
“Aku bawa mobilku sendiri. Anna mungkin yang butuh bantuan, karena hari ini aku sudah ada rencana untuk merapikan rambutku di salon, dan aku sudah melakukan reservasi.” Perkataan Tira membuat Anna menoleh kaget ke arahnya, sedang Tira terlihat sedikit menggedikkan bahunya.
Bukannya tanpa alasan Tira mengatakan hal itu, karena sebenarnya tadi Anna ingin pulang dengan taksi, tapi bagi Tira, tidak ada salahnya jika Anna diantar oleh Robin, yang rumahnya memang searah dengan rumah Anna.
“Eh… Tira… tidak perlu… aku bisa pulang sendiri….” Anna berkata dengan wajah bingung, merasa tidak enak karena dia tahu sebenarnya Robin sengaja menawarkan itu untuk Tira, bukan dia.
“Oke, aku akan mengantar Anna.” Dengan wajah ramahnya, seolah tidak keberatan dengan penolakan Tira padanya, Robin langsung berkata sambil memandang Anna yang wajahnya tampak bingung.
“Ayo Anna, aku akan mengantarmu.” Bagi Robin sendiri, karena memang dia dikenal dengan orang yang ringan tangan, tapi bisa bersama dengan Anna, dia berharap bisa mengorek informasi tentang Tira yang merupakan teman dekat Anna.
“Terimakasih untuk bantuannya Robin. Lain kali kami akan mentraktirmu makan untuk membalasnya.” Lagi-lagi, kata-kata Tira membuat Anna merasa kaget bercampur kikuk.
“Jangan bicara seperti itu. Tanpa mengantar Anna, aku juga akan melewati depan rumah Anna saat perjalanan pulang, jadi tidak masalah kalau aku bisa sekalian mengantar Anna. Tapi aku tidak akan menolak traktiran itu demi pertemanan kita.” Robin berkata sambil tertawa kecil, membuat Anna sedikit menghela nafasnya.
Robin ini… sebenarnya mirip sekali karakternya dengan tipe laki-laki idaman Tira. Apa lebih baik aku menjadi perantara untuk mereka berdua ya?
Tiba-tiba sebuah pemikiran timbul di hati Anna begitu dia lebih memperhatikan bagaimana sikap ramah, ringan tangan dan perduli dari Robin.
__ADS_1
Sepertinya itu bukan ide buruk. Aku akan coba mengorek info dari Robin tentang gadis idamannya, apakah sesuai dengan karakter Tira.
Anna kembali berkata dalam hati sebelum akhirnya memandang ke arah Tira.
“Kalau emmang Robin tidak keberatan, aku akan sangat berterimakasih kalau Robin bersedia mengantarku.” Anna berkata sambil melemparkan senyum ke arah Robin yang langsung tersenyum lebar.
“Memang apa yang bisa menjadi alasanku untuk tidak bersedia mengantarmu pulang Anna? Jangan berpikir macam-macam.” Robin berkata dengan sikap santai dan nada suara ringan, membuat Anna jadi merasa tenang dan tidak lagi sungkan.
“Oke kalau begitu. Aku pergi dulu, ini sudah hampir waktunya aku harus ke salon.” Tira berkata sambil menepuk bahu Anna yang langsung menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kamu memperlakukan Tira seperti anak kecil?” Begitu Anna dan Robin duduk berdampingan di dalam mobil, dan mereka sudah berada di jalanan yang cukup lenggang, Robin tiba-tiba saja bertanya kepada Anna.
“Eh, apa maksudmu dengan memperlakukan Tira seperti anak kecil?” Anna langsung bertanya balik sambil melirik ke arah Robin yang sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Tadi sebelum berpisah darinya, kamu bahkan seperti nenek-nenek yang memberikan nasehat kepada cucunya yang masih SD untuk selalu menutup pintu dan jendela rumah dengan baik.” Robin berkata sambil meringis, karena merasa geli dengan kata-kata Anna pada Tira tadi.
“Kamu tidak tahu saja kalau Tira memang harus melakukan itu agar dia selalu aman. Ah… maksudku supaya dia bisa tidur dengan nyaman di tempat sebesar itu sendirian.” Anna langsung mengalihkan pembicaraan begitu sadar dia sudah terlalu banyak bicara pada Robin tentang hal yang tidak seharusnya dia bicarakan pada teman kampusnya yang pada dasarnya belum terlalu dekat dengannya itu.
__ADS_1
Aku tidak boleh sembarangan menceritakan masalah Tira pada orang lain. Bahaya! Itu benar-benar bahaya. Aduh… kenapa sih aku ini ceroboh sekali masalah mulutku ini.
Anna mengomeli dirinya sendiri dalam hati.
"Memangnya kenapa? Apartemen mewah temapt tinggal Tira, menurutku pasti keamanannya terjamin." Robin menanggapi kata-kata Anna sambil menggerakkan tuas persnelling ke posisi normal karena mereka sedang berhenti di lampu merah.
"Ah, masalah itu.... sejak kecil Tira biasa diperlalukan seperti putri dan tidak pernah tinggal sendirian. Orangtuanya kadang merasa khawatir saat Tira tinggal di apartemen tanpa ada yang menemani. Aku jadi terikut sering mengingatkan Tira masalah bagaimana menjaga keamanan temapt tinggalnya." Anna buru-buru mencari alasan agar mulutnya tidak mengatakan apapun tentang peneror Tira pada Robin atau siapapun.
"Ooo, begitukah? Apa Tira tidak punya keluarga yang ada di Amerika?"
"Tira adalah anak tunggal, dan sebenarnya orangtuanya tidak setuju kalau dia mengambil jurusan musik. Untung saja kakak sepupunya dapat membantu meyakinkan orangtuanya terhadap pilihan Tira." Robin tampak mengangguk-anggukkan kepalanya pelan mendengar cerita dari Anna tentang Tira.
"Kakak sepupunya pasti orang yang begitu dipercayai dan dihormati oleh orangtua Tira, sampa-sampai mereka mau mengalah dengan urusan masa depan Tira...."
"Tentu saja, kakak sepupu Tira kan seorang Rrrrr...." Anna buru-buru menghentikan bicaranya begitu sadar dia hampir saja menyebutkan bahwa kakak sepupu Tira adalah seorang raja Gracetian ynag tentunya memiliki pengaruh besar dan kekuasaan tinggi.
"Kenapa dengan kakak sepupu Tira?" Robin bertanya sambil kembali mengubah posisi tuas persnelling mobilnya pada posisi siap untuk berjalan kembali.
__ADS_1