
“Ernest, menurutmu apa yang ingin dibicarakan Janeta dengan kita?” Begitu Tira sudah duduk di dalam mobil, dan Ernest mulai melajukan mobil yang dikemudikannya, gadis itu langsung bertanya kepada Ernest, seolah Ernest pasti bisa menjawab pertanyaannya.
“Aku tidak tahu. Sepertinya kamu sudah menyamakanku dengan seorang peramal, yang bisa tahu isi hati dan pikiran orang lain saja.” Ernest berkata sambil tersenyum kecil, melirik ke arah Tira yang jadi ikut tersenyum karena kata-kata Ernest barusan.
“Karena biasanya, kamu bsia menebak niat seseorang dengan tepat.” Tira berkata sambil membalas senyuman Ernest.
“Aku sungguh tidak tahu apa yang ingin dibicarakan Janeta dengan kita, tapi dari yang aku lihat, sepertinya Janeta terlihat gelisah dan seperti orang ketakutan, Mungkin ada hal buruk yang sedang terjadi padanya. Kita dengarkan saja nanti bersama-sama.” Ernest berkata dengan nada seriusnya, membuat Tira sedikit terdiam, karena suasana serius itu membuatnya teringat kembali dengan seniornya yang mengalami kecelakaan waktu itu.
“Tapi dibandingkan dengan Janeta, aku masih sangat penasaran dengan apa yang akan kamu katakan tadi sebelum kita mengikuti kelas pak Romeo…”
“Eh…” Tira langsung menoleh ke arah Ernest, karena tidak disangka-sangka olehnya, ternyata Ernest sedang memikirkan hal yang sama dengannya, entah itu sengaja atau tidak, tapi membuat dada Tira berdebar cukup keras, karena kesamaan hal yang dipikirkannya dengan Ernest, seolah memang mereka ditakdirkan untuk bersama sebagai sepasang kekasih yang saling mengerti dan saling mencintai.
“Kenapa?” Ernest langsung bertanya begitu melihat reaksi Tira.
“Tidak apa-apa, aku hanya merasa begitu bersyukur sudah menjadi kekasihmu, dan bisa merasakan cinta yang berlimpah yang kamu berikan untukku.” Tira berkata sambil tersenyum kecil, karena wajah Ernest terlihat tidak puas denga napa yang baru saja dikatakannya.
__ADS_1
“Ernest… sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku. Entah benar atau salah, tapi itu membuatku khawatir.” Tira yang sudah kembali memikirkan tentang apa yang terjadi pada seniornya kala itu, berkata kepada Ernest dengan wajah kembali serius.
“Sebenarnya apa yang membuat kamu terlihat khawatir seperti itu?” Pertanyaan Ernest selanjutnya, akhirnya membuat Tira menceritakan semua yang dia dengar tentang seniornya waktu itu, meskipun Tira tidak menceritakan tentang teman sekelasnya yang juga tiba-tiba menghilang, karena memang untuk masalah itu Tira tidak pernah mendengar desas desus apapun.
Beberapa kali Ernest tampak menarik dan menghela nafasnya mendengar cerita dari Tira meskipun selama Tira bercerita, tidak sekalipun Ernest bertanya atau memotong perkataan Tira.
Begitu Tira selesai bercerita, tangan Ernest langsung terulur ke arah kepala Tira, lalu mengelus rambut gadisnya itu dengan lembut, dan sentuhan itu berhasil memberikan rasa tenang yang mengalir lembut dalam hati Tira, meskipun Ernest belum mengucapkan sepatah katapun padanya.
“Pasti berat untukmu mendengar desas-desus seperti itu. Tapi percayalah, bahwa semua itu bukanlah kesalahanmu. Memang jika itu perbuatan Luis, dia yang harus membayar dan mempertanggungjawabkannya, sedangkan kamu tidak ada hubungannya dengan itu…” Ernest menghentikan perkataannya sebentar.
“Tidak ada yang salah, kalau ada laki-laki yang tertarik padamu, bahkan itu berlaku juga untuk Luis, karena kamu adalah gadis yang benar-benar cantik dan istimewa. Sulit bagi pria normal untuk tidak jatuh cinta padamu.” Kali ini Ernest melanjutkan bicaranya sambil tersenyum dengan tatapan penuh cinta kepada Tira.
“Tenang saja, aku tahu bagaimana harus menjaga diriku sendiri. Percayalah padaku, aku akan bisa menghadapi Luis dengan baik. Dia hanya seorang psikopat, tapi dia bukan seorang petarung. Dia tidak akan mungkin dengan mudah mengalahkan seorang petarung seperti aku dan para pengawal kerajaan yang lain. Dia bukan tandingan kami.” Ernest berkata dengan sikap percaya dirinya.
“Aku sengaja berdiam diri untuk saat ini, bukan karena aku takut menghadapinya. Justru aku sedang berusaha keras menahan diriku agar tidak menghajarnya karena sudah berani melakukan teror padamu. Hanya saja… aku lebih memilih untuk menunggu dia beraksi, sehingga ada bukti kuat untuk mengirimnya ke penjara dalam waktu lama, bahkan jika saja bisa, seumur hidupnya, agar dia tidak membahayakan kehidupan orang lain.” Kata-kata Ernest membuat Tira merasa sedikit lebih tenang dan tidak lagi merasa khawatir.
__ADS_1
“Kita hanya perlu menunggu sebentar lagi, karena feelingku menyatakan bahwa dia sudah begitu tidak sabar untuk bertindak….” Ernest langsung menggantung perkataannya begitu mendengar adanya sebuah panggilan telepon di hadphonenya, dimana di layar handphone itu tertulis nama pangeran Enzo Adalvino dengan begitu jelasnya.
Dengan cepat, tangan Ernest langsung bergerak meraih headset Bluetooth miliknya, agar dia bisa menerima panggilan telepon tanpa mengganggu aktifitas menyetirnya, karena mengemudi sembari menerima panggilan telepon adalah hal yang benar-benar dilarang karena merupakan tindakan berbahaya bagi pengemudi lain dan pengemudi itu sendiri.
“Selamat siang Pangeran Enzo.”
“Selamat siang Ernest.” Dengan cepat dan suara terdengar tidak sabar, Enzo langsung menjawab sapaan Ernest.
“Aku baru saja datang ke kantor polisi bersama Evan untuk menerima penjelasan dan hasil penyelidikan Robin.” Perkataan Enzo membuat Ernest sedikit melirik ke arah Tira yang tampak menyandarkan tubuhnya dengan memejamkan matanya, seolah sedang berusaha menikmati suasana saat ini, sambil menunggu Ernest yang sedang melakukan panggilan telepon dengan Enzo, kakak sepupunya.
“Dari hasil berita acara pemeriksaan pihak kepolisian, Robin mengakui semua teror yang dilakukan olehnya terhadap Tira, yang tentu saja sebagian tidak dia akui, karena kemungkinan besar memang Luis yang melakukan teror itu….” Enzo menghentikan bicaranya sambil menarik nafas panjang.
“Sepertinya, Robin tidak tahu menahu tentang Luis yang juga sering melakukan teror pada Tira, dan akau sengaja tidak berujsaha membahas teror yang lain, agar polisi menjadi curiga, dan justru aku yang akhirnya harus menjalani penyelikdikan dari polisi.” Enzo menyambung perkataannya, dengan mengingat bagaimana dulu dia cukup banyak menghabiskan waktu di kator polisi Renhill karena kasus mantan kekasih Melva yang merupakan penipu kelas kakap dan berhasil dijebak oleh tim Alvero yang menyamar dengan totalitas tinggi.
“Lebih baik memang kita tidak perlu mengatakan kecurigaan kita tentang Luis, agar ke depannya saya bisa bergerak bebas untuk menangkapnya dan menyerahkannya ke tangan polisi Pangeran Enzo….”
__ADS_1
“Betul Ernest. Aku setuju sekali dengan pendapatmu itu. Kamu dan Erich, memang selalu bisa diandalkan. Tidak heran kalau Ornado pun mengincar kalian berdua.” Enzo berkata sambil tertawa geli, mengingat Ornado yang seringkali menggoda erich dan Ernest agar meninggalkan Gracetian dan bergabung dengannya.
Meskipun seringkali itu terdengar sebagai sebuah candaan, tapi Enzo yakin, jika Erich atau Ernest menganggapnya serius dan benar-benar pergi untuk bergabung dengan pasukan Ornado, sahabatnya itu pasti dengan senang hati akan menerima kedatangan Erich maupun Ernest, dan mungkin akan langsung memberikan posisi kepemimpinan yang tinggi untuk mereka di dalam pasukannya.