
Sayangnya setelah itu Tira langsung memutus pembicaraan antara dia dan Anna yang terlihat sedikit menghembuskan nafasnya dengan keras melalui sela-sela bibirnya begitu panggilan telepon antara dia dan Tira sudah terputus.
"Aist... tidak Ernest, tidak Tira, kenapa mereka berdua bersikap begitu aneh hari ini? Hah... semoga semua baik-baik saja." Anna bergumam pelan dan melanjutkan niatnya untuk mencari bahan mengerjakan tugas salah satu mata kuliahnya setelah Tira menutup panggilan teleponnya.
“Apa kamu baik-baik saja Tira?” Angel langsung berusaha membuka pembicaraan dengan Tira begitu dilihatnya Tira sudah menghentikan bicaranya dengan Anna dan memasukkan handphonenya ke dalam tasnya.
Ah, tenyata aku benar-benar kehilangan fokus karena terlalu memikirkan Ernest. Bagaimana bisa diantara begitu banyak mahasiswa, aku memilih untuk duduk di samping Angel?
Tira melenguh dalam hati tanpa berani menunjukkannya pada raut wajahnya agar Angel tidak merasa kalau sebenarnya selain Ernest, Angel adalah orang yang sedang ingin dia hindari untuk saat ini.
“Tentu saja Angel, apa aku terlihat sakit?” Tira balik bertanya kepada Angel sambil tersenyum ke arahnya.
“Tidak juga, hanya saja… maaf… aku tadi sedikit mendengar percakapanmu dengan Anna di telepon…..”
“Oh….” Tira langsung bergumam pelan mendengar perkataan dari Angel.
“Apa hubunganmu dengan Ernest sedang bermasalah? Sebenarnya, apa kalian sudah meresmikan hubungan kalian sebagai sepasang kekasih?” Pertanyaan Angel membuat Tira terdiam sesaat.
__ADS_1
Aku benar-benar ceroboh hari ini. Pembicaraanku dengan Anna pasti sudah membuat Anna berpikir kalau hubunganku dengan Ernest sedang dalam masalah dan dia bisa masuk diantara kami berdua untuk merebut Ernest.
Tira berkata dalam hati sambil memikirkan cara menjawab pertanyaan Angel agar gadis itu tidak berpikir bahwa dia bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa merebut perhatian Ernest darinya, namun juga mencoba menjawab dengan bijak agar Angel tidak merasa tersaingi, karena dia sudah mendengar bahwa untuk saat ini Angel begitu tertarik dengan Ernest dan bertekad untuk mendapatkan Ernest dengan menjatuhkan nama baiknya.
Mengingat itu, Tira langsung memasang senyum lebarnya di hadapan Angel.
“Ah, tidak. Aku tidak sedang bermasalah dengan Ernest, hanya saja… aku masih belum yakin dengan apa yang harus aku lakukan pada Ernest untuk menjawab perasaannya. Aku ingin meminta waktu untuk dapat memikirkan jawaban untuk pernyataan Ernest, jadi hubungan kami masih menggantung.” Penjelasan Tira tanpa sadar membuat Angel tersenyum dengan begitu lebar, membuat Tira hampir saja mengatakan penyesalannya karena sudah berkata seperti itu pada Angel.
Padahal dalam hatinya, Tira bahkan berharap agar ketidakpastian diantara dia dan Ernest bisa segera diselesaikan, dan dia juga berharap bisa mendengar dari bibir Ernest tentang perasaan cinta padanya, karena dia sendiri sadar sudah begitu jatuh cinta pada laki-laki tampan dan baik hati itu.
Jika saja tidak dalam kondisi seperti sekarang ini, rasanya Angel ingin tidak hanya berteriak dalam hati, tapi benar-benar meneriakkan rasa senangnya karena menyadari masih adanya kesempatan untuk dia merebut Ernest dari Tira.
“Semoga kamu bisa memutuskannya dengan bijak dan kepala dingin, karena banyak orang seringkali keliru membedakan antara sekedar suka dan cinta, atau sekedar rasa kagum atau benar-benar rasa cinta.” Perkataan Angel hampir saja membuat Tira tersenyum lebar, karena kentara sekali lewat kata-katanya, Angel ingin membuat agar Tira menolak Angel.
“Permisi, bolehkan aku duduk di sini? Masih kosong kan?” Dengan percaya dirinya Janeta yang baru saja masuk ke ruang kelas langsung mengambil posisi duduk di samping Tira, sehingga Tira duduk diantara Angel dan Janeta, membuat baik Angel maupun Tira langsung saling berdiam diri, meskipun sebelumnya mereka menganggukkan kepalanya secara bersamaan untuk mengiyakan permintaan Janeta untuk bergabung dengan mereka.
# # # # # #
__ADS_1
Ernest yang berlari kencang ke arah ruang kelas, tampak langsung mengerem gerakan kedua kakinya begitu dia tepat berada di depan pintu ruang kelas itu.
Dengan langkah berlahan Ernest berjalan sambil tatapan matanya menyapu seisi ruangan, dimana akhirnya dia bisa menemukan sosok Tira yang duduk di antara Janettta dan Angel, membuat Ernest mengernyitkan dahinya.
Syukurlah ternyata putri benar-benar berada di dalam kelas dan aman, tidak berada dalam bahaya.
Ernest berkata dalam hati dengan hati yang langsung terasa begitu lega dan kepalanya yang dingin kembali begitu melihat kehadiran Tira di kelas itu dalam kondisi baik-baik saja.
Melihat posisi duduk Tira yang sudah ada diantara Angel dan Janeta, membuat Ernest, mau tidak mau kembali duduk di tempat yang tadi sudah dipilihnya setelah dia melihat tidak ada kesempatan untuk mendekati Tira.
Beberapa kali, Ernest yang duduk di bagian depan dibandingkan Tira, mencoba untuk melirik ke arah Tira yang malam sebelumnya sudah membuatnya tidak bisa memejamkan matanya barang sedetikpun.
Saat ini Ernest sungguh berharap kalau Tira mau menoleh ke arahnya barang sebentar, tapi seperti orang yang tidak mengenal Ernest, Tira terus saja fokus menatap ke arah dosen yang sedang mengajar, bahkan saat Angel atau Janeta mengajaknya bicara, Tira memilih untuk menjawab mereka tanpa menoleh, tetap memandang ke arah depan.
Hal pertama yang ingin dilakukan oleh Ernest begitu sesi kuliah hari ini selesai adalah bergegas mendekat ke arah Tira, dan mempertanyakan tentang keputusan Tira yang tidak mau dikawal olehnya ataupun Edi dan Steven selama dia tinggal di mansion keluarga Shaw.
Akan tetapi, Angel yang sedari awal memang sedang menunggu kesempatan untuk mendekati Ernest langsung berjalan ke arah Ernest dan dengan sengaja berusaha menghalangi langkah-langkah Ernest, yang akhirnya hanya bisa melihat sosok Tira yang tampak tidak perduli dan tidak menoleh sedikitpun ke arahnya, langsung keluar dari pintu kelas, bahkan langsung meminta Steven dan Edi yang sudah bersiap di pintu gerbang untuk langsung mengantarnya kembali ke mansion.
__ADS_1