
“Maaf, tapi beberapa waktu ini jika kita tidak mencari waktu dan tempat yang tepat, sepertinya akan sulit untuk kita bisa menikmati waktu berdua dan mengobrol santai. Dan untuk saat ini, hanya itu yang bisa aku pikirkan, apalagi saat ini Edi dan Steven, sedang pergi bersama dengan Erich, ke panti asuhan tempat tuan Theo dulu dibesarkan, jadi mereka sedang sibuk sekarang.” Perkataan Ernest yang menunjukkan bagaimana hubungan mereka yang masih belum bisa mereka publikasikan membuat mereka harus secara sembunyi-sembunyi untuk sekedar menikmati waktu berdua, membuat Tira tersenyum.
“Aku juga dengan senang hati menghabiskan waktu berdua denganmu Ernest… Dan nanti, saat kita berdua di apartemen, jangan membahas sedikitpun masalah pak Luis dan Robin. Sepanjang hari ini kepalaku sudah cukup pening setiap kali mendnegar nama mereka berdua disebutkan di depanku.” Tira berkata diakhiri dengan sebuah helaan nafas panjang dari hidungnya.
“Aku tahu, itu pasti berat untukmu yang selama ini belum pernah menghadapi orang-orang dengan perilaku aneh seperti mereka.” Jawaban dari Ernest membuat Tira tersenyum dengan wajah lega, karena bisa memiliki Ernest sebagai seorang kekasih yang selalu mendukungnya di dalam setiap situasi dan kondisi yang dia alami.
“Ah, sebentar….” Tiba-tiba Ernest bergumam pelan, setelah mendengar adanya suara panggilan telepon dari Evan untuknya.
Tira yang matanya juga memandang ke arah layar handphone milik Ernest, akhirnya menjauhkan kepalanya yang tadinya bersandar, dari bahu Ernest.
“Selamat siang Duke Evan.”
“Ernest… sepertinya kecurigaanku tentang Luis benar-benar terbukti….” Evan yang berhasil masuk ke tanah luas milik Luis yang ada di pinggiran kota New York, berkata dengan suara pelan, dengan tangannya yang bergerak memberikan kode kepada dua orang yang ikut bersamanya untuk menyusup ke tanah milik Luis itu.
“Apa yang berhasil Anda temukan di sana duke Evan?” Dengan rasa penasaran yang menguasai hatinya, Ernest langsung bertanya kepada Evan.
“Sesuatu yang sepertinya, bisa membuat Luis, mendekam di penjara seumur hidupnya.” Jawaban Evan membuat Ernest semakin merasa penasaran.
__ADS_1
“Luis, laki-laki itu sepertinya, berhasil dengan baik menyembunyikan sifat kejamnya dibalik sosok pendiam dan dinginnya, juga pekerjaannya sebagai seorang dosen.”
“Aku masih belum menemukan semuanya, akan tetapi yang satu ini pasti bisa membuat kita menemukan bukti lain, yang aku rasa jauh lebih banyak dari ini.” Evan berkata sambil mengambil foto dari hasil galian dari dua orang yang bersamanya, berupa tumpukan tulang belulang manusia, untuk segera dia kirimkan ke Ernest.
Evan mengajak beberapa orang bersamanya, dan segera memerintahkan emreka untuk menyebar, mengawasi pergerakan para penjaga di rumah Luis, sedangkan Evan sendiri, dengan dua orang bersamanya, masuk ke dalam tanah yang dibentuk seperti hutan oleh Luis.
Begitu masuk ke tempat dimana terdapat banyak pohon-pohon besar itu, Evan awalnya hanya melihat pohon-pohon yang tampaknya tidak menunjukkan adanya tanda-tanda sesuatu yang mencurigakan di sana, sampai Evan yang terus berjalan lebih dalam lagi menemukan adanya sebuah bangunan yang begitu Evan berjalan mendekat, langsung terdengar suara gonggongan serigala yang terdengar ribu, dibarengi dengan auman harimau.
Hal itu membuat Evan bergerak dengan begitu hati-hati dan berusaha mengintip apa yang ada di dalam bangunan berukuran besar itu.
Awalnya Evan hanya menganggap itu hal yang wajar, jika seseorang memiliki hobi memelihar hewan predator seperti itu.
Baginya, hukuman terberat bagi Luis jika sampai pemerintah setempat mengetahui pelanggarannya adalah hukuman berupa denda besar yang harus dia bayar, tidak lebih dari itu.
Dan sebagai anak dari keluarga kaya raya, menurut Evan, bagi Luis itu bukanlah masalah besar.
Akan tetapi begitu mata Even melihat adanya gundukan tanah yang tidak rata di bagian belakang bangunan itu, membuat mata Evan langsung terbeliak dan membuatnya langsung mengendap-endap ke sana untuk menyelidiki lebih lanjut apa yang ada di sana.
__ADS_1
Dan hasilnya… ketika Evan meminta kedua orang yang bersamanya membongkar salah satu gundukan yang dinilainya terlihat paling baru, tanpa disangka, Even menemukan tumpukan tulang belulang yang pastinya bukan tulang belulanga dari hewan yang menjadi mangsa para hewan predator di dalam gedung itu, tapi jelas-jelas itu adalah tulang belulang manusia, yang diperkuat dari bentuk dan juga tengkorak bagian kepala yang terlihat di dalam sana.
Ernest sendiri, begitu melihat foto-foto itu matanya langsung melotot dengan tatapan tidak percayanya, yang membuatnya dengan cepat memutuskan untuk meminggirkan mobilnya di tepi jalan, agar dia bisa melihat dengan lebih jelas gambar yang sudah dikirimkan Evan kepadanya itu.
Setelah mengamati foto-foto itu, Ernest tampak menelan ludahnya dengan susah payah, dengan sikapnya yang terkaget-kaget.
Apalagi, dari foto yang dikirimkan oleh Evan padanya, Ernest bisa menebak bahwa tulang-tulang itu merupakan milik lebih dari satu orang, apalagi bagian tengkorak kepala yang terlihat, ada 3, dimana satu diantaranya tampak remuk setengahnya, entah apa yang terjadi pada kepala orang itu sebelum dia meninggal.
Melihat fisik dari tulang-tulang itu, Evan bisa menilai bahwa tulang-tulang itu tergolong masih baru dari penampakan dan warnanya, bahkan bau amis dari tulang itu masih tercium cukup menyengat bagi Evan, dan juga di beberapa bagian dari tulang itu masih ada sedikit potongan daging yang tertinggal sehingga menimbulkan bau busuk.
Luis ini… jika dibiarkan orang seperti dia terus berkeliaran… entah berapa orang lagi yang akan menjadi korbannya.
Evan berkata dalam hati sambil memberikan tanda kepada dua orang pengikutnya, agar kembali mengubur tulang-tulang itu, dan mengembalikan kondisi sekelilingnya semirip betul dengan kondisi sebelum mereka membongkarnya.
“Aku akan mematikan panggilan telepon kita, karena setelah ini, aku berencana menyelidiki seluruh tempat ini. Aku akan pergi ke arah lain dan akan memberimu kabar jika aku menemukan sesuatu yang lain di tempat ini.” Evan berkata pelan sebelum akhirnya memutus panggilan teleponnya dengan Ernest.
“Hah….” Ernest langsung menarik nafas dalam-dalam dengan mata terpejam setelah Evan memutuskan panggilan teleponnya.
__ADS_1