MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
TERUS MELAKUKAN ANALISA


__ADS_3

"Selamat siang. Kita bertemu lagi dua hari lagi di kelas yang sama." Luis berkata kepada para anak didiknya, sebelum melangkah keluar dari kelas yang diajarnya.


Ah... untunglah kuliah pak Luis sudah selesai. Lebih baik ke depannya, dudukku jauh-jauh dari Ernest, daripada pikiranku jadi ikut kacau karena benang kusut yang digambarnya.


Tira berkata dalam hati sambil menghela nafas panjang, berusaha memikirkan kalau dia tidak mau dekat-dekat Ernest karena memikirkan bagaimana payahnya Ernest dalam hal musik, sedangkan dalam hati yang paling dalam Tira merasa tidak tenang dan bingung terhadap dirinya sendiri, karena setiap berada di dekat Ernest beberapa waktu ini, hatinya merasa tidak tenang, dengan dada yang berdebar-debar.


Dengan gerakan yang dia usahakan secepat mungkin yang dia bisa, Tira membereskan alat-alat tulisnya, dan memasukkannya ke dalam tas ransel yang dibawanya.


"Tira...." Sebuah panggilan pelan dari arah samping, membuat Tira menoleh, dan melihat sosok Bram salah satu mahasiswa yang dikenal begitu pendiam, dan lebih suka menyendiri, tapi memiliki kemampuan lebih diantara teman-teman seangkatannya dalam menggubah lagu.


(Menggubah musik berarti memberi hal-hal baru terhadap musik yang sudah ada. Penggubah atau pengaransemen adalahistilah bagi orang yang menggubah musik, atau dalam bahasa Inggris disebut arranger yang biasanya disingkat dengan Arr. Pengaransemen berbeda dengan pencipta. Tujuannya untuk menambah kualitas lagu dan mengubah lagu menjadi lebih baik dan menarik).

__ADS_1


Bram Conley, mahasiswa satu angkatan Tira, yang keluarganya memiliki latar belakang pencipta lagu yang banyak dicari oleh para penyanyi dan grup band terkenal karena karya-karya indahnya. Cukup masuk akal dia mengikuti jejak keluarganya untuk mendalami dunia musik. Tapi sifat pendiam dan tertutupnya sejak kecil, membuatnya menjadi sosok yang misterius, dan tidak banyak orang yang bisa dekat dengannya. Dia seperti orang yang memiliki dunianya sendiri.


Ernest yang ikut menoleh ke arah sumber suara yang baru saja memanggil nama Tira, langsung berkata dalam hati begitu melihat sosok Bram, yang merupakan salah satu anggota kelompok Tira dan Ernest, yang sudah ditetapkan oleh Romeo.


"Eh, iya Bram.... Apa kamu mau membahas tugas keompok kita?" Tira langsung menjawab panggilan Bram sambil tangannya terus bergerak memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tas ranselnya.


"Iya, benar... kapan kita bisa berkumpul membahas tugas kita?" Bram bertanya sambil memandang Ernest yang tampak tidak fokus ke arahnya, tapi barusan dengan jelas Bram bisa merasakan bagaimana Ernest memandangnya dengan cukup tajam barusan, dengan sikap menyelidik.


"Scan saja kode QR milikku. Kamu bisa meminta kode QR Janetta dan Ernest juga." Tira berkata sambil memasukkan kembali handphonenya setelah Bram memindai kode QR dari handphonenya.


Begitu Bram selesai dengan memindai kode QR di handphone Tira, tanpa perlu Bram meminta kepada Ernest, laki-laki tampan itu segera menjulurkan handphone miliknya ke arah Bram, yang tanpa mengatakan apapun langsung melakukan hal yang sama pada handphone Ernest.

__ADS_1


"Setelah ini aku akan membuat grupnya. Aku pergi dulu." Bram langsung pergi meninggalkan yang lain begitu dia selesai memindai handphone Tira dan Ernest.


"Aduh Tira, meskipun kamu beruntung bisa satu kelompok dengan Ernest, sepertinya berada satu kelompok dengan Bram akan membuat suasana kelompok kalian sedikit kaku." Anna berbisik pelan begitu Bram sudah menjauh dari mereka.


"Tidak masalah, toh dia orang yang berbakat dalam hal musik. Dia pasti akan banyak membantu di grup kami. Karena itu, aku sengaja membiarkan dia yang menjadi ketua kelompok kerja kami." Tira berkata sambil tersenyum dan bangkit dari duduknya, karena setelah ini masih ada satu kelas yang harus dia ikuti.


"Ah ya, benar juga. Bagaimana aku bisa melupakan itu? Kamu beruntung bisa satu kelompok dengannya." Anna berkata dan mengikuti gerakan Tira karena dia juga ada kelas yang sama dengan Tira, berjalan meninggalkan kelas, dan menjauh dari yang lain, termasuk Ernest yang sedang sibuk mengetikkan sesuatu di layar handphonenya, mengirimkan pesan kepada Erich, yang baru saja memberitahunya tentang pekembangan penyelidikan tentang tamu yang misterius yang mengunjungi tempat dimana Eliana ditahan sekaligus dirawat karena gangguan jiwa yang dialaminya.


"Kalau dipikir-pikir, bisa jadi kelompokmu menjadi yang terbaik saat penampilan nanti, karena selain Bram, ada Janetta yang kemampuan bermain drumnya dikenal bagus. Kamu yang selalu dapat nilai sempurna di piano, dan Ernest yang menjadi idola baru kampus kita, meski aku jujur saja belum tahu kemampuan dia dalam bermusik." Anna berkata dengan tangannya melingkar di bahu Tira yang hanya bisa tersenyum tipis.


Itulah yang sekarang membuatku begitu khawatir tentang kelompok band kami, karena bisa jadi Ernest akan merusak kerja keras anggota tim yang lain. Semoga paling tidak, dia bisa memainkan salah satu alat musik, meskipun dia tidak terlalu mahir memainkannya, daripada dia tidak bisa sama sekali dan membawa masalah bagiku, apalagi kalau sampai penyamarannya ketahuan oleh pihak kampus.

__ADS_1


Tira berkata dalam hati dengan sikap pasrah, karena dia benar-benar tidak tahu apa yang akan bisa dia lakukan jika memang Ernest tidak memiliki kemampuan untuk bermain salah satu alat musik, yang wajib dimiliki oleh mahasiswa jurusan musik sepertinya.


__ADS_2