
Dari semua huruf kapital yang ada, meski huruf T itu tidak terlihat seutuhnya, Ernest yakin bahwa itu memang benar adalah huruf T, karena tidak ada huruf lain yang bentuknya seperti huruf T.
"Selamat pagi Pak Luis...." Ernest mengucapkan salam pada Luis dengan sikap sopan dan senyum di wajahnya, sambil berjalan menuruni podium, berniat menyusul Anna dan Tira yang sudah berjalan mendekati pintu, tapi suara sahutan dari Luis membuat Ernest menghentikan langkahnya.
"Selamat pagi. Kenapa kalian bertiga masih berada di kelas? Bukannya kelas sudah berakhir 30 menit yang lalu?" Luis menyambung balasan sapaannya kepada Ernest dengan sebuah pertanyaan.
"Kami barusan sedang membahas tentang tugas kuliah hari ini Pak." Dengan tetap tersenyum, Ernest menjawab pertanyaan Luis yang sedang menatap lurus ke arahnya.
"O, begitu ya?"
"Benar Pak. Bapak juga sepertinya tidak ada jadwal mengajar di kelas ini. Apa Bapak sedang mencari sesuatu? Mungkin saya bisa membantu Bapak?" Dengan sengaja, Ernest justru memperpanjang pembicaraan mereka, agar dia bisa mengamati Luis, dan berharap apakah ada petunjuk yang mengarah kepada peneror itu.
Pertanyaan Ernest yang diucapkannya dengan sikap tenang, tapi isi pertanyaannya yang sebenarnya menunjukkan sikap menyelidik, membuat raut wajah Luis tampak berubah menunjukkan rasa kaget sekaligus rasa tidak senangnya.
Apa maksud anak ini bertanya seperti itu? Setelah membuat keributan dengan pernyataan cintanya pada Tira kemarin, sekarang dia berlagak sok tahu di depanku. Apa dia berpikir kalau aku ini adalah saingannya? Dia bahkan tidak pantas untuk mengajakku bersaing dalam hal apapun.
__ADS_1
Luis berkata dalam hati sambil menatap ke arah Ernest tanpa senyum sedikitpun sebelum menjawab pertanyaan Ernest.
"Ada barangku yang tertinggal di kelas ini. Bukan barang penting, kamu tidak perlu memikirkannya. Silahkan meninggalkan tempat ini kalau kamu sudah tidak ada urusan di sini." Perkataan Luis membuat Ernest bisa mengerti bahwa Luis sungguh tidak merasa tenang dan senang akan kehadirannya di situ.
"Baik kalau begitu Pak, saya akan menyusul Tira dan Anna. Selamat pagi." Ernest berkata dan setelah itu berlalu pergi dari hadapan Luis.
Meskipun Ernest terlihat bersikap biasa-biasa saja, akan tetapi sudut matanya tetap berusaha mengawasi apa yang sedang dan akan dilakukan oleh Luis, yang menunjukkan sikap waspada, dan juga terlihat mengamati gerak-gerik Ernest.
"Apa ada sesuatu hal penting yang kamu bicarakan dengan pak Luis?" Anna langsung bertanya kepada Ernest dengan nada suara sedikit berbisik, karena takut didengar oleh orang Luis, sang dosen killer yang tampan itu.
"Sebenarnya tidak ada pembicaraan apapun. Kami hanya saling menyapa." Ernest berkata dan dengan sengaja berjalan mendekat ke arah Tira, dan mengambil posisi di dekat gadis cantik itu sambil mencondongkan tubuhnya ke samping sehingga dari jauh terlihat oleh orang kalau tubuh mereka seolah bersentuhan.
"Masa sih? Tapi kenapa dari jauh aku lihat tadi sepertinya kalian terlihat begitu serius dan suasana terlihat sedikit tegang?" Anna kembali bertanya kepada Ernest, sambil melirik ke arah Luis yang ternyata sedang menatap ke arah mereka, dan segera menggerakkan tubuhnya ke samping begitu melihat Anna yang sedang meliriknya.
"Serius, kami hanya saling menyapa." Ernest kembali menjawab pertanyaan Anna sambil meningat ujung kain yang terselip di laci tadi.
__ADS_1
Luis Anston, harusnya inisial nama dari dia adalah LA, atau AL, entah bagaimana dia mau membolak-balik tulisan itu. Hanya saja... tetap tidak mungkin menggunakan huruf T. Apa maksudnya dengan huruf T di kain itu?
Ernest mulai mereka-reka apa yang tertulis di ujung kain yang terjepit itu.
Hah! Tanpa melihatnya dengan pasti, mana mungkin aku berani menuduh orang dengan sembarangan. Selain itu, aku tidak bisa memastikan bahwa kain itu milik pak Luis. Bis saja itu milik orang lain, dan barang yang tertinggal milik pak Luis bukan kain itu. Sayang sekali di dalam ruang kelas ini tidak ada cctv yang terpasang, hanya di pintu masuk dan sekitar kelas saja. Kalau tidak, pasti Steve akan dengan mudah meretas dan mendapatkan rekaman cctv itu.
Ernest berkata dalam hati tanpa berani menoleh ke belakang kembali, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Luis. Apalagi Ernest bisa melihat kalau Anna terlihat bebrapa kali menoleh ke belakang.
Kalau Ernest mengikuti jejak Anna, Ernest tahu itu akan jadi pertanyaan besar di hati Luis, dan Ernest tidak menginginkan hal seperti itu terjadi padanya, karena untuk saat ini, penyelidikan yang dia lakukan harus terus berlanjut tanpa memancing kecurigaan orang lain.
Dari sikapnya, sepertinya aku harus lebih mencurigai pak Lusi sebagai salah satu tersangka pelaku teror....
"Ernest, jangan lupa untuk mengirimkan tugasmu hari ini, karena aku harus menggabungkannya menjadi satu dengan milikku." Suara perkataan dari Anna membuat Ernest menghentikan kata-katanya dalam hati dan menoleh ke arah Anna.
"Sudah pasti Anna. Aku akan segera membereskan tugas bagianku, kamu tidak perlu khawatir." Perkataan Ernest membuat Tira tersenyum kecil, membuatnya ingat bahwa dia dulu pernah begitu meremehkan kemampuan Ernest.
__ADS_1
Jika dulu, ketika Ernest baru saja datang ke Amerika dan berpura-pura menjadi mahasiswa yang melakukan pertukaran berkata seperti itu, dalam hati pasti hati Tira akan kembang kempis karena khawatir Ernest akan mempermalukan dirinya sendiri, karena tidak mengerti apa-apa tentang dunia musik.
Tapi saat ini, tentu saja Tira tidak berani menganggap remeh terhadap kemampuan dan pengetahuan Ernest dalam hal musik, yang boleh dikata, tidak akan kalah dengan para mahasiswa jurusan musik yang asli.