
Memang Robin yang dipastikan sebagai orang yang meneror Tira, tapi ada beberapa hal yang membuat Ernest belum bisa percaya 100% bahwa Robin adalah pelaku teror yang itu, karena ada beberapa info dan bukti yang menurut Ernest cukup mencurigakan, dan tidak mengarah pada Robin sebagai pelaku teror.
Meskipun Ernest harus mengakui, beberapa bukti dan info memang menunjukkan dengan begitu jelas, bahwa Robin memang melakukan teror pada Tira.
“Memang apa yang perlu aku takutkan sekarang Ernest? Robin sudah tertangkap, dan kamu… bukannya kamu memiliki akses masuk ke apartemenku? Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi, bukankah kamu bisa langsung lari kemari seperti waktu itu?” Kata-kata Tira membuat Ernest menarik nafas panjang, karena sebenarnya dia benar-benar tidak rela untuk meninggalkan Tira tinggal sendirian di apartemen itu.
“Lagipula aku tahu kalau letak kamarmu, sebenarnya berada tepat bersebelahan dengan kamarku. Bukankah betitu Ernest? Kalau sewaktu-waktu kamu ingin melihat keadaanku, atau kamu merindukanku… kamu bisa sewaktu-waktu mengunjungiku kan? Seberapa banyak, seereing apapun kamu datang di tempat ini, kehadiranmu pasti akan diterima dengan baik, bahkan saat aku sednag tertidur atau aku tidak berada di tempat ini sekalipun.” Tira berkata sambil tersenyum ke arah Ernest yang hanya bisa tersenyum dengan wajah pasrahnya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Tira barusan.
“Sebaiknya kamu pergi sekarang daripada membuat yang lain curiga. Dan juga… sebelum kamu semakin tidak bisa melangkah pergi dari tempat ini…” Tira berkata lembut sambil tersenyum geli melihat wajah tidak rela dari Ernest bercampur dengan wajah yang terliaht pasrah, karena dia sadar kalau kata-kata Tira begitu tepat sasaran.
Wajah pasrah dan juga tidak rela yang ditunjukkan oleh Ernest saat ini membuat Tira tersenyum geli.
“Jangan lupa untuk memimpikan aku malam ini…. Selamat malam Ernest… I love You….” Ernest sedikit membeliakkan matanya begitu mendengar kata-kata Tira yang diakhirinya dengan memberikan sebuah ciuman lembut pada pipi Ernest dengan begitu lembut.
__ADS_1
“Ehem… selamat malam… jika ada apa-apa, segera kabari aku…. Tidak perlu mengantarku pergi, masuklah ke kamar dan beristirahatlah. Kamu pasti lelah karena sepanjang hari ini begitu banyak hal yang sudah kita lakukan…. Terima kasih untuk hari ini.” Setelah berdehem pelan dengan sikap salah tingkah karena manis dan lembutnya sikap Tira padanya, Ernest berkata dengan nada pelan sebelum akhirnya memaksa dirinya sendiri untuk melangkahkan kakinya berjalan menjauhi Tira menuju pintu keluar apartemen.
Tepat beberapa langkah lagi Ernest bisa mencapai pintu apartemen Tira, tiba-tiba Ernest menghentikan langkah kakinya, dan menoleh ke belakang, dimana Tira yang masih berdiri di tempatnya langsung tersenyum lebar melihat bagaimana dari sikapnya Ernest terliaht begitu berat untuk keluar dari pintu itu.
“Sudah malam Ernest. Sebaiknya kamu segera pulang sebelum Edi dan Steven mencarimu atau bahkan mungkin melaporkan ke polisi kalau kamu sudah menghilang secara tiba-tiba tanpa kesan dan pesan.” Tira berkata sambil tertawa kecil, begitu membayangkan kalau apa yang baru saja dia katakan barusan terjadi, pasti akan lucu sekali, karena Edi dan Steven pasti tidak akan terpikirkan kalau ternyata Ernest sedang ada bersamanya di apartemen yang letaknya tepat bersebelahan dengan apartemen yang mereka bertiga tempati saat ini.
“Aku pergi dulu, jaga diri baik-baik….” Dengan kata-katanya itu Ernest memaksakan dirinya untuk keluar dari apartemen Tira dengan berat hati.
“Anda sudah kembali Tuan Ernest?” begitu melihat sosok Ernest, Edi langsung menyapa Ernest dengan senyum tersungging di wajahnya.
“Iya.” Ernest menjawab pertanyaan Edi sambil melepaskan jas yang sepanjang hari ini sudah dikenakannya semenjak pagi, dan hanya dilepaskannya sebentar ketika dia berkencan dengan Tira di The River Café tadi.
“Apa ada masalah dengan putri Tuan Ernest? Semuanya baik-baik saja kan?” Edi yang melihat Ernest kembali begitu larut tanpa memberi dia maupun Steven info sedikitpun bertanya sambil mendekat ke arah Ernest.
__ADS_1
“Semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir, tadi aku masih sibuk membantu putri Tira untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya.” Dengan cepat Ernest berdalih, dan untung saja Edi yang begitu mengagumi dan menjadikan Ernest sebagai panutannya tidak bertanya lebih lanjut kepada Ernest.
“Ah ya Edi….” Ernest baru saja hendak menagajak Edi bicara ketika didengarnya sebuah nada panggil terdengar dari handphonenya.
Erich? Malam-malam begini kenapa tiba-tiba dia menghubungiku? Bukankah dia harusnya berada di mansion keluarga Shaw untuk selalu bersiap sedia sebagai pengawal pribadi yang mulia Alvero? Apa ada hal mendesak dan begitu penting sehingga dia menghubungiku selarut ini tanpa mengirimkan pesan terlabih dahulu seperti biasanya? Apa dia tahu tentang aku dan putri…. Ah… tidak mungkin….
Begitu banyak pertanyaan dalam hati Ernest begitu melihat adanya panggilan telepon dari Erich ke handphonenya padahal ini sudah larut malam.
Ernest harus mengakui kalau hubungan dia dengan Tira yang sudah menjadi sepasang kekasih namun sepakat untuk menyembunyikannya sementara waktu ini justru membuat pikiran Ernest tidak tenang dan ada rasa bersalah yang menelusup di hatinya begitu mengingat bahwa dia sudah menyembunyikan hal sepenting dan sebesar itu di hadapan Erich, yang selama ini memang belum pernah sekalipun dia lakukan.
Selama ini, sebagai saudara kembar yang tidak lagi memiliki sanak saudara yang lain, memang antara Erich dan Ernest, tidak ada satupun yang saling mereka rahasiakan satu sama lain.
Mereka berdua begitu saling terbuka satu sama lain, karena mereka sadar mereka harus saling bergantung dan saling percaya, karena dalam kehidupan mereka saat ini, hanya mereka berdua yang memiliki hubungan darah, sedang keluarga mereka yang lain sudah lenyap akibat kekejaman Eliana.
__ADS_1