
Cantik sekali sepatu ini di kaki putri. Sepertinya, sepatu ini terlihat semakin cantik karena kaki yang mengenakan adalah kaki yang begitu cantik. Karena putri yang mengenakannya, membuat sepatu ini tampak semakin terlihat istimewa.
Ernest berkata dalam hati dengan senyum kagum melihat bagaimana cantiknya perpaduan antara sepatu dan kaki Tira saat ini.
“Ernest….”
“Ya Putri, apa tali yang saya ikatkan di kaki Putri terlalu keras dan terasa sakit?” Ernest yang sudah menyelesaikan memakaikan salah satu sepatu di kaki Tira bertanya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari kaki Tira, karena masih ada satu sepatu lagi yang harus dia kenakan di kaki Tira yang satunya.
“Tidak… tidak perlu khawatir tentang itu. Sepatu ini terasa nyaman di kakiku. Terimakasih sudah membantuku untuk mengenakannya.” Tira menjawab pertanyaan Ernest dengan cepat.
“Ernest… sepertinya kita harus melanjutkan pembicaraan kita tadi siang yang terputus.” Kata-kata Tira sukses membuat Ernest sedikit tersentak dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasangkan sepatu Tira seketika itu juga.
Apa putri… mau membahas kembali masalah gadis yang aku sukai? Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan itu?
Ernest berkata dalam hati dengan dada yang mulai bergemuruh karena merasa khawatir dengan dirinya sendiri apakah bisa menguasai diri dengan baik saat Tira kembali mengungkit tentang hal itu.
__ADS_1
“Pembicaraan yang mana yang Putri maksudkan?” Ernest mencoba bertanya dengan suara tenang dan tangan kembali bergerak untuk mengenakan kembali sepatu pada kaki Tira.
“Apa ada gadis yang kamu sukai Ernest? Siapa gadis beruntung itu?” Pertanyaan dari Tira yang ditakutkan oleh Ernest akhirnya keluar juga dari bibir Tira, membuat Ernest terdiam seribu bahasa, dengan tatapan mata berusaha tetap fokus pada tali sepatu yang harus dia ikatkan pada kaki Tira.
“Ernest… apa begitu sulit untuk menjawab pertanyaanku?” Tira kembali bertanya begitu dilihatnya Ernest tetap diam dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Putri… maafkan saya, tapi saya tidak bisa menjawab pertanyaan Putri…. Maafkan saya Putri….” Dengan suara ragu, Ernest memberanikan diri untuk menolak menjawab pertanyaan Tira, yang membuat Tira semakin merasa penasaran dengan jawaban Ernest.
Melihat bagaimana Ernest yang berusaha menghindar untuk menjawab pertanyaannya membuat Tira justru merasa yakin bahwa Ernest juga menyukainya, apalagi Tira bisa merasakan tangan Ernest yang bergetar saat menyentuh kulit kakinya tadi.
“Ernest!” Begitu beberapa lamanya Ernest tetapa terdiam, padahal Tira bisa merasakan kalau Ernest sudah selalu memakaikan sepatunya, tapi tetap diam dan menundukkan kepalanya, akhirnya Tira memanggil nama Ernest dengan cukup keras, sehingga terlihat kalau tubuh Ernest tersentak kaget dan langsung mendongakkan kepalanya, berniat untuk melihat ke arah Tira yang barusan memanggil namanya dengan suara cukup keras.
Baik mata Ernest maupun Tira sama-sama terbeliak begitu tanpa sangaja kedua bibir mereka saling bersentuhan, dan dengan gerakan reflek keduannya langsung bergerak cepat saling menjauh dan saling membuang wajah mereka yang sama-sama memerah dengan dada yang berdetak begitu kencang tanpa bisa mereka kendalikan.
Jantung yang berdetak dengan begitu keras itu bahkan serasa akan melompat keluar dari tempatnya, dengan tubuh mereka yang bergetar seperti terkena sengatan listrik di sekujur tubuhnya, apalagi bagi Ernest, itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang gadis.
__ADS_1
Bahkan untuk beberapa saat pikiran mereka terasa kosong, membuat mereka diam seperti patung dengan sikap gugup.
“Ma… maaf Putri, maaf untuk ketidaksopanan saya barusan. Saya siap menerima hukuman apapun dari Putri karena sikap kurangajar saja….” Ernest yang lebih dahulu sadar dengan apa yang terjadi pada mereka berdua barusan, langsung bangkit dari berlututnya dan meminta maaf pada Tira, dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam tanpa berani memandang ke arah Tira sedikitpun.
Meskipun Ernest merasakan sensasi yang terasa indah dan seolah membakar tubuhnya sehingga terasa panas saat bibir mereka saling bersentuhan, tapi Ernest sadar bahwa itu adalah sebuah kesalah besar dimana dia tidak boleh menganggapnya sebagai sebuah keberuntungan yang membawa kebahagiaan baginya.
Tira yang sedang memalingkan wajahnya yang benar-benar memerah saat ini, hanya bisa diam membisu mendengar permintaan maaf Ernest,
Aku… baru pertama kali aku merasakan bagaimana sebuah ciuman ternyata bisa membuat jantungku seakan-akan berhenti saat ini juga. Tubuhku terasa begitu panas meskipun aku sadar itu bukan sebuah ciuman yang disengaja.
Tira terus berkutat dengan pikirannya sendiri, sehingga telinganya benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Ernest barusan, sebuah permintaan maaf yang diucapkan Ernest dengan keringat dingin mengalir di punggung dan keningnya, suatu hal yang baru pertama kalinya dirasakan oleh Ernest, dimana dia tidak bisa menjelaskan kenapa tubuhnya bisa bereaksi seperti itu.
Diantara rasa takjub sekaligus takut, rasa bahagia sekaligus menyesal, rasa berbunga-bunga sekaligus rasa bersalah, semuanya bercampur aduk dalam hati Ernest.
“Ernest… siapa nama gadis yang kamu sukai? Bisakah kamu memberitahukannya padaku?” Dengan sisa kesadaran yang dia miliki, Tira kembali bertanya kepada Ernest.
__ADS_1
“Maafkan saya Putri. Maaf… saya tidak bisa… menjawab pertanyaan Putri…. Anggap saja… saya tidak pernah menjawab pertanyaan Putri. Maaf….” Ernest berkata dengan kepala tertunduk dan mata terpejam, menahan gejolak dalam hatinya saat ini.
“Saya akan kembali ke apartemen saya. Jika Putri membutuhkan bantuan lagi, silahkan Putri menghubungi saya. Maaf Putri….” Ernest berkata, dan setelah itu berjalan pergi meninggalkan Tira yang tampak menghela nafasnya melihat kepergian Ernest dengan sudut matanya, tanpa ada keberanian untuk mencegahnya pergi, karena dia sendiri sedang berusaha mengendalikan hati dan pikirannya saat ini.