
“Ernest… apa kamu tahu kalau jalan kita tidak akan mudah di depannya?”
“Aku tahu pasti tentang itu, lebih dari siapapun.” Ernest menjawab pertanyaan Tira sambil menghela nafasnya, tapi sesaat kemudian Ernest tampak memandang Tira dengan lembut.
“Tapi semuanya itu, tidak sebanding dengan cinta yang sudah kamu berikan padaku. Diantara kita, kamulah yang paling mencintaiku, sehingga berani untuk tetap melangkah meskipun tahu karena itu kamu akan mengalami banyak kesulitan.” Ernest berkata dengan matanya yang melirik dengan penuh cinta sosok Tira yang duduk di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ernest.
Tira yang mendengar pujian Ernest untuknya, tampak menyungingkan senyum bahagianya.
Tidak aku sangka, akhirnya, aku benar-benar mendapatkan pengakuan cinta darimu. Menjadi kekasihmu… aku tidak akan pernah menyesal akan hal itu, meskipun mungkin, aku harus mendapatkan kemarahan papaku dan keluarga yang lain.
Tira berkata dalam hati sambil bergerak menjauhkan tubuhnya dari Ernest, membuat laki-laki itu langsung memandangnya dengan wajah bertanya-tanya.
“Ernest… bisakah aku meminta sesuatu padamu?” Dengan sikap ragu, Tira bertanya kepada Ernest yang langsung tersenyum padanya.
“Kira-kira permintaan apa yang akan aku tolak jika itu kamu yang memintanya?” Jawaban Ernest membuat wajah Tira sedikit memerah, namun sebentar kemudian wajah Tira kembali serius.
“Apa yang akan kamu minta dariku? Kenapa sikapmu terlihat serius sekali?” Pertanyaan Ernest membuat Tira menahan nafasnya sebentar sambil menggigit bibirnya, karena saat ini sebenarnya, Tira merasa sangat ragu untuk mengatakan keinginannya pada Ernest.
__ADS_1
“Berjanjilah padaku, kalau kamu tidak akan marah, dan kecewa dengan permintaan yang akan aku ucapkan padamu ini.” Tira berkata dengan tatapan penuh harap pada Ernest.
“Seberat apa permintaanmu? Kenapa kamu terlihat begitu gelisah dan ragu untuk mengatakannya?” Ernest kembali bertanya sambil tangannya terulur, mengelus wajah Tira dengan buku-buku jarinya, membuat Tira bisa merasakan bagaimana tulus dan besarnya cinta Ernest padanya melalui sentuhan itu.
“Maaf Ernest… untuk beberapa saat ini, bisakah kita menyembunyikan tentang hubungan kita di depan semua orang? Termasuk kak Alvero, kak Deanda, dan juga Erich, maupun orang-orang dekat kita yang lainnya.” Akhirnya kata-kata itu keluar dari bibir Tira, yang tentu saja membuat Ernest sedikit terhenyak.
“Apa kamu malu jika harus mengakui….”
“Tidak! Aku tidak akan pernah malu mengakuimu. Kamu adalah laki-laki yang aku cintai dan aku banggakan….”
“Tidak Ernest! Tolong jangan berpikir yang macam-macam tentangku. Aku sungguh benar-benar mencintaimu dan tidak akan pernah melepaskanmu. Hanya saja, aku butuh waktu dan juga mencari cara untuk mengatakan yang sebenarnya kepada papa dan yang lain, agar mereka bisa menerima keputusanku untuk kita bisa bersama hingga kita menikah kelak.” Tira langsung berusaha memberikan penjelasan kepada Ernest, sebelum Ernest salah paham dengannya karena permintaannya barusan.
“Aku… sungguh mencintaimu Ernest… dan aku tidak akan bisa menghadapi kenyataan jika semua orang menentang kita, dan pada akhirnya berusaha memisahkan kita… aku belum siap untuk itu.” Tira berkata dengan suara lirih.
Ernest bisa melihat bagaimana Tira mengatakan hal itu dengan nada takut, menunjukkan kalau Tira benar-benar tidak siap jika harus terpisah darinya untuk saat ini, membuat Ernest menghela nafasnya.
“Tolong… beri aku waktu Ernest… jika saat ini semua orang langsung tahu tentang kita dan langsung menentang kita, aku belum siap Ernest… maaf… maaafkan aku. Bukan maksudku untuk tidak mengakuimu sebagai kekasihku, tapi….”
__ADS_1
“Hust… tenanglah Tira… tenanglah….” Ernest berkata sambil memeluk Tira kembali, dan mengelus-elus bagian belakanag kepala Tira, sebelum akhirnya Ernest mencium puncak kepala Tira dengan penuh kasih sayang begitu melihat sikap panik Tira.
“Aku tidak merasa keberatan sedikitpun tentang hal itu, karena bukan hanya kamu, aku juga harus mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap orang dekat kita yang akan menentang hubungan kita, termasuk Erich, yang sejak awal tidak suka saat tahu aku sudah jatuh cinta padamu.” Ernest berkata lembut pada Tira, yang hanya bisa menggigit bagian bawah bibirnya begitu mendengar dari bibir Ernest, bahwa Erich juga pasti akan menentang hubungan mereka.
“Kita harus saling menguatkan. Kamu bisa menunda mengatakan secara resmi hubungan kita di depan yang lain, sampai kamu merasa siap.” Ernest kembali berusaha untuk kembali menenangkan Tira yang sedikit menarik nafas lega, mendengar bagaimana Ernest ternyata betul-betul memegang perkataanya, untuk ke depannya akan selalu menjaga dan melindunginya seumur hidupnya.
“Terimakasih Ernest, terimakasih… untuk menjadi seorang kekasih yang begitu baik hati dan perduli denganku….”
“Bukannya masalahmu, mulai sekarang juga akan menjadi masalahku, dan begitu sebaliknya. Mulai saat ini, setiap masalahku juga akan menjadi masalahmu. Jadi jangan kaget kalau suatu ketika kamu menyadari bahwa masalahku jauh lebih banyak dan rumit dari masalahmu.” Ernest mengakhiri kata-katanya sambil tersenyum manis ke arah Tira.
“Aku akan segera menyiapkan diriku untuk menjadi kekuatan bagimu di masa depan.” Janji Tira membuat Ernest tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pelan, bagian belakang kepala Tira.
“Tidak perlu menyiapkan diri, karena selama ini, kamu sudah mejadi sumber kekuatanku,” Perkataan Ernest membuat Tira hanya bisa tersenyum bahagia dengan wajah memerah.
“Kalau begitu… bisakah kita memulai mengerjakan tugasmu sekarang?” Seolah baru saja bangun dari tidurnya, Tira sedikit tersentak begitu mendengar kata-kata Ernest.
“Akh… Untung saja kamu mengingatkanku Ernest… kalau tidak… aku pasti akan mendapatkan nilai E karena tidak mengirim tugas hari ini.” Tira berkata dan dengan sikap terburu-buru, membuat Ernest langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah pianonya, sambil mengikuti Tira, dan berjalan tepat di belakang Tira.
__ADS_1