
Bahkan sejak bayi, Ernest menemukan petunjuk bahwa laki-laki itu sudah berada di panti asuhan itu tanpa diketahui siapa yang sudah mengirimnya ke sana, sehingga info tentang siapa orangtua laki-laki itu tidak diketahui sama sekali.
Satu hal yang membuat kehidupan laki-laki itu terlihat aneh, meskipun tinggal di panti asuhan, tapi dia adalah anak yang secara kehidupan dan fasilitas selalu mendapat lebih baik dibandingkan dengan anak-anak panti asuhan lainnya.
Dari segi pakaian, makanan, bahkan tempat tidur dia selalu mendapatkan yang terbaik, seolah-olah dia bukanlah seorang anak yatim piatu pada umumnya.
Pendidikan yang dia terima juga di sekolah terbaik yang cukup mahal biayanya, sehingga secara pendidikan, orang yang tidak tahu latar belakangnya, tidak akan pernah mengira kalau dia adalah seorang anak yang tidak diketahui asal usulnya, dan tinggal di panti asuhan sebagai anak yatim piatu.
Belum lagi, jejak karirnya terhitung sangat mulus, dimana hanya beberapa tahun dia bekerja pada perusahaan besar, sampai akhirnya dia menjadi seorang pengusaha sukses di Amerika, meskipun usahanya justru berada di luar Amerika, bukan di Amerika sendiri.
Keberhasilan seorang anak yantim piatu, bukannya Ernest ingin meremehkan, karena sebenarnya dia dan Erich juga yatim piatu sejaak peristiwa pembantaian di desanya.
Akan tetapi kehidupan nyaman dan terlalu mulusnya jalan menuju sukses yang dialami oleh orang itu, membuat Ernest semakin bertanya-tanya, sebenarnya siapa laki-laki itu, dan apa hubungannya dengan Eliana, sehingga dia seperti orang yang tidak takut dicap sebagai anggota pemberontak karena beberapa kali sengaja mengunjungi Eliana, meskipun sepertinya, dia sengaja melakukannya dengan diam-diam.
Diam-diam dalam arti, laki-laki itu selalu berkunjung di jam-jam dimana sepi pengunjung lainnya, dan meskipun dia terlihat beberapa kali mengunjungi Eliana, tapi dia tidak akan lebih dari 5 menit menemui Eliana, setelah itu dia akan segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Beberapa kali Erich sengaja melihat rekaman cctv saat Eliana bertemu dengan laki-laki muda berasal dari Amerika itu, akan tetapi Erich tidak menemukan petunjuk apapun.
Setiap kali mengunjungi Eliana, laki-laki itu akan berdiri dengan sikap tegak, kedua tangannya berada di kanan kiri, samping tubuhnya, dan mata lurus menatap ke arah Eliana, yang tampak selalu meneriakkan nama Dion setiap kali melihat laki-laki itu, dan menit selanjutnya, Eliana akan menghabiskan waktu pertemuannya bersama laki-laki itu dengan menangis tersedu-sedu tanpa henti, sampai laki-laki itu pergi meninggalkannya.
Setiap kali mengamati hasil rekaman cctv pertemuan mereka berdua, Erich selalu berusaha menangkap adanya percakapan atau kata-kata sekecil apapun yang diucapkan oleh laki-laki itu untuk mendapatkan petunjuk.
Sayangnya hingga sampai saat ini, Erich tidak pernah mendengar sepatah katapun keluar dari bibir laki-laki itu ketika bertemu dengan Eliana.
Sikap yang ditunjukkan oleh laki-laki itu sungguh tidak bisa ditebak oleh Erich. Entah itu marah, sayang, kasihan, hormat, Erich tidak bisa menebak sikap laki-laki asing itu terhadap sosok Eliana.
“Tidak ada….” Erich menjawab pertanyaan saudara kembarnya itu dengan begitu singkat.
"Sepertinya kehadiran orang itu cukup mengganggu bagi yang mulia, sehingga duke Evan sampai turun tangan menyelidikinya dan berangkat ke Amerika." Komentar Ernest membuat Erich terdiam sebentar.
"Kamu tahu yang mulia Alvero selalu bersikap waspada jika itu kaitannya dengan Eliana. Beliau tidak mau masa kelam saat Eliana berusaha untuk menguasai istana terulang kembali."
__ADS_1
"Benar sekali, saat itu kehidupan kita di istana juga selalu dalam keadaan was-was, tidak ada rasa tenang dan damai sama sekali." Ernest langsung membenarkan perkataan Erich.
"Apa duchess Alaya akan ikut datang ke Amerika bersama dengan duke Evan?" Ernest yang tiba-tiba teringat pada Alaya yang selama ini seringkali lebih menganggapnya teman daripada seorang bawahan, seperti Deanda memperlakukannya, langsung bertanya kepada Erich dengan rasa penasaran terlihat jelas di wajah tampannya.
Jujur saja, Ernest merasa senang jika benar Alaya bisa ikut berangkat ke Amerika, dan bertemu dengan Tira, karena Ernest yakin kehadiran Alaya yang sebelum menikah dengan Evan bahkan sering memilih tidur berdua di kamar Tira, pasti akan membuat Tira senang dan nyaman.
"Tidak, duchess Alaya sedang hamil muda. Tidak mungkin duke Evan membiarkan istrinya melakukan perjalanan udara di usia kehamilannya yang masih begitu muda...."
"Benarkah? Duchess Alaya sedang hamil? Putri Tira pasti akan bahagia mendengar berita itu." Ernest langsung memotong perkataan Erich dengan suara terdengar begitu bersemangat, dengan senyum lebar di wajahnya, karena dia tahu pasti bagaimana dekatnya hubunga Alaya dan Tira selama ini.
"Kamu sepertinya juga terdengar bahagia. Kamu bahagia karena berita kehamilan duchess Alaya, atau bahagia karena putri Tira akan bahagia dengan berita itu?" Pertanyaa Erich membuat senyum di wajah Ernest menghilang seketika itu juga.
“Kenapa kamu bertanya hal seperti itu Erich?” Ernest langsung menjawab pertanyaan Erich dengan sebuah pertanyaan juga.
“Karena hal itu akan membuatmu selalu ingat tentang bagaimana kamu harus bisa mengendalikan diri dan hatimu saat bersama putri Tira, majikan kita, yang harus kita jaga dengan baik sebagai seorang knight.” Erich berkata dengan menegaskan kata-kata bahwa mereka adalah seorang knight, sedang Tira adalah seorang putri.
__ADS_1