
Evan meninggalkan kantor Alvero dengan perasaan tidak sabar untuk bisa segera bertemu dengan Alaya.
Kemesraan yang dipamerkan oleh Alvero di depannya, membaut Evan ingin segera melihat sosok Alaya yang begitu dicintainya, dan menikmati sendiri kemesraan mereka berdua.
“Ah….” Evan bergumam pelan sambil tersenyum begitu melihat layar handphonenya menyala dan sebuah nada dering yang khusus untuk kontak dengan nama Alaya terdengar di telinganya.
“Halo my princess, aku akan segera kesana sekarang….” Dengan cepat Evan langsung mengucapkan kata-katanya begitu menggeser tombol menerima panggilan telepon.
“Eh?” Alaya yang meleihat bagaimana Evan sedang menerima panggilan teleponnya dan berkata dengan terburu-buru terlihat mengernyitkan dahinya.
“Evan… jangan pulang ke rumah, aku tidak ada di rumah sekarang.”
“Lho… kenapa? Ada dimana kamu sekarang?” Dengan cepat Evan langsung bertanya, karena bagi sosok Evan yang biasanya selalu bersikap tenang, dia tidak bisa lagi tenang jika itu sudah menyangkut hal tentang Alaya, apalagi yang membuatnya merasa khawatir.
“Mama Danella tiba-tiba saja harus pergi karena ada temannya yang sakit parah dan masuk rumah sakit. Kebetulan aku ingin sekali menikmati menu steak di restoran milik hotel Adalvino, jadi aku berencana makan siang denganmu di sana.” Kata-kata Alaya membuat Evan sedikit menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, karena tanpa disadarinya, angan-angannya langsung liar begitu mendengar kata-kata Alaya tentang hotel yang seolah-olah mengundangnya untuk menikmati kembali waktu bulan madu untuk mereka berdua.
__ADS_1
“Aku akan kesana segera. Tolong booking sebuah kamar untuk kita hari ini disana.” Alaya yang awalnya melongo karena permintaan Evan yang tidak disangka-sangkanya, dalam hitungan detik, wajahnya memerah karena tahu apa yang sedang diinginkan Evan setelah makan siang mereka.
“Kalau seperti itu, sepertinya siang ini aku akan makan 2 porsi steak dan yang lain untuk mengumpulkan energi ekstra….” Alaya berkata sambil tertawa kecil, membuat Evan dengan langkah kaki semakin lebar dan cepat ingin segera menemui Sam yang sudah menyiapkan mobil untuknya pergi meninggalkan gedung perkantoran Adalvino.
“Sebanyak apapun yang kamu inginkan my princess, karena nanti aku tidak akan berhenti sebelum kita benar-benar puas menikmati kegiatan kita siang ini di atas ranjang.” Kata-kata Evan membuat Alaya tersenyum lebar dengan wajahnya yang bahagia.
“Aku yakin kamu tidak akan seganas biasanya jika melihat hadiah yang akan kuberikan padamu siang ini.” Alaya berkata sambil memegang erat plastik dimana di dalamnya terdapat sebuah alat test pack yang menunjukkan adanya dua garis sebagai tanda ada sesuatu yang mulai tumbuh dalam rahimnya.
“Hadiah apa yang kamu maksud? Ini bukan ulang tahunku atau ulang tahunmu. Bukan juga hari dimana ada kejadian istimewa yang harus dirayakan.” Evan berkata sambil bergerak masuk ke dalam mobilnya, yang bagian pintu penumpangnya baru saja dibuka oleh Sam begitu Sam melihat sosok Evan.
“Cepat saja datang ke restoran menemuiku, dan aku akan memberikan hadiahnya padamu saat kamu sampai di sini. Sampai bertemu. I miss You…. I love You Evan….” Alaya mengakhiri panggilan teleponnya dengan senyum yang tidak lepas sedetikpun dari wajahnya yang cantik, selama dia melakukan panggilan telepon dengan Evan.
Sejak menikah dan kesalahpahaman diantara mereka berakhir, Evan selalu merasa dadanya sesak dengan rasa bahagia yang begitu besar karena keberadaan Alaya yang membuat hidupnya terasa begitu sempurna.
Dan sudah menjadi kebiasaan dari Alaya yang selalu menyelipkan kata rindu dan cinta setiap melakukan panggilan telepon dengan Evan, sehingga membuat Evan merasa semakin dicintai oleh Alaya setiap waktu, dan Evan bisa merasakan bagaimana istrinya itu semakin hari semakin besar rasa cintanya untuknya, sebesar rasa cintanya yang terus bertumbuh untuk Alaya.
__ADS_1
“Welcome to our world my baby….” Alaya berkata sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata sambil menarik nafas panjang, dan mulai membayangkan bagaimana bahagianya wajah Evan saat nanti dia memberikan kabar bahagia tentang bukti cinta mereka yang sedang berkembang di dalam tubuhnya.
Alea yang hari ini menjadi sopir sekaligus pengawal pribadi Alaya yang diminta untuk mengantarnya ke hotel, langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Alaya.
Syukurlah, orang-orang yang aku kenal di Gracetian, satu persatu bisa mendapatkan kebahagiaan mereka bersama dengan orang yang mereka cintai.
Alea berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, dan kembali fokus ke arah jalanan dan berusaha menyetir dengan hati-hati, karena sadar sedang membawa orang hamil bersamanya saat ini.
# # # # # # #
“Sweety, kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” Alvero berkata sambil sibuk menciumi telinga maupun leher Deanda, sehingga membuat nafas Deanda sedikit memburu.
Untung saja aku masih sempat mematikan suara panggilan teleponku agar Tira tidak mendengar suara yang mungkin bagi Tira terdengar aneh di telinganya.
Deanda berkata dalam hati sambil menelan ludahnya dan sedikit menggerakkan kepalanya ke samping, menghindari ciuman bertubi-tubi dari Alvero yang membuat tubuhnya mulai terasa panas.
__ADS_1
“My Al… hentikan…. Ada telepon dari Tira, sepertinya dia sedang dalam kesulitan di sana.” Alvero yang mendengar kata-kata Deanda langsung menghentikan tindakannya memancing Deanda dan melirik ke arah handphone milik Deanda yang masih menyala meskipun Tira tidak bisa mendengar suara dari lawan bicaranya.
Awalnya tadi Alvero sempat melihat jari tangan Deanda bergerak ke arah layar handphone miliknya yang sedang dipegan istrinya tadi, dan berpikir kalau istirnya itu sudah mematikan panggilan teleponnya, tapi ternyata Deanda hanya mematikan speakernya saja tanpa mematikan panggilan teleponnya.