
"Kalau begitu, kamu pergi saja sekarang. Aku juga akan menghubungi Ernest setelah ini." Tanpa menunggu jawaban dari Steven, Tira langsung melangkah memasuki gerbang pintu rumah milik Anna yang tampak baru saja keluar dari pintu rumahnya begitu mendengar ada suara mobil berhenti di depan rumahnya.
Mau tidak mau akhirnya Steven menuruti perintah Tira dan segera pergi dari sana, membuat Anna mengernyitkan dahinya.
"Eh, kenapa tiba-tiba dia pergi? Apa itu Ernest?" Anna bertanya sambil melongokkan kepalanya berharap bisa melihat siapa orang yang berada di balik kemudi mobil Tira yang mulai bergerak menjauh.
Sayangnya kaca mobil Tira yang cukup gelap membuat Anna tidak bisa melihat siapa yang ada di dalam sana.
"Bukan, itu Steven. Aku memintanya kembali karena aku minta Edi yang menggantikannya untuk mengantar kita ke mall hari ini." Tira langsung menjawab pertanyaan Anna.
"Lho... padahal aku ingin lihat seperti apa Steven yang katamu cukup keren dan tampan." Anna berkata sambil meringis.
"Kalau begitu nanti kamu bisa bertemu dengan Edi. Lain waktu aku akan memperkenalkan Steven padamu. Edi juga termasuk golongan laki-laki tampan dan keren. Bukankah aku sudah bilang kalau semua laki-laki dari Gracetian adalah laki-laki yang tampan dan mempesona?" Tira berkata sambil menarik pergelangan tangan Anna agar masuk ke dalam rumah, karena dia harus segera melakukan panggilan telepon pada Ernest untuk memberitahukan perubahan rencananya.
# # # # # #
Ernest langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar permintaan Tira melalui panggilan telepon tentang keinginannya dikawal oleh Edi, menggantikan Steven yang sudah dimintanya untuk kembali ke apartemen.
Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Apa putri baik-baik saja? Tidak biasanya putri Tira bersikap seaneh ini.
__ADS_1
Ernest bertanya-tanya dalam hati sambil sedikit menelan ludahnya, sedikit bingung dengan sikap Tira hari ini.
"Putri, kenapa tiba-tiba Putri memutuskan hal seperti itu? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi pada Putri atau Steven? Apa Putri sedang ada masalah?" Pertanyaan Ernest melalui panggilan telepon membuat Tira menarik nafas panjang.
Lagi-lagi... kenapa dadaku berdebar begitu mendengar suaranya? Apa dia sedang mengkhawatirkanku? Membayangkan wajahnya yang mengkhawatirkanku membuat dadaku terasa sesak dan tidak rela.
Tira berkata sambil memegang dadanya dengan salah satu telapak tangannya sambil menatap ke sekelilingnya, dan sedikit menarik nafas lega karena tidak melihat keberadaan Anna yang sedang mengambil tas yang tertinggal di kamarnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin Edi yang mengawalku, karena aku rasa dia lebih cocok berada di kerumunan orang banyak dibandingkan dengan Steven yang terlalu pendiam dan kaku." Tira mencoba menyampaikan alasannya kenapa dia tidak ingin Steven yang mengawalnya di mall.
Hah... apa maksud putri Tira memberikan alasan yang aneh seperti itu padaku? Putri Tira bukan orang yang dengan mudah mempermasalahkan karakter orang lain, asal orang itu tidak membuat masalah atau melakukan sesuatu yang jahat pada orang lain.
Tira yang dikenal oleh Ernest, bukan termasuk putri yang rewel dan banyak maunya, justru dia dikenal sebagai salah satu putri Gracetian yang ramah, baik hati dan lembut.
"Ernest, tolong kamu segera aturkan agar Edi menyusulku ke rumah Anna, dan mengantar kami untuk pergi ke mall, karena kamu tahu sore ini kita ada pertemuan dengan anggota kelompok kita di kampus…."
"Baik Putri, saya akan segera aturkan masalah itu." Akhirnya dengan suara sopan dan hormat, Ernest menjawab perintah Tira.
"Emmm... Ernest... minta tolong supaya tidak membuang waktu, minta Edi menjemputku di rumah Anna menggunakan mobil milikmu, karena jika harus menunggu Steven sampai di sana akan terlalu lama." Tira kembali menyampaikan keinginannya sebelum hatinya semakin merasa tidak tenang.
__ADS_1
"Tapi Putri, apa tidak masalah kalau Putri menggunakan mobil saya?" Pertanyaan Ernest membuat Tira sedikit menggigit bagian bawah bibirnya.
"Tidak masalah. Bukannya mobilmu termasuk golongan mobil bagus juga? Bahkan belum tentu semua orang yang memiliki mobil di negara ini mampu membeli mobil seperti mobilmu. Kenapa memangnya dengan mobilmu?" Tira balik bertanya.
"Bukan begitu Putri, saya hanya merasa tidak enak jika pangeran Victor, atau yang mulia Alvero mengetahui saya membiarkan Putri diantar dengan mobil milik pengawal, bukan mobil Putri sendiri...."
"Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu Ernest? Turuti saja perintahku sebelum hari bertambah siang." Tira langsung memutus perkataan Ernest.
Entah kenapa, Tira merasa tidak enak hati mendengar perkataan Ernest yang baginya seolah-olah menunjukkan bahwa mereka berasal dari kelas sosial yang jauh berbeda, dan berusaha menarik batas diantara mereka berdua, dan jujur saja itu membuat Tira tiba-tiba merasa kesal tanpa alasan yang jelas.
"Baik Putri." Lagi-lagi Ernest hanya bisa mengiyakan perintah dari Tira kepadanya, meskipun hatinya masih bertanya-tanya kenapa Tira meminta hal aneh seperti itu.
"Kalau begitu, aku tunggu kedatangan Edi secepatnya di sini. Terimakasih untuk bantuannya." Tira berkata dan memutuskan panggilan teleponnya kepada Ernest, meskipun entah kenapa, dalam hatinya sebenarnya dia masih ingin mendengar suara Ernest, tapi dia tahu kalau dia harus segera memutuskan untuk berhenti sekarang juga.
# # # # # # #
“Selamat pagi Nona….” Dengan suara dan wajah ramahnya, Edi langsung menyapa Tira yang langsung keluar dari pagar rumah Annam begitu tahu Edi sudah menjemputnya.
Anna yang tadinya mengekor di belakang Tira langsung bergerak cepat menjajari Tira dan langsung mengulurkan tangannya ke arah Edi begitu melihat sosok tampan Edi yang terlihat seperti sosok ya menyenangkan itu.
__ADS_1