
"Putri...." Sebuah jawaban pendek terdengar dari Ernest yang tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku... tidak mungkin memilih untuk tinggal di apartemen kalian. Maaf Ernest, tapi aku... benar-benar merasa takut...." Tira berkata sambil mengaitkan jari-jari tangannya satu dengan yang lain, jari-jari yang terlihat bergerak kesana kemari dengan sikap tidak tenang.
Mata Ernest yang melihat bagaimana saat jari-jari Tira bergerak itu, bisa memastikan kalau jari-jari lentik itu pasti terasa dingin jika dia menyentuhnya sekarang.
"Apa mungkin, saya perlu meminta yang lain juga berjaga di tempat ini Putri?" Ernest berusaha untuk mencari jalan tengah yang terbaik.
Jika hanya dia sendiri yang menjaga Tira, pasti akan menjadi masalah jika sampai keluarga Tira mengetahui dia hanya berduaan dengan Tira, sedangkan mereka tidak memiliki hubungan apapun untuk saat ini.
Dan dalam sistem kerajaan monarki absolut seperti di Gracetian, aturan dalam hubungan pria dan wanita, apalagi dengan status yang jauh berbeda, sangatlah ketat. Apalagi Gracetian adalah negara kerjaaan di Eropa yang masih mengikuti tata cara hidup di tahun 1900, dimana hubungan pria dan wanita sangatlah dijaga dengan begitu kuat sesuai dengan tradisi lama.
Akan beda ceritanya jika ketiga pengawal yang ada semuanya berada dalam apartemen Tira dan menjaganya secara bersamaan, tapi saat ini, Tira tidak ingin bersama dengan yang lain kecuali Ernest.
"Aku tidak terbiasa hidup bersama dengan orang asing, apalagi pria...." Perkataan Tira hampir saja membuat jantung Ernest melompat keluar dan bibirnya tersenyum lebar.
Tidak terbiasa tinggal bersama orang lain yang dianggapnya asing, tapi Tira memintanya untuk tinggal dengannya malam ini, membuat Ernest harus menahan dirinya untuk tidak melompat kegirangan karena kata-kata itu, karena tanpa sadar Tira menganggap Ernest bukan orang asing, dan meskipun pria, Tira merasa aman berada di dekat Ernest.
"Tapi Putri... sepertinya... itu akan membuat yang lain merasa aneh. Apa perlu saya mencarikan seorang pengurus rumah wanita yang bisa menemani Putri?" Dengan perasaan bercampur aduk, Ernest mencoba memberikan pengertian kepada Tira, karena jujur saja, dia tidak bisa seenaknya menyetujui permintaan Tira.
"Apa harus seperti itu? Meskipun sama-sama perempuan, aku juga merasa kurang nyaman tinggal dengan perempuan yang baru aku kenal." Tira berkata sambil mengingat bagaimana sejak awalpun, dia tidak pernah membiarkan orang tinggal bersama dengannya di apartemen, kecuali kedua orangtuanya dan Anna.
__ADS_1
"Kalau begitu Putri...."
"Ah... apa kamu merasa aku sangat merepotkanmu Ernest? Apa kamu tidak suka karena harus menjadi pengawalku?" Kata-kata Tira yang memotong perkataan Ernest itu, langsung membuat Ernest terdiam, dan hatinya merasa galau.
Di satu sisi dia tahu pasti posisinya sebagai seorang knight yang jauh berbeda dengan putri Tira, membuatnya harus begitu berhati-hati dalam bertindak dan bersikap, dan juga tidak boleh terlalu dekat dengan Tira, karena itu akan dianggap tidak sopan dan kurang ajar.
Tapi di sisi lain, dengan rasa cinta yang cukup lama dipendamnya, semuanya kata-kata Tira, dan juga kondisi Tira saat ini, membuat Ernest begitu ingin dekat dengan gadis itu, dan melindunginya dengan baik sepanjang waktu.
Saat berdua denganku, dia terlihat begitu menjaga jarak. Dia terlihat tidak ingin berada di dekatku. Apa Ernest... benar-benar tidak ada rasa sedikitpun padaku? Apa cintaku benar-benar hanya bertepuk sebelah tangan? Hari ini aku ingin dia menemaniku, karena bagiku, hanya dia yang bisa membuatku merasa tenang dan aman. Merasa begitu dilindungi....
Tira berkata dalam hati, dengan hati yang merasa galau dan sedikit terluka karena memikirkan bagaimana cintanya yang hanya bertepuk sebelah tangan terhadap Ernest, yang semakin hari semakin dikaguminya.
Dengan semua yang sudah dilakukan Ernest untuknya, dan juga sikap dan tindakan Ernest setelah mereka berdekatan, membuat Tira semakin jatuh cinta pada laki-laki tampan yang baik hati dan mempesona itu.
"Baik Putri, saya akan menemani Putri malam ini." Pada akhirnya, logika Ernest benar-benar kalah dengan perasaan cintanya pada Tira, sehingga membuatnya mengambil keputusan yang dia tahu tidak seharusnya dia ambil.
Ernest tahu, dia pasti akan habis dan berada dalam masalah besar jika keputusan nekatnya hari ini diketahui Erich, apalagi keluarga Tira, yang pasti akan memprotes keras tindakannya, berani memutuskan berada hanya berduaan bersama Tira di apartemen Tira sepanjang malam ini.
Bahkan seorang Alvero yang begitu dekat dengannya, Ernest sadar, Alvero juga pasti akan memarahinya jika dia mendengar bagaimana dia berencana berada dalam satu atap dengan Tira sampai semalaman, meskipun alasannya adalah untuk memastikan Tira dalam kondisi aman.
Tapi melihat bagaimana Tira yang terlihat ketakutan, bagi Ernest yang begitu mencintainya, mana bisa dia menolak permintaan gadis yang dicintainya itu.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Benar. Selama Putri menginginkannya, saya akan berada di tempat ini untuk menemani Putri." Bahkan tanpa bisa dia kendalikan, Ernest mulai mengucapkan kata-kata manis yang menunjukkan keperduliaannya pada Tira.
"Terimakasih Ernest...." Tira berkata sambil memandang Ernest dengan senyum lega tersungging di wajahnya.
Kalau anda tersenyum semanis itu, siapa orang yang bisa menolak permintaan anda Putri?
Ernest berkata dalam hati sambil menahan nafasnya, antara menyesal dan tidak menyesal atas keputusannya mengabulkan permintaan Tira, dua hal yang bertentangan, sedang silih berganti memenuhi otak Ernest.
"Kalau begitu... saya akan memberitahukan kepada yang lain tentang hal ini...."
Dan semoga mereka bisa mengerti dan tidak berpikir yang aneh-aneh tentang hal ini.
Ernest melanjutkan kata-katanya dalam hati, supaya Tira tidak melihat bagaimana sebenarnya keputusannya itu bisa membawa penilaian buruk padanya.
"Ernest...." Belum lagi Ernest melangkah pergi, tangan Tira dengan cepat meraih tangan Ernest, membuat lagi-lagi tubuh Ernest tersentak kaget seperti terkena sengatan listrik.
Ernest bisa merasakan begitu dinginnya tangan Ernest, dan tangan itu juga terasa bergetar, membuat Ernest semakin yakin, Tira sedang dalam kondisi ketakutan, dan itu membuat rasa menyesal dalam hatinya karena sudah lancang memenuhi keinginan Tira jadi hilang.
"Maaf... tapi jangan pergi terlalu lama ya. Aku takut…." Dengan suara begitu pelan dan ragu Tira berkata sambil melepaskan kembali tangannya yang tadinya meraih tangan Ernest, merasa kaget dengan dirinya sendiri yang sudah begitu berani meraih tangan itu tanpa ijin si empunya, yang harus dengan susah payah menahan gejolak dalam dadanya karena genggaman tangan Tira yang seperti aliran listrik, mengalir ke seluruh tubunya dan membuat otot-ototnya menegang.
__ADS_1
"Saya akan segera kembali. Jangan khawatir Putri, saya akan menjaga Putri dengan segenap kemampuan saya." Ernest berkata lembut dan berusaha menahan agar suaranya tidak terbata-bata karena gugupnya dia saat ini, sambil sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sikap hormat, sebelum berjalan ke arah pintu, dimana Tira terus menatapnya tanpa berkedip sedikitpun, sampai sosok Ernest menghilang di balik pintu kamarnya.