untuk selanjutnya Ernest menutup pintu itu kembali.


“Ernest….” Begitu mereka keluar dari pintu apartemen yang ditinggali oleh Ernest dan yang lain, Tira segera memanggil Ernest, dan memberikan kode melalui gerakan tangannya agar Ernest meendekat dan berjalan tepat di sisinya.

__ADS_1


“Ya Putri….” Ernest meenjawab panggilan Tira sambil berjalan tepat di samping Tira, sesuai dengan permintaan Tira.


“Keluar dari pintu apartemenmu, dan saat tidak ada kedua temanmu itu, bahkan jika kita hanya berdua saja, biasakanlah untuk memanggilku dengan sebutan Tira mulai sekarang, bukan putri lagi. Itu latihan pertamamu yang harus selalu kamu ingat agar orang tidak curiga dan percaya kalau kamu benar-benar menyukaiku.” Kata-kata Tira membuat Ernest sedikit menelan air ludahnya sendiri.


“Dan kalau sampai rencana pendekatanmu padaku tidak membawa hasil, kita harus berpura-pura menjadi sepasang kekasih sungguhan.” Mata Ernest langsung membulat sempurna karena terbeliak begitu mendengar kata-kata Tira.


Berpura-pura menjadi orang yang mengejar-ngejar putri saja, sebenarnya sudah menjadi masalah besar untukku, bagaimana nasibku kalau sampai harus berpura-pura menjadi kekasih putri? Matilah aku….


Ernest yang tidak menyangka kalau Tira akan mengatakan hal seperti itu, berkata dalam hati tanpa berani menanggapi perkataan Tira secara langsung.


“Atau mungkin kita bisa pura-pura menikah sekalian untuk membuat peneror itu kebakaran jenggot….”


“Jangan Putri… jangan lakukan hal seperti itu!” Kali ini Ernest sontak memotong perkataan Tira dengan wajah panik, membuat Tira tertawa kecil.


“Aduh Ernest, aku hanya bercanda. Kamu tahu pernikahan bukan masalah mudah dan remeh di Gracetian. Tapi… kenapa wajahmu jadi pucat begitu? Apa kamu merasa aku tidak pantas menjadi pengantinmu? Apa aku kurang cantik dan menarik bagi pria sepertimu?” Tira yang meelihat bagaimana sikap panik dan wajah pias Ernest untuk pertama kalinya sejak dia mengenal Ernest, jadi ingin sedikit menggoda Ernest.

__ADS_1


__ADS_2