MY BELOVED KNIGHT

MY BELOVED KNIGHT
KEHILANGAN JEJAK TIRA


__ADS_3

“Tenang saja Edi, kenapa kamu terlihat begitu cemas, padahal aku hanya akan berjalan dari gerbang kampus sampai ke gedung kuliahku. Lagipula, di jam-jam ini adalah jam dimana banyak kelas yang diadakan, sehingga banyak mahasiswa dan dosen yang berkeliaran di kampus. Peneror itu tidak akan mungkin berani bertindak di tengah-tengah keramaian.” Tira berkata sambil benar-benar keluar dari mobil tanpa perduli lagi dengan Edi yang masih terlihat khawatir.


"Tapi Putri, peneror itu oarnag nekat yang bisa saja...." Edi menghentikan akta-katanya begitu melihat bagaimana Tira dengan tida perdulinya langsung pergi meninggalkan mobilnya.


“Putri tidak mau mendengarkan kata-kataku….” Edi berkata pelan sambil menatap Steven, dengan tatapan terlihat khawatir.


Setelah Ernest berakting sebagai laki-laki yang menyukai Tira dan mengejar-ngejarnya, lebih banyak dan seringnya teror yang dialami oleh Tira, bahkan tanpa perduli peneror itu berani melemparkan paket dan juga meletakkan bunga  di atas kap mobil Tira, padahal waktu itu dia juga melakukannya saat ada banyak orang, sehingga membuat Edi merasa tidak tenang, membiarkan Tira pergi tanpa pengawalan, meski hanya dari pintu gerbang k salah satu gedung kuliahnya yang mungkin hanya berjarak kurang dari 5 menit.


“Hubungi saja tuan Ernest, beritahukan apa yang terjadi pada putri, dan minta dia untuk segera menyusul putri ke arah pintu gerbang. Orang pasti tidak akan curiga jika tuan Ernest menempel terus pada putri Tira, karena dengan beberapa kejadian diantara mereka, orang pasti berpikir tuan Ernest memang tergila-gila pada putri.” Tanpa menjawab perkataan Steven, Edi segera mengambil handphonenya dan melakukan apa yang dikatakan Steven padanya dengan cepat.


# # # # # # #


"Baik, aku akan segera menyusul putri Tira ke sana." Ernest yang awalnya sudah berada di dalam kelas, langsung bangkit berdiri dengan meninggalkan tas ranselnya begitu saja di bangku yang baru dia duduki, dan dengan berlari pergi ke arah pintu gerbang untuk menyusul Tira.


Sejak semalam, pikiran Ernest merasa tidak tenang karena secara tiba-tiba, tanpa pesan apapun, Tira membiarkannya tidak mengetahui dan menyambut kedatangan Alvero, bahkan tidak mengajaknya ikut ke mansion keluarga Dave untuk mengawalnya.

__ADS_1


Sepanjang malam, Ernest berharap Tira mengirimkan paling tidak sebuah pesan untuknya, yang bisa menjelaskan kondisi Tira, atau apa keluhan Tira terhadapnya sehingga memutuskan untuk pergi begitu saja tanpa pesan untuknya.


Meskipun mereka tidak memiliki hubungan yang cukup dekat yang melibatkan perasaan suka, Ernest berharap, paling tidak sebagai pengawal pribadi Tira, Tira memberitahunya tentang keputusan yang dia ambil kemarin, yang sudah membuat hati Ernest tidak tenang sepanjang malam, bahkan sampai pagi ini.


Keinginan Ernest untuk mengetahui apa alasan di balik sikap Tira semalam, membuatnya yang tidak bisa tidur semalaman memutuskan untuk datang lebih awal ke kampus, berharap dia akan bertemu Tira yang juga mengambil kelas yang sama, dan memiliki kesempatan untuk bisa berbicara dengan Tira.


Akan tetapi, bukan sekadar berbicara pada Tira, sejak semalam, bahkan bayangan wajah Tira selalu saja memenuhi pikiran Ernest, dan terus membuat dadanya berdebar-debar sepanjang pagi ini, tidak sabar bisa melihat sosok cantik dari Tira setelah sepanjang waktu sejak kemarin, dia tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Tira.


Dengan cukup kencang, dan dada yang terus berdegup kencang, pikiran sedikit kacau, Ernest berlari meninggalkan kelasnya, namun sepanjang jalan ke arah pintu gerbang, Ernest yang sudah mencoba mengamati sekelilingnya, tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sosok Tira sama sekali.


Sambil mengatur nafasnya, Ernest yang sudah berada di pintu gerbang, berkata dalam hati dengan mata sibuk bergerak kesana kemari untuk mengamati sekitarnya.


Apa... terjadi sesuatu yang buruk... pada putri? Harusnya mereka tidak membiarkan putri pergi sendiri seperti itu, karena kampus adalah temapt paling berbahaya untuk putri.


Dengan perasaan cemas, Ernest kembali berkata dalam hati dan mengambil handphone dari kantong celananya untuk menghubungi Edi.

__ADS_1


"Hallo Tuan Ernest." Edi segera menyahuti panggilan telepon dari Ernest.


"Edi, aku sudah berada di pintu gerbang kampus, tapi aku tidak menemukan keberadaan putri Tira sama sekali." Edi yang duduk di sebelah Steven sedikit membeliakkan matanya begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ernest.


"Kenapa bisa begitu? Jelas-jelas kami melihat putr berjalan masuk ke dalam kampus. Apa ada sesuatu yang sudah terjadi?" Komentar Edi membuat Steven langsung menoleh ke arah Edi dengan sikap waspada.


"Tuan Ernest tidak bisa menemukan putri...." Edi menjelaskan kepada Steven dengan bibir bergerak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Aku juga tidak tahu apa yang sudah terjadi. Aku ingin memastikanm kalau kalian memang melihat putri sudah masuk ke dalam kampus. Aku akan berusaha untuk mencarinya lagi." Ernest berkata sambil membalikkan tubuhnya, lalu berjalan sambil mengamati sekelilingnya, mencari jejak keberadaan Tira.


"Tuan Ernest, apa kami perlu masuk ke dalam kampus dan membantu Anda menemukan putri?" Edi berkata sambil memberi tanda memutar balik kepada Steven lewat jari tangannya.


"Kalian kembali saja kemari. Tapi tunggu saja di area dekat pintu gerbang kampus. Aku tidak mau kedatangan kalian yang bukan mahasiswa menimbulkan kecurigaan bagi orang lain...."


"Baik Tuan Ernest...."

__ADS_1


"Sementara aku tutup teleponnya, aku akan mencari putri terlebih dahulu." Ernest berkata untuk memutus sambungan teleponnya agar dia bisa lebih fokus untuk menemukan Tira.


__ADS_2