
“Aku harus menceritakan bagaimana kisah cintaku dengan kakakmu Alvero? Bukannya sejak awal kamu sedikit banyak tahu kisah cinta diantara kami, karena kamu juga tinggal di istana Gracetian waktu itu?” Deanda berusaha menghindar dari pertanyaan dari Tira.
“Tapi aku kan tidak pernah tahu secara detail. Kak Deanda tahu sendiri, meskipun kita sama-sama tinggal di istana. Tapi besarnya istana Gracetian membuat kita hampir boleh dibilang jarang sekali bertemu kecuali di acara-acara tertentu seperti afternoon tea dan makan pagi atau amakn malam di istana. Lagipula kita tinggal di sisi yang berbeda di istana Gracetian yang luas itu.” Tira berkata dengan tatapan mata memohonnya.
“Ayo Kak Deanda, tolong ceritakan padaku bagaimana kak Alvero menyatakan cintanya kepada Kakak?” Pertanyaan Tira membuat baik Laurel, Cladia maupun Elenora memandang ke arah Deanda dengan wajah ikut merasa penasaran, karena sebenarnya setelah mereka dekat, mereka juga tidak pernah saling menceritakan bagaimana para suami mereka yang posesif menyatakan cinta mereka kepada para istri yang sekarang sedang berwajah penuh dengan rasa ingin tahu karena pertanyaan Tira.
Aku harap dari setiap kisah cinta mereka yang beraneka ragam dan juga unik, aku bisa belajar banyak untuk bisa mendapatkan hati Ernest.
Tira berkata dalam hati dengan wajah penuh harap menatap ke arah Deanda, menunggu kakak iparnya yang cantik itu memulai cerita cintanya.
“Eh, tapi sebenarnya memang aku juga belum pernah tahu bagaimana Alvero menyatakan cintanya pada Deanda. Apa dia mengatakan itu sambil membawa rangkaian bunga di hadapanmu?” Laurel langsung berkata dengan nada cerianya begitu dilihatnya Deanda masih terdiam dengan wajah terlihat begitu canggung.
__ADS_1
“Tidak… bukan begitu….” Deanda berkata dengan tangan tetap mengelus-elus perutnya dan menatap jauh ke arah tepian kolam dimana Alvero tampak sedang bercanda dengan Ornado dan yang lainnya sambil tertawa terbahak-bahak, suatu hal yang boleh dibilang jarang sekali dilakukan oleh Alvero kecuali dia merasa sangat bahagia, seperti saat ini, saat sedang bersama dengan para sahabatnya, dan juga… saat Alvero bersamanya dan menggodanya.
Seorang Alvero yang selalu tampak serius dengan senyumnya yang dikenal pelit, setelah bertemu dengan Deanda dia menjadi laki-laki yang terlihat begitu iseng dan jahil bagi Deanda, bahkan Deanda sempat memberinya julukan sebagai pria mesum, meskipun Alvero hanya akan melakukan hal-hal mesum padanya, karena hanya dia gadis yang bisa disentuh tanpa memberikan efek pada Alvero.
Tanpa sadar sebuah senyum dengan aura bahagia tersungging di bibir Deanda sesaat setelah matanya melihat ke arah Alvero, membuat orang yang melihatnya pasti tahu betapa besar cinta Deanda untuk Alvero bahkan hanya dengan melihat bagaimana cara Deanda tersenyum saat melihat ke arah suaminya itu.
“Lalu bagaimana dong? Kak Alvero, apakah menyatakan cintanya sebelum atau sesudah kalian menikah? Karena aku ingat dulu pertama kalinya Kak Deanda masuk ke istana, sikap Kakak sudah seperti sapi yang sedang dibawa ke tempat penyembelihan.” Tira berkata sambil tersenyum geli mengingat bagaimana wajah tertekan Deanda ketika baru pertama kalinya memasuki gerbang istana Gracetian waktu itu.
Tira yang waktu itu belum dekat Deanda bahkan bisa menebak kalau masuknya Deanda ke istana pasti atas paksaan Alvero yang dikenal tidak pernah mau mengalah saat dia sudah membuat satu keputusan, termasuk saat dia sudah menetapkan Deanda sebagai calon istri pilihannya waktu itu.
Semua ingatan tentang apa yang mereka alami, semua yang sudah dilakukan Alvero untuk mendapatkannya, termasuk semua jebakan yang sudah direncanakan Alvero sejak awal selalu saja membuat hatinya membuncah dengan rasa bahagia karena tahu bahwa semua kisah itu membuatnya semakin yakin tentang begitu besarnya cinta Alvero padanya sejak awal pertemuan mereka.
__ADS_1
“Awalnya dulu aku berpikir my Al ingin menikah denganku karena ingin menyelamatkan posisinya sebagai putra mahkota Gracetian, dan aku juga berpikir kalau saat itu aku hanya sedang berusaha membantu tokoh idolaku. Tapi aku tidak menyangka kalau sebenarnya sejak awal kami sudah saling jatuh cinta, meskipun ucapan cinta dari my Al… baru dia katakan setelah kami menikah, dan menjalani masa bulan madu kamu di villa pantai Tavisha waktu itu.” Dengan wajah memerah karena semua ingatan manis itu membuat rasa cintanya terasa memenuhi hatinya, Deanda sedikit bercerita tentang kisah cintanya dengan Alvero kepada Alvero.
“Aku baru tahu kalau Alvero sedikit terlambat menyatakan cintanya padamu.” Cladia yang biasanya diam langsung berkata sambil tersenyum dengan bibir mungilnya yang membuatnya tampak seperti boneka barbie yang sedang tersenyum.
“Bagaimana dengan Kak Cladia sendiri? Apa kak Ornado menyatakan cintanya sebelum atau sesudah menikah?” Pertanyaan selanjutnya dari Tira kepada Cladia membuat wajah Cladia yang memang dasarnya mudah sekali memerah dan menjadi satu hal yang begitu disukai oleh Ornado itu, jadi benar-benar sangat memerah.
“Kalau Ad, jangan ditanya lagi Tira. Bahkan sejak dia masih kanak-kanak dan belum tahu apa itu cinta, dia selalu saja mengatakan tentang Cladia yang dia cintai dan akan menjadi istrinya di masa depan.” Laurel yang sejak kecil merupakan teman akrab Ornado dan Cladia langsung berkata sambil tertawa geli karena memang sejak kecil Ornado sudah terlihat begitu sayang pada Cladia.
“Ah, romantis sekali….” Elenora yang ada di sana ikut memberikan komentarnya.
Hampir sama dengan kisah Ornado dan Cladia, Elenora sejak kecil juga sudah menjadi teman baik James, hanya saja, rasa cinta James sempat tertutup oleh kebencian karena sebuah kesalahpahaman yang cukup panjang.
__ADS_1
“Apa benar begitu Kak Cladia?” Tira yang masih saja merasa penasaran dengan jawaban Cladia yang sejak Tira bertanya wajahnya langsung memerah, dan tatapan matanya terus terarah kepada Ornado yang meski bersama teman-temannya seringkali meluangkan waktu untuk matanya menatap Cladia dan tersenyum ke arah Cladia dan menatapnya dengan hangat, kembali bertanya kepada Cladia yang baru saja membalas senyum dari Ornado yang melirik ke arahnya barusan.
“Al memang sejak awal tidak pernah ragu mengatakan tentang cintanya padaku. Bahkan di pertemuan kami setelah 15 tahun berpisah, dia yang datang ke rumahku langsung saja berniat memelukku ketika kami bertemu, padahal waktu itu aku sudah melupakan keberadaannya karena terlalu lama berpisah darinya. Sedangkan Al, tidak pernah melupakanku sama sekali." Cladia berkata sambil tersenyum kecil mengingat bagaimana kaget dan takutnya dia waktu itu, untung saja, Ornado yang sejak awal begitu mencintainya langsung menahan dirinya dan mengurungkan niatnya begitu melihat penolakan Cladia karena traumanya pada laki-laki.