MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
A THOUSAND YEARS


__ADS_3

"Tapi Janetta, bukannya selama ini memang kamu terbiasa dengan gitar? Hasil dari penampilan grup band kita pasti akan lebih maksimal kalau masing-masing dari kita memegang alat musik yang paling kita kuasai." Bram berusaha menolak dengan halus pemintaan Janetta yang memang diketahuinya bisa memainkan gitar dengan baik.


"Apa kamu akan memberiku kesempatan kali sekali ini kalau dalam latihan nanti aku berusaha lebih keras dan menjamin permainan biolaku tidak akan kalah dengan yang lain?" Secara terang-terangan Janetta menantang Bram untuk mempercayainya, meskipun Janetta dengan sengaja tidak berani menyebutkan bahwa permainan biolanya lebih baik dari Bram yang memang dikenal mahir dalam memainkan biola.


Mendengar permintaan dengan nada memohon dari Janetta, Bram tampak terdiam dengan dahi sekit mengernyit, berusaha memikirkan jawabn yang tepat atas permintaan Janetta.


"Kalau begitu, aku serahkan yang lain saja. Bagaimana menurut pendapat kalian?" Bram bertanya sambil memandang ke arah Ernest dan Tira yang sedari tadi tidak banyak bicara.


Ah, kenapa aku jadi sulit sekali mengalihkan pandanganku dari Ernest? Rasanya aku ingin selalu melihat ke arahnya, padahal itu justru membuat hatiku semakin berdebar.


Tira berkata dalam hati sambil sedikit menunduukkan kepalanya, meskipun sesekali tanpa sengaja dan tanpa sadar, matanya melirik ke arah Ernest yang begitu tahu tindakan Tira, langsung menyungingkan senyum hormat kepadanya, membuat jantung Tira semakin melompat-lompat di dalam sana.


"Aku ikut saja dengan keputusan ketua kelompok dan yang lain." Tira akhirnya menjawab pertanyaan Bram, setelah beberapa waktu sebelumnya dia masih saja sibuk menenangkan dirinya dari detakan jantungnya akibat keberadaan Ernest.


"Bagaimana denganmu Ernest?" Sambil mengucapkan kata-katanya, Bram memandang ke arah Ernest yang tersenyum sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Kalau menurutku, kita coba saja untuk kalian memainkan alat musik yang kalian inginkan. Toh kita masih punya waktu untuk berlatih. Jika memang Janetta mengalami kesulitan, kita bisa mengubah formasi awal kita." Kata-kata Ernest yang terdengar bijak, membuat yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sikap setuju.


"Oke kalau begitu. Sekarang waktunya untuk menetapkan lagu yang akan kita mainkan. Kita mau mengambil lagu lama dan melakukan aransemen ulang, atau kita mau ambil lagu-lagu yang dikenal anak muda sekarang?" Bram kembali bertanya sambil membuka layar handphonenya, dimana dia tadi sebelum berangkat ke kampus sempat mencatat beberapa lagu yang menurutnya bagus untuk dibawakan dalam alunan musik berjenis intrumental.


“Love is blue sepertinya akan cocok untuk kita mainkan.” Janetta langsung memberikan sarannya.


“Love is blue milik Paul Mauriat memang selama ini banyak dimainkan dalam jenis musik instrumental. Akan tetapi, bisakah kita memilih lagu yang tidak menceritakan tentang patah hati? Kita in ikan masih muda, ada baiknya kita pilih lagu tentang cinta saja.” Kata-kata Bram memebuat Janetta menarik nafas panjang, lalu mengangukkan kepala tanda setuju.


“Kalau begitu…. Bagaimana dengan A Thousand Years Christina Perri?” Tanpa sadar Ernest langsung menatap lurus ke arah Tira begitu Tira menyebutkan tentang lagu A thousand Years yang merupakan lagu favoritnya, dan sering dia mainkan dengan saxsofone kesayangannya.


“Aku setuju…..” Baik Bram dan Janetta langsung menjawab setuju, membuat Tira tersenyum.


“Itu masuk dalam salah satu list lagu pilihanku juga. Kalau begitu, bagaimana kalau kita coba berlatih sekarang sebelum pertemuan kita berikutnya?” Bram berkata sambil bangkit dari duduknya, diikuti oleh yang lain.

__ADS_1


# # # # # #


Suara dentingan piano sebagai intro dari lagu yang akan dibawakan mereka mengalun diiringi dengan sebuah senyuman dari bibir Ernest yang merasa senang bisa menyaksikan secara langsung bagaimana gadis yang dipujanya itu sedang memainkan jari-jari lentiknya di atas tust piano dengan wajah serius dan menghayati.


Beberapa detik kemudian, musik yang lain langsung terdengar mengiringi alunan suara piano yang dimainkan Tira.


Heart beats fast (Jantungku berdebar kencang)


Colors and prom-misses (Warna-warni dan janji-janji)


How to be brave (Bagaimana agar berani)


How can I love when I'm afraid to fall? (Bagaimana bisa aku cinta saat aku takut jatuh?)


But watching you stand alone (Namun melihatmu sendirian)


All of my doubt suddenly goes away somehow (Segala bimbangku mendadak hilang)


One step closer (Selangkah lebih dekat)


Darling don't be afraid (Kasih jangan takut)


I have loved you for a thousand years (Aku tlah mencintaimu ribuan tahun)


I'll love you for a thousand more (Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi)


Time stands still (Waktu berhenti berputar)


Beauty in all she is (Segala tentangnya begitu indah)

__ADS_1


I will be brave (Aku akan berani)


I will not let anything take away (Takkan kubiarkan segalanya berlalu begitu saja)


What's standing in front of me (Apa yang menghalangi di depanku)


Every breath (Tiap tarikan nafas)


Every hour has come to this (Tiap jam telah sampai di sini)


One step closer (Selangkah lebih dekat)


And all along I believed I would find you (Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu)


Time has brought your heart to me (Waktu tlah membawa hatimu padauk)


I have loved you for a thousand years (Aku tlah mencintaimu ribuan tahun)


I'll love you for a thousand more (Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi)


One step closer (Selangkah lebih dekat)


One step closer (Selangkah lebih dekat)


And all along I believed I would find you (Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu)


Time has brought your heart to me (Waktu tlah membawa hatimu padauk)


I have loved you for a thousand years (Aku tlah mencintaimu ribuan tahun)

__ADS_1


I'll love you for a thousand more (Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi)


__ADS_2