
“Ma… darimana Mama mendapatkan benda itu?” Tira bertanya dengan suara ragu.
“Mama mendapatkannya dari petugas keamanan apartemen yang mengirimkannya ke tempat ini.” Ava menjawab pertanyaan Tira dengan tatapan mata penuh selidik ke arah Tira.
Sungguh celaka! Ini berarti peneror itu sekarang bahkan tahu dimana tempat tinggalku. Apa maunya pengecut itu? Benar-benar orang yang menakutkan.
Tira berkata dalam hati dan mencoba berpikir dengan cepat jawaban apa yang bisa membuatnya terhindar dari kecurigaan kedua orangtuanya.
“Mungkin itu paket untuk orang lain yang salah alamat Ma. Nanti aku akan menanyakannya pada pihak keamanan yang bertugas hari ini….”
“Tidak mungkin salah. Kami memang lancang, tapi kami adalah orangtua yang tidak ingin terjadi hal buruk padamu. Tadi kami membukanya dan di dalam kotak itu, terselip sebuah kartu ucapan yang jelas-jelas menyebutkan namamu. Bahkan dia menyebutkan kampus tempatmu kuliah, jadi tidak mungkin kado ini adalah kado salah alamat.” Ava langsung menyanggah jawaban Tira.
“Ah ya Ma, mungkin….”
“Tira! Apa yang sebenarnya berusaha untuk kamu sembunyikan dari kami?” Pertanyaan balik dari Victor membuat nyali Tira semakin menciut dan sulit untuk memikirkan jawaban untuk membuat kedua orangtuanya tidak terus mencercanya.
“Maaf Pa… Tira bukannya sengaja ingin menyembunyikannya, tapi….”
__ADS_1
“Sejak kapan orang gila ini mengirimkan kado seperti ini?” Victor berkata sambil meraih kado itu dari tangan Ava, dan meletakkannya dengan sedikit kasar di atas meja, sehingga tutupnya sedikit terbuka.
Meskipun Tira tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam kotak berwarna merah muda itu, meliaht wajah kesal papanya, Tira sudah bisa menebak benda di dalam kotak itu bukanlah benda yang cukup indah untuk dilihat.
Apalagi dua kado sebelumnya yang diterima Tira, terlihat sedikit mengerikan dan membuat bulu kuduknya merinding saat pertama kali melihatnya.
“Papa yakin ini bukan pertama kalinya kamu mendapatkan kado ini. Jadi sejak kapan kamu mengalami teror seperti ini? Kenapa tidak eprnah menceritakannya pada kami?” Victor kembali mengulang pertanyaan yang membuat dada Tira semakin berdetak kencang dan tidak nyaman, juga bingung bagaimana dia harus menjawab pertanyaan itu.
“Tira… duduklah terlebih dahulu.” Ava yang pada akhirnya tidak tega melihat wajah bingung dan pucat dari Tira, akhirnya menarik tangan Tira, mengajaknya duduk agar mereka bsia berbicara dengan lebih tenang.
“Katakan pada kami, apa yang sebenarnya terjadi. Jangan membuat kami menjadi khawatir seperti ini.” Ava mencoba berkata dengan sikap tenang, agar Victor bisa meredam emosinya.
“Hah….” Victor mendeeee...sssahh pelan sambil menghela nafas panjang begitu mendengar cerita dari Tira tentang bagaimana selama beberapa waktu ini dia banyak mendapatkan kado dan pesan tidak bertuan dari orang yang jelas-jelas memiliki masalah dengan kejiawaannya saat Victor mendengar cerita itu.
“Masalah sepenting itu. Seharusnya kamu menceritakan semuanya kepada kami sejak awal.” Ava langsung berkata begitu Tira mengakhiri ceritanya.
“Aku masih menunggu waktu yang tepat Ma, dan berusaha untuk menyelesaikannya sendiri terlebih dahulu….”
__ADS_1
“Memang apa yang bisa kamu lakukan dengan masalah ini? Sejak dulu kamu paling sulit untuk menerima kehadiran pengawal untukmu, padahal sejak awal aku selalu bilang, kalau kamu itu adalah putri Gracetian, dimana latar belakang statusmu, bisa menjadi masalah jika ada orang yang berniat jahat padamu….” Victor langsung memutus perkataan Tira dan menyambungnya dengan omelan panjang.
“Victor….” Ava berusaha untuk menenangkan Victor yang terliaht emosi, meskipun kemarahan Victor karena dia begitu perduli pada anak gadisnya.
“Aku tidak bisa membiarkan ini begitu saja. Besok lusa, kamu harus ikut kami pualng ke Gracetian.” Mata Tira langsung terbeliak sempurna mendengar keputusan Victor.
“Pa…. tapi bagaimana dengan kuliahku? Waktu liburanku masih lama, dan aku harus mempersiapkan konser amal bersama grup band terkenal, dan aku sudah menandatangani kontraknya.” Tira langsung berkata dengan wajah memelas, karena baginya, konser itu adalah salah satu hal untuk membuktikan pada kedua orangtuanya tentang bakat dan kemampuannya di dunia musik.
Dan itu adalah kesempatan Tira untuk membuat orangtuanya mengakui tentang bakat besarnya dalam dunia musik.
“Tidak bisa Pa. Aku harus tetap melanjutkan kuliahku. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan belajarku kan? Itu hanya tindakan orang aneh yang tidak jelas asal usulnya….”
“Dan orang aneh itu bisa membahayakan keselamatan jiwamu jika dibiarkan beegiktu saja!” Jawaban teegas dari Victor membuat Tira terdiam dan menundukkan wajahnya, dengan perasaan yang bercampur aduk.
Setelah Tira berjuang dan dengan bantuan Alvero berhasil meyakinkan kedua orangtuanya untuk memilih kuliah di jurusan musik, sekarang tiba-tiba karena perbuatan orang tidak bertanggung jawab dan tidak jelas asal usulnya membuat Tira harus meninggalkan kuliah yang beegitu disukainya, tentu saja ada rasa tidak rela yang begitu besar di hati Tira saat ini.
“Aku mohon Pa, ijinkan aku untuk tetap….”
__ADS_1
“Tidak bisa! Aku tidak akan mengijinkanmu.” Victor langsung menjawab dengan suara cukup keras, membuat Ava menarik nafas panjang.
“Tira, ikutilah kata-kata papamu. Kita akan coba cari jalan keluarnya bersama-sama di Gracetian nanti. Di sana ada banyak keluarga kita yang bisa membantu memikirkan jalan keluar dari masalahmu.” Ava akhirnya mencoba menjadi penengah diantara Tira dan Victor.