
“Klek…” Sebuah suara yang menunjukan bahwa kunci pintu sudah terbuka setelah Ernest menempelkan jari-jari tangannya ke kunci digital itu membuat Tira tersenyum dengan wajah terlihat puas, sedang Ernest terlihat kikuk dengan wajah bimbang menatap ke arah bagian dalam apartemen milik Tira.
"Berhasil...." Tira berkata senang sambil melangkah masuk ke dalam apartemen dengan langkah-langkah ringan, sedang Ernest masih dngan setia diam terpaku di tempatnya.
"Ernest... kenapa kamu masih diam disana? Bukannya kamu harus melakukan tugasmu seperti biasa?" Tira yang akhirnya menyadari kalau Ernest tidak mengikuti langkah-langkah kakinya masuk ke dalam apartemen langsung menoleh dan menegur Ernest.
"Eh... iya Putri. Ada apa?" Tira langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar pertanyaan Ernest yang baru sadar dari lamunannya sehingga wajahnya terlihat bingung, karena tidak konsentrasi dengan apa yang diucapkan oleh Tira sebelumnya.
"Lho... bukannya biasanya kamu selalu melakukan pengecekan di dalam apartemenku sebelum sebelum aku masuk? Untuk memastikan semuanya aman dan baik-baik saja?" Tira berkata sambil tersenyum melihat Ernest yang tampak gugup karena Tira mengingatkan bagaimana dia yang hampir saja melalaikan tugasnya.
Aduh! Bagaimana bisa aku jadi seperti orang linglung dan lupa akan tugas serta kewajibanku sebagai pengawal pribadi putri Tira?
Ernest mengomeli dirinya sendiri dalam hati sambil bergerak cepat untuk melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Tira barusan.
"Apa menurutmu semuanya sudah aman? Karena kamu sudah melakukan pengecekan tadi pagi?" Tira kembali bertanya kepada Ernest.
__ADS_1
"Tidak Putri... saya harus melakukan apa yang sudah menjadi standar dalam kerja saya seharusnya." Ernest segera menjawab perkataan Tira.
"Kalau begitu, kamu bisa mulai melakukannya sekarang." Sambil mengucapkan kata-katanya, Tira sedikit menggeser tubuhnya, seolah memberikan jalan selebar-lebarnya pada Ernest untuk masuk ke dalam apartemennya.
"Ya Putri.... maaf.... Saya akan segera melakukan tugas saya." Dengan bergegas Ernest langsung bergerak ke arah dalam apartemen Tira dan mulai melakukan penyisiran dan pemeriksaan seperti biasanya.
Dengan matanya yang terlihat begitu awas, Ernest kembali melakukan pengecekan seperti biasanya, dengan Tira yang meengekor di belakangnya dan berjalan mengikuti Ernest kemanapun dia melangkah.
Awalnya Ernest yang begitu fokus tidak begitu mempermasalahkan apay nag sedang dilakukan oleh Tira sekarang, tapi karena Tira terus mengikutiya bahkan saat Ernest mulai memasuki kamar Tira untuk memastikan semuanya baik-baik saja, hati Ernest mulai terusik kembali, dan membuat jantung yang tadinya sudah sedikit tenang, kembali bereaksi dan membuat masalah dengan mulai berdetak dengan lebih kencang lagi.
Jajaran pakaian dan juga semua aksesori yang tersusun rapi di area walk in closet kamat itu, pastinya membuat Ernest diam-diam membayangkan bagaimana cantiknya Tira dengan ratusan pakaian cantik dan menarik itu, yang beberapa diantaranya adalah pakaian dengan merk-merk terkenal yang sudah mendunia.
Pakaian mewah dengan merk terkenal, bukanlah hal baru bagi Ernest yang dulunya sebelum Alvero menikah seringkali menjadi orang yang kadang menyiapkan pakaian yang akan dikenakan raja muda itu.
Apalagi Ernest juga bukan orang miskin yang tidak mampu membeli pakaia-pakaian bermerk seperti itu.
__ADS_1
Akan tetapi memikirkn bahwa yang sedang dilihatnya sekarang adalah jajaran pakaian milik gadis yang begitu disukainya, mau tidak mau membuat pikiran Erneat menjadi buntu.
Saat memasuki area kamar mandi yang menjadi bagian dari kamar itu, jelas akan membuat angan-angan Ernest sebagai laki-laki normal membayangkan hal yang tidak-tidak tentang bagaimana menggodanya sosok Tira yang baru selesai mandi dan hanya berbalutkan dengan selembar handuk, dalam kondisi tubuh yang seegar dan sedikit basah karena air.
Gila! Benar-benar gila! Kenapa otakku jadi berpikiran mesum seperti itu tentang putri Tira? Aku benar-benar sudah bersikap kurangajar padanya. Kalau sampai putri Tira mengetahui isi pikirannya, bisa-bisa dia akan langsung menendangku kembali ke Gracetian malam ini juga. Dan mungkin akan berakhir dengan dicabutnya status knight yang aku miliki.
Ernest melenguh dalam hati dengan sikap merasa bersalah, meskipun Tira apalagi orang lain tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya.
“Ernest… apa semuanya baik-baik saja? Atau ada yang terlihat mencurigakan di kamarku?” Pertanyaan dari Tira benar-benar menyadarkan Ernest bahwa sedari tadi Tira terus membuntutinya, dan itu justru memperburuk keadaan jantung pikirannya yang sedang sedikit tidak terkendali malam ini.
Astaga putri… kalau putri terus berada di dekatku seperti ini, bagaimana bisa aku bekerja dengan baik?
Ernest berkata dalam hati sambil sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, meskipun dia tidak benar-benar memandang ke arah Tira yang masih setia berada di belakang Ernest.
“Ah… maaf Putri, saya harus lebih memperhatikan semua hal yang ada di dalam kamar ini agar tidak ada yang terlewatkan. Apalagi malam tadi Putri sudah mendapatkan teror kembali sampai dua kali dalam sehari. Semoga sistem keamanan di apartemen ini sungguh bekerja dengan baik. Tapi saya harus tetap waspada terhadap hal buruk apapun.” Ernest berkata tanpa berani menadang ke arah Tira.
__ADS_1
“Melihat bagaimana rapinya peneror itu bekerja dan begitu menguasa keadaan, saya yakin dia orang yang nekat tapi juga teliti dan berhati-hati dalam bertindak.” Kata-kata Ernest membuat Tira menghela nafasnya, tapi di sisi lain hati Tira merasa senang melihat bagaimana Ernest yang terlihat begitu perduli dengan keselamatannya.