
Bagi Ernest, sebagai seorang pria, dia harus kuat, dan bisa memperjuangkan Tira dengan baik, menunjukkan bahwa dia bisa menjadi pria yang bertanggung jawab terhadap wanita yang dicintainya.
“Jangan khawatir Putri, kita pasti akan bisa menghadapi semuanya dengan baik sambil bergandengan tangan dengan erat.” Ernest yang sudah mendongakkan kepalanya kembali berkata sambil mengelus pelan rambut di kepala Tira yang menyambutnya dengan sebuah senyum manis.
Aku tahu kamu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja saat ini. Kamu akan menghadapi banyak kesulitan dan tekanan karena keberadaanku sebagai kekasihmu. Aku sungguh berharap, apapun yang terjadi, kamu tetap meneguhkan hatimu untuk tetap memilihku sampai akhir.
Tira berkata dalam hati sambil memanjatkan doa, berharap dia maupun Ernest akan sama-sama kuat menghadapi setiap penghalang dari cinta mereka ke depannya.
Setiap kata-kata Ernest dan juga tatapan matanya, selalu saja berhasil menenangkan hatinya yang kalut.
Jujur saja, sejak memutuskan untuk menjadi kekasih Ernest, Tira bukannya tidak tahu bahwa jalan percintaan mereka tidak akan mudah.
Dia sebagai anak tunggal dari kedua orangtuanya sudah bisa memastikan kalau kedua orangtuanya pasti tidak akan terima kalau dia memilih Ernest sebagai pria yang akan menemani kehidupannya di masa depan sebagai pasangannya.
Tapi cinta yang dirasakannya terhadap Ernest, dan melihat bagaimana cara Ernest mencintai dan memperlakukannya membuat Tira bertekad untuk akan tetap mempertahankan Ernest meskipun dia tahu keluarganya akan menentangnya habis-habisan.
“Aku percaya padamu Ernest, hanya saja… tolong jangan panggil aku putri. Itu membuatku semakin merasa kalau ada jarak yang begitu jauh diantara kita.” Tira berkata sambil tersenyum dan mendekatkan mangkok yang tadinya sudah dia isi dengan sup ke arah Ernest.
“Ah… bukan begitu maksudku… kadang aku merasa sangat nyaman memanggilmu dengan sebutan putri. Bagiku, meskipun kamu bukan seorang putri, tapi untukku, kamu tetaplah putri yang harus aku jaga dan lindungi, juga cintai dengan baik.” Ernest berkata sambil tersenyum.
__ADS_1
“Oke kalau begitu, terserah padamu saja, tapi jangan selalu memanggilku dengan putri, karena aku sangat suka saat mendengar kamu menyebutkan namaku dengan lembut seperti sepanjang hari kemarin.” Tira menjawab perkataan Ernest sambil memberikan tanda kepada Ernest agar menikmati sup yang sudah dia siapkan untuk Ernest barusan.
“Sebentar lagi aku harus kembali ke mansion, karena kak Enzo ingin membahas beberapa hal sebelum pertemuan kami dengan pak Luis nanti….”
“Hah….” Ernest sedikit mendeeee…ssaah pelan mendengar Tira mengatakan tentang rencana pertemuannya dengan Luis, meskipun dia tahu memang rencana itu pasti akan dijalankan, ada tidak adanya dia, setuju atau tidak setujunya dia.
“Ah, Tuan Ernest… kenapa wajahmu terlihat susah begitu? Seolah mau melepaskan kepergianku ke tempat yang jauh?” Tira yang bsia melihat bahwa Ernest masih saja tidak rela membiarkannya pergi menemui Luis untuk mengucapkan terimakasihnya berkata sambil menahan tawa gelinya.
“Berhati-hatilah nanti saat bertemu dengan Luis.” Ernest berkata tanpa memberikan sebutan pak di depan nama Luis, karena sebenarnya dari segi usia, Ernest tahu kalau Luis hampir seusia dengannya, bahkan Ernest lebih tua setahun dari dosen muda itu, membuatnya abegitu enggan memanggilnya dengan sebutan pak.
“Apa kamu lupa dengan siapa aku akan pergi menemui pak Luis? Kak Enzo dan duke Evan. Apa kamu meragukan kemampuan jenderal besar Gracetian untuk bisa melindungiku dengan baik?”
“Memang benar Luis tidak akan mungkin bisa melakukan apapun padamu selama ada pangeran Enzo dan duke Evan di dekatmu, tapi bagaimana dengan waktu-waktu selanjutnya saat mereka berdua tidak lagi ada di dekatmu?”
“Kan ada kamu Ernest? Bukannya kamu akan selalu berada di dekatku?” Pertanyaan balik dari Tira membuat Ernest sungguh tidak berkutik.
“Ernest, sebenarnya apa yang kamu pikirkan tentang pak Luis? Rasanya ketakutanmu padanya bukan sekedar karena cemburu, karena kamu tahu aku tidak memiliki perasaan apapun padanya.” Perkataan Tira membuat Ernest yang baru saja menyelesaikan satu suapan sup ke dalam mulutnya menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang sendok dan menatap ke arah Tira sambil menarik nafas panjang.
“Aku harap penjelaasanku ini tidak membuatmu menjadi takut, dan justru membuatmu jadi lebih waspada….”
__ADS_1
“Memang kenapa dengan pak Luis? Kenapa kamu berkata seperti itu?” Tira bertanya dengan kening berkerut.
“Dari beberapa bukti dan rekaman cctv, aku mengamati ada beberapa hal-hal yang janggal yang sudah terjadi, seolah-olah penerormu bukan hanya Robin, bukan cuma satu orang. Dari hasil penyelidikan memang terbukti Robin adalah orang yang menerormu selama ini. Tapi dari beberapa kejadian aku melihat bukan cuma Robin pelakunya….” Kata-kata Ernest mau tidak mau membuat bulu kuduk Tira merinding.
“Apa kamu ingat ketika dalam waktu berdekatan, kamu menerima lemparan paket berisi boneka chucky, tapi juga bunga di bagian belakang kap mobilmu?” Tira menjawab pertanyaan Ernest dengan sebuah anggukan kepala dengan wajah bertanya-tanya.
“Kalau aku mencoba menghitung waktunya, sepertinya itu tidak mungkin hal yang jarak waktunya begitu dekat, dilakukan oleh satu orang yang sama. Belum lagi apa kamu ingat ketika kita berada di kelas dan tiba-tiba Luis masuk ke dalam kelas yang seharusnya bukan ruangan tempatnya mengajar?” Lagi-lagi Tira menjawab pertanyaan Ernest dengan sebuah anggukan kepala.
“Waktu itu aku melihat sebuah kain yang terjepit di laci meja dosen, dan di sana aku melihat adanya kain dengan inisial yang sepertinya adalah huruf T dan L, sama dengan yang biasa yang terdapat pada topi yang biasa dikenakan oleh Robin. Hanya saja kita perlu ingat kalau Robin dalam melakukan aksinya selama ini, dari rekaman cctv tidak pernah menggunakan inisial TL di atributnya kecuali topi yang dia kenakan untuk menutupi wajahnya.” Kta-kata Ernest benar-benar membuat Tira melongo dengan tatapan mata tidak percayanya.
“Apa itu artinya… kamu mencurigai pak Luis… selama ini juga… merupakan penerorku?” Dengan sedikit terbata Tira bertanya kepada Ernest yang mau tidak mau langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Tira tersebut.
“Bagaimana mungkin….”
“Aku bahkan curiga kalau yang berusaha membiusmu waktu itu bukanlah Robin, tapi Luis, karena dari ciri-ciri yang dijelaskan oleh Vincent dan Edi, secara fisik, pelaku lebih mirip dengan sosok Luis daripada Robin.” Ernest menghentikan kata-katanya sebentar sambil mengingat di beberapa rekaman cctv aygn sempat menangkap aksi Robin, Ernest bisa melihat ada beberapa peristiwa dimana sosok orang itu tidak seperti Robin, tapi lebih mirip dengan sosok Luis.
“Belum terbukti secara jelas, tapi ada beberapa hal lain yang membuatku curiga bahwa Luis sudah lama mengetahui kalau Robin adalah orang yang sering menerormu, dan dia mencoba melakukan hal yang sama dengan kondisi yang mirip dengan apa yang dilakukan Robin, agar suatu ketika jika ada orang yang tertangkap dengan tuduhan teror itu adalah Robin, dan dia bisa terus berkeliaran dnegna bebas. Itu masih sekedar kecurigaanku, tapi aku yakin tidak lama lagi aku akan mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kecurigaanku itu…”
“Ernest… lalu apa yang harus kita lakukan agar pak Luis segera tertangkap kalau memang benar-benar dia juga melakukan teror padaku? Dia pasti lebih siap sekarang karena Robin sudah tertangkap.” Tira buru-buru memotong perkataan Ernest yang panjang lebar itu.
__ADS_1