
Baik Ernest maupun Tira saling berpandangan dengan tatapan kaget begitu menyadari bahwa mereka sudah menjawab pertanyaan Edi dengan jawaban yang jauh berbeda dan membuat dahi Edi langsung mengernyit.
“Eh, kami akan pergi ke mansion keluarga Shaw….”
“Maksud Ernest, kami akan pergi ke mansion itu setelah aku meyelesaikan tugasku hari ini.” Tira segera memotong perkataan Ernest, karena sebenarnya, seterlah kencannya malam ini, Tira ingin kembali ke apartemen dan baru besok setelah mengikuti kuliahnya baru dia akan kembali ke mansion.
Malam ini, Tira ingin menghabiskan waktunya dengan memikirkan tentang Ernest, yang pastinya akan semakin membuat hatinya berbunga-bunga karena menyadari bahwa sepanjang malam ini Tira tahu bahwa di dekatnya, ada Ernest yang berada begitu dekat dengannya, meeskipun keberadaan mereka akan terpisah dengan dinding bangunan apartemen.
Jika Tira kembali ke mansion hari ini, bisa dipastikan seperti malam-malam sebelumnya, dia akan menghabiskan waktu bersama dengan yang lain yang tanpa segan-segan menunjukkan kemesraan mereka, sedang Tira sendiri masih ingin terus bersama Ernest meskipun nantinya sepulang dari acara kencan mereka, mereka hanya bisa saling bertukar pesan.
Dan Tira tahu dengan keberadaan Evelyn dan yang lainnya, jika malam ini dia berada di mansion keluarga Shaw bisa dipastikan kalau dia tidak akan bisa dengan bebas untuk saling bertukar pesan dengan Ernest.
Yang pasti, malam ini Tira tidak ingin waktu kebersamaannya dengan Ernest terganggu sedikipun.
“Oooo….” Meskipun Edi merasa belum puas dengan jawaban dari Ernest dan Tira, dia hanya bisa mengucapkan satu huruf O dengan nada panjang.
__ADS_1
“Aku memang meminta Ernesst untuk membantu menyelesaikan tugasku, dan berencana kembali ke mansion jika sudah selesai. Tapi jika sampai tugasku nanti tidak bisa diselesaikan malam ini, terpaksa besok aku barau bisa kembali ke mansion.” Tira berkata sambil tersenyum, untuk mempertegas penjelasannya pada Edi yang hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya, karena baginya, tidak ada alasan untuk meragukan perkataan Tira sebagai junjungannya.
“Kalau begitu kita ke parkiran bersama saja, kebetulan aku tadi juga akan pergi ke kantor polisi untuk memeriksa hasil penyelidikan lanjutan tentang Robin Stone.” Edi berkata sambil melangkah menuju lift untuk menuju tempat paskir.
Ernest dan Tira kembali salimg berpandangan sambil saling melempart senyum begitu Edi sudah berjalan di depan mereka, untuk kemudian mereka ikut menyusul Edi menuju lift.
“Ehem.” Sambil berdehem pelan, Ernest segera menyusul Edi yang sudah berada di dalam lift.
Dengan sengaja, Ernest dan Tira sengaja mengambil posisi berdiri di belakang Edi yang kebetulan di dalam lift itu bukan hanya Edi saja, sehingga Ernest dan Tira dengan sopan memberi tanda untuk mereka bisa menyeruak diantara para pengguna lift yang lain, dan berdiri di posisi paling belakang.
Tira terpekik pelan dalam hati begitu merasakan seseorang menyentuh ujung-ujung jarinya.
Akan tetapi begitu Tira melirik ke arah tangannya dan melihat bahwa yang tadinya berusaha menyentuh ujung-ujung jarinya adalah Ernest, dengan cepat Tira justru menautkan ujung-ujung jarinya ke ujung tangan Ernest, membuat wajah Ernest sedikit memerah dan menahan senyum bahagianya.
Dengan lembut tapi bertenaga, Ernest dengan sengaja menarik tautan jari jemarinya pada Tira, agar tubuh Tira semakin mendekat ke arahnya, agar tautan tangan mereka bisa mereka sembunyikan di balik tubuh pakaian mereka, sehingga mereka yang lain, yang ada di dalam lift itu tidak bisa melihat bagaimana saat ini tangan mereka saling bertautan, dan beberapa kali mereka saling mencuri pandang dan saling menahan senyum dengan wajah malu-malu bercampur dengan wajah bahagia mereka.
__ADS_1
Untuk beberapa detik mereka berdua terus saja saling menautkan ujung-ujung jarinya, dan dengan buru-buru saling melepaskannya begitu pintu lift terbuka dan orang-orang bergerak meninggalkan lift itu, termasuk Edi yang dengan sengaja setelah keluar dari lift menunggu Ernest dan Tira keluar dari lift.
“Kami akan pergi terlebih dahulu Edi, semoga kamu bisa mendapatkan kabar baik dari pihak kepolisian. Terus amati semua kejadian di sana, jangan ada yang terlewatkan.” Ernest langsung memberikan perintah kepada Edi begitu pengguna lift yang lain sudah pergi menjauh dan tidak bisa lagi mendengar pembicaraan mereka.
“Baik Tuan Ernest, percayakan semuanya kepada saya. Aku akan melakukan semuanya dengan baik” Edi langsung berkata dengan sikap percaya dirinya.
“Kalau begitu, aku dan putri akan pergi terlebih dahulu sekarang.” Perkataan Ernest membuat Edi langsung menganggukkan kepalanya dan memberikan salam penghormatan kepada Tira sebelum mereka akhirnya meninggalkan Edi yang setelahnya pergi ke mobilnya sendiri.
“Huft....” Begitu masuk ke dalam mobil, dengan posisi Ernest di kursi pengemudi dan Tira di bangku penumpang, tanpa sadar mereka berdua langsung menghembuskan nafas lega, lalu terkikik geli secara bersamaan.
“Benar-benar menegangkan ya. Apa Edi bisa menerima alasan kita Ernest?” Tira berkata sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobilnya.
“Sepertinya Edi tidak curiga. Aku sudah mengenal Edi dengan cukup baik, dia terlihat percaya dengan semua penjelasan kita, meskipun tadi di awal dia sempat ragu.” Ernest menjawab pertanyaan Tira sambil menyalakan mesin mobil.
“Kalau begitu, kita bisa pergi berkencan dengan tenang mala mini. Aku sudah lapar… sepertinya kamu harus bisa segera membawaku ke tempat kencan kita Ernest, supaya aku tidak pingsan di jalan akrena kelaparan.” Tira berkata sambil bangkit dari bersandarnya dan memegang tangan Ernest yang sedang menggerakkan tuas persneling setelah melihat mobil Edi sudah meninggalkan area parkir.
__ADS_1