
Selama pelajaran dimulai, Tira tampak beberapa kali harus menahan debaran di dadanya karena sadar bahwa Ernest sedang duduk di belakangnya, mengamatinya dengan leluasa, sedang dia sendiri tidak bisa seenaknya memandang ke arah Ernest karena tidak mungkin dia sering-sering menoleh ke belakang, yang pasti akan membuatnya diperhatikan oleh banyak orang.
Meskipun beberapa kali Tira ingin menoleh ke belakang, dia harus bener-benar menahan dirinya agar tidak melakukan itu.
“Ah… akhirnya selesai juga. Oahem…” Anna berkata dengan wajah ceria begitu dosen pengajar mereka meninggalkan ruang kelas, meskipun Anna mengakhiri kata-katanya sambil menguap lebar, karena terus terang sebenarnya sepanjang kuliah berjalan, Anna sudah begitu keras menahan kantuknya.
Bukannya tanpa alasan Anna melakukan hal seperti itu, karena memang dosen yang barusan mengajar mereka termasuk dosen yang cara mengajarnya sungguh membuat para mahasiswa didiknya merasa mengantuk, dan justru tidak mengerti dengan apa yang sedang diajarkannya.
Dengan suara kecil seperti orang yang sedang bergumam, intonasi suara yang rendah, dan juga tubuh yang selalu menghadap ke arah layar bertuliskan materinya, tidak mau memandang ke arah para mahasiswa yang sedang diajarnya, membuat mata kuliah dosen itu menjadi tidak menarik.
Namun sayangnya, mata kuliah yang diajarkan oleh dosen itu adalah mata kuliah wajib yang membuat para mahasiswa tidak bisa menghindari kelasnya.
(Matakuliah wajib adalah matakuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa. Mata Kuliah Wajib merupakan kelompok mata kuliah yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa dalam penguasaan keahlian bidang studi atau bidang ilmu yang terkait dengan subjek yang dipelajari).
Begitu sadar kalau kelas sudah berakhir, Tira segera membereskan buku-bukunya, dia masukkan dalam tas kuliahnya, dengan posisi memiringkan tubuhnya ke samping, sambil mencari-cari kesempatan melirik ke arah Ernest yang memang sedang menatap ke arahnya, sehingga mata mereka sempat bersirobok dan membuat Ernest langsung tersenyum sambil mengangguk hormat kepadanya, menyebabkan dengan buru-buru Tira mengalihkan pandangan matanya.
Tira tampak semakin menundukkan kepalanya karena wajahnya yang tiba-tiba terasa memanas dan membuatnya yakin kalau saat ini wajahnya sedang memerah karena peristiwa barusan.
__ADS_1
Kenapa denganku? Bukankah Ernest adalah pengawal pribadiku? Jadi sudah seharusnya dia sering menatap ke arahku untuk bisa mengawasiku… tapi kenapa tatapannya membuatku salah tingkah? Apa ada yang salah denganku?
Tira berkata salam hati sambil menarik resleting tasnya begitu semua barang-barangnya sudah masuk semuanya ke dalam sana.
Dengan gerakan pelan, Tira menepuk-nepuk kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya sendiri, seolah berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya.
“Kenapa denganmu Tira? Apa kamu baik-baik saja?” Anna yang sebelumnya tidak pernah melihat tingkah aneh Tira, langsung bertanya dengan sedikit menurunkan kepalanya, agar bisa melihat dengan lebih jelas wajah Tira aygn masih tertunduk.
“Eh?” Tira langsung mendongak begitu mendengar pertanyaan dari Anna yang tampak terlihat mengkhawatirkannya.
“Lho… wajahmu sedikit memerah. Apak amu demam?” Sambil bertanya, tangan Anna bergerak menempelkan punggung telapak tangannya ke dahi Tira, membuat Tira memundurkan kepalanya sambil menangkap pergelangan tangan Anna.
“Apa ada masalah denganmu?” Pertanyaan Ernest membuat Tira sedikit menelan ludahnya, dan berpura-pura kembali sibuk membuka tasnya kembali, mencari-cari sesuatu agar tidak terlihat bahwa saat ini dia sedang berusaha mengalihkan perhatiannya.
Bagi Tira saat ini, entah kenapa sosok Ernest membuat wajahnya mudah merasa panas, dengan dada yang langsung bereaksi dengan detakan kerasnya begitu menyadari sosok Ernest sedang menatapnya.
Ini pasti efek karena selama ini aku belum pernah memiliki pengawal pribadi yang setiap waktu mengawasiku seperti Ernest. Ya.... pasti itu alasannya.
__ADS_1
Tira mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berkata-kata dalam hatinya.
“Tira… Ernest bertanya padamu itu…” Suara Anna kembali membuat lamunan tira terputus, dan mau tidak mau membuatnya mengangkat kepala dan menatap kembali ke arah Ernest yang masih dengan setia mengarahkan pandangan matanya ke arah Tira.
“Tidak ada masalah, aku hanya merasa ada barangku yang tertinggal, tapi ternayta tidak.” Dengan keras Tira berusaha bersikap sebiasa mungkin, dengan suara yang dipaksakan olehnya terdengar setenang mungkin, membuat Ernest sedikit mengenryitkan dahinya, karena sedikit banyak Ernest yang terbiasa menjadi pengamat selama menjadi pengawal pribadi Alvero, tahu bahwa Tira sedang berusaha menutupi sesuatu darinya.
“Oke kalau begitu. Sampai ketemu lagi.” Meskipun masih merasa penasaran, akhirnya Ernest berpamitan untuk sementara seolah-olah menjauh dari Tira, agar sikapnya tidak mencolok di depan mahasiswa lain sehingga menimbulkan banyak pertanyaan.
“Anna….” Begitu Ernest tidak lagi ada bersama mereka, Tira langsung memanggil Anna yang tampak sibuk dengan handphonenya.
“Mmmm… kenapa Tira?” Tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar handphonenya, Anna menjawab panggilan Tira.
“Besok kita pergi ke mall ya.” Anna langsung menoleh begitu mendengar ajakan dari Tira.
“Apa kamu sedang mencari-cari kesempatan untuk bisa bersama dengan Ernest?” Sambil terkikik geli, Anna bertanya kepada Tira yang langsung menoleh ke arah Anna.
“Pikiranmu semakin ngawur saja sepertinya. Besok aku akan meminta yang lain yang mengawalku, bukan Ernest. Biarkan Ernest melakukan persiapan untuk tugas kelompok kami.” Tira menjawab pertanyaan Anna dengan cepat.
__ADS_1
“Apa mereka yang lain juga setampan Ernest?” Pertanyaan Anna selanjutnya membuat Tira menjitak kepala Anna.
“Pikirkan saja kekasihmu, jangan laki-laki lain. Otakmu itu, selalu saja bergeser saat melihat laki-laki tampan, padahal sudah punya kekasih.” Kata-kata Tira hanya bisa membuat Anna meringis tanpa bisa membantahnya.